Tampilkan postingan dengan label Tradisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tradisi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 April 2012

SEDEKAH DUSUN LENDOH 2012

Sedekah Dusun Lendoh 2012-Karnaval Budaya Dusun Lendoh,Bedono,Jambu

Sedekah Bumi atau Sedekah Dusun merupakan sebuah wujud syukur masyarakat setempat pada apa yang telah di peroleh, sebagai perwujudan bentuk doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atau pada pangreksa bumi untuk kelestarian dan kesejahteraan semua yang ada di dalamnya. Bentuk ritual adat yang dilakukan oleh masrakat dusun Lendoh ini meliputi berbagai hal, dan di selenggarakan setiap tahun, namun ritual adat sedekah dusun lendoh dirayakan secara besar-besaran setiap dua tahun sekali.


Seperti halnya tradisi sedekah dusun yang di lakukan oleh masyarakat dusun lendoh kelurahan Bedono pada hari Rabo Wage bulan Jumadil awal, rupanya menarik perhatian banyak orang, karena semua anggota masyarakat turut terlibat di dalamnya tanpa terkecuali para pengendara yang melintas di jalan raya Semarang-Jogja. Perayaan sedekah dusun lendoh di rayakan dengan berbagai pertunjukan yang tersebar di seluruh RT di Dusun Lendoh, dan kebetulan perayaan kali ini RT 03 sebagai tuan rumah/penyelenggara, sehingga semua bentuk kegiatan berpusat di RT 03. Pada awal acara, pagi hari mulai diadakan sebuah ritual denga bentuk selamatan yang di lakukan oleh seloruh warga, dan pada siang harinya di lanjutkan dengan pertunjukan atau pagelaran Wayang Kulit. Di sela pertunjukan Wayang Kulit di gelar, masyarakat lendoh mempersiapkan diri untuk melakukan pawai arak-arakan atau karnaval. Karnaval perayaan kali ini mulai dari Dusun Lendoh melewati rute jalan raya Semarang-Jogja, pasar bedono, Dusun Candi, dan kembali lagi ke Dusun Lendoh sebagai star sekaligus menjadi finish/akhir dari arakan-arakan.

Sementara, urutan dari pawai karnaval kali ini yaitu :
1. Sepanduk Dusun.
2. Bendera Merah-Putih Dan Garuda Pancasila.
3. Pejabat Dan Perangkat Desa/Dusun.
4. Gunungan Tumpeng Agung.
5. Gunungan Tumpeng Palawija Dan Pengiring.
6. Gunungan Tumpeng Buah.
7. Icon Kerbau.
8. Barongsai.
9. Gagar Mayang.
10. Drum Band SMA-Sudirman.
11. Cerry Bell Anak-Anak.
12. Pertanian/Hasil Bumi/Replika Jagung.
13. Reog Dari Temanggung.
14. Pertanian/Hasil Bumi/Replika Lombok.
15. Elang Hitam dari Tegal Rejo.
16. Pertanian/Hasil Bumi/Replika Ketela.
17. REog Dari Kwayahan.
18. Peternakan/Hasil Peternakan/Replika Patung Sapi.
19. Menak Koncer dari Gemawang.
20. Peternakan Bulus.
21. Topeng Ireng dari Jenganti.
22. Gagar mayang.
23. Thek-thek Ibu-ibu/Kesenian tetek.
24. Reog Dari Wawar Kidul.
25. Berbagai Badut Dan lain-lain.
26. Drum Band MTS Grabag.
27. Keagamaan/Katolik.
28. Reog Bedono Krajan.
29. Keagamaan/Islam/Langgar/Masjid/Replika Ka’bah dan Al-Qur’an.
30. Reog Dari Tuk Bugel.
31. Aneka Kebudayaan Jawa.
32. Topeng Ireng dari Josari.
33. Konvoi Sepeda Hias.
34. Konvoi Sepeda Motor.
35. Mobil Hias/TK-ABA.
36. Mobil Hias/Umum.
37. Mobil PPPK.

Setelah Semua arakan-arakan ini selesai, semua aktivitas di hentikan karena telah menjelang magrib. Dan untuk selanjtnya, yang menjadi puncak acara dalam rangka Sedekah Dusun ini adalah Pagelaran Wayang Kulit semalam suntuk. Kemudian, pada hari minggu ada pertunjukan Tari Angguk di lanjutkan pertunjukan campur sari pada malam harinya, dan pada hari minggu selanjutnya masih ada pertunjukan reog.

Nah, begitulah rangkaian acara dan karnaval sedekah dusun lendoh 2012 yang sempat saya catat di sela perjalanan saya dari jogja menuju jepara pada saat mampir ke tempat teman yang kebetulan sedang ada ritual sedekah bumi ini, semoga bisa bermanfaat dan bisa menjadi motivasi bagi desa-desa di tanah air demi kelestarian bidaya dan tradisi di negeri ini.

Senin, 02 April 2012

Dolalak (Tarian Khas Purworejo)

Dolalak (Tarian Khas Purworejo).
Kesenian rakyat asli purworejo ini hampir mirip dengan Tari Angguk yang berkembang di daerah perbatasan Yogyakarta, mungkin karena keadaan kultur sosial budaya dimana sebuah kesenian itu berkembanglah yang neyebabkan Seni Tari Dolalak ini menyerupai Tari Angguk (purworejo) autaupun Tari Angguk Patumbak.

Definisi Seni Tari Dolalak (Pengertian Tari Dolalak).
Tarian dolalak adalah warisan budaya/peninggalan pada zaman penjajahan Belanda.
Tarian khas kabupaten Purworejo ini merupakan seni tarian rakyat hasil akulturasi budaya barat dan timur, yang hingga kini, telah menjadi salah satu khas yang dimiliki kabupaten Purworejo Jawa Tengah.

Tarian dolalak terbilang unik dan memiliki kekhasan serta daya tarik sendiri, yang boleh jadi tidak ditemukan di dalam seni tari lain. Keunikan tari dolalak terletak pada gerak dansa dan rampak pada barisan, seperti layaknya para serdadu (sekarang mungkin tari poco-poco). Selain itu, aksesoris busana yang dikenakan para penarinya pun bernuansa serdadu Belanda. Mulai dari kostum, asesoris pangkat, rumbai pada baju topi dan kaca mata. Dan dalam pertunjukanya, penari-penari Dolalak bisa mengalami trance, yaitu suatu kondisi mereka tidak sadar karena sudah begitu larut dalam tarian dan music, sehingga tingkah mereka bisa aneh-aneh dan lucu.

Asal-Usul Tarian Dolalak (Asal Mula Tarian Dolalak).
Konon, di kabupaten Purworejo yang merupakan awal kemuculan dan perkembangan dolalak. Dahulu banyak terdapat tangsi atau barak serdadu Belanda. Di saat senggang, untuk melepaskan penat dan lelah setelah bertugas di medan tempur. Serdadu Belanda lalu mengisinya dengan bernyanyi dan menari. Kebiasaan itu, kerap disaksikan warga sekitar tempat tangsi itu berdiri. Dari sanalah akhirnya mulailah warga sekitar, mengemas dan mengembangkannya menjadi sebuah kesenian baru, yang sekarang di sebut Dolalak.

Asal-Usul Nama Dolalak (Asal Mula Nama Dolalak).

Penamaan dolalak sendiri berasal dari notasi Do-La-La yang mengiringi gerak dansa dalam tarian ini. Dalam perkembangannya, iringan musik tarian dolalak menggunakan instrumen musik jidur, terbang, kecer, dan kendang. Sedang untuk iringan nyanyian menggunakan syair-syair dan pantun berisi tuntunan dan nasehat. Isi syair dan pantun yang diciptakan, campuran dari bahasa jawa dan bahasa indonesia sederhana. Dan seiring perkembangan zaman dan teknologi, kemudian tarian Dolalak sekarang sudah diringi dengan musik modern, yaitu keyboard. Lagu-lagu yang dimainkan pun bervariasi dan beragam.

Perkembangan Tari Dolalak.
Tari Dolalak biasa di pertunjukan pada saat ada acara kajatan khitanan dan pernikahan atau pada acara pesta/perayaan tertentu. Dolalak semakin populer di kalangan generasi muda, bahkan sudah melanglang ke beberapa negara di Asia dan Erop, tentunya ini tidak luput dari peran
Pemerintah Daerah Purworejo yang dengan gencar, terus mengembangkan dan melestarikan kesenian asli daerah Purworejo ini. Bahkan di setiap event-event tingkat nasional kesenian Dolalak seringkali tampil sebagai suatu kesenian yang unik. Dan setiap lomba-lomba kesenian tingkat nasional kesenian Dolalak sering menjuarai.

Di tengah banyaknya hasil karya anak bangsa, tai dolalak merupakan karya seni dari Purworejo patut di jaga kelestarianya.

Minggu, 01 April 2012

Tari Angguk-Kesenian Rakyat Kulon Progo

Tari Angguk (Daerah Istimewa Yogyakarta).
Sebenarnya Tari Angguk Itu Apa Sih? .
Tari angguk yang baru saya lihat tadi siang rupanya berbeda dengan Tari Angguk Patumbak dari Patumbak. Meski berbeda tapi memiliki beberapa kemiripan, mungkin karena keadaan kultur sosial dan tempat berkembangnya dua tari angguk inilah yang membuat tari angguk dari Yogyakarta dan Tari Angguk Patumbak ini berbeda. Dan di sini mari kita kaji sedikit tentang tari angguk itu, agar kita tak lalai terhadap khasanah budaya negeri sendiri yang menjadi kekayaan inteltual bangsa.


Asal-usul Tari Angguk.
Kesenian Angguk merupakan satu dari sekian banyak jenis kesenian rakyat yang ada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kesenian angguk berbentuk tarian disertai dengan pantun-pantun rakyat yang berisi pelbagai aspek kehidupan manusia, seperti: pergaulan dalam hidup bermasyarakat, budi pekerti, nasihat-nasihat dan pendidikan. Dalam kesenian ini juga dibacakan atau dinyanyikan kalimat-kalimat yang ada dalam kitab Tlodo, yang walaupun bertuliskan huruf Arab, namun dilagukan dengan cengkok tembang Jawa. Nyanyian tersebut dinyanyikan secara bergantian antara penari dan pengiring tetabuhan. Selain itu, terdapat satu hal yang sangat menarik dalam kesenian ini, yaitu adanya pemain yang “ndadi” atau mengalami trance pada saat puncak pementasannya. Sebagian masyarakat Yogyakarta percaya bahwa penari angguk yang dapat “ndadi” ini memiliki “jimat” yang diperoleh dari juru-kunci pesarean Begelen, Purworejo.

Tarian angguk diperkirakan muncul sejak zaman Belanda1, sebagai ungkapan rasa syukur kapada Tuhan setelah panen padi. Untuk merayakannya, para muda-mudi bersukaria dengan bernyanyi, menari sambil mengangguk-anggukkan kepala. Dari sinilah kemudian melahirkan satu kesenian yang disebut sebagai “angguk”. Tari angguk biasa digelar di pendopo atau di halaman rumah pada malam hari. Para penontonnya tidak dipungut biaya karena pertunjukan kesenian angguk umumnya dibiayai oleh orang yang sedang mempunyai hajat (perkawinan, perayaan 17 Agustus-an dan lain-lain).


Jenis-jenis Angguk dan Pemain.
Tarian yang disajikan dalam kesenian angguk terdiri dari dua jenis, yaitu:

  1. Tari ambyakan, adalah tari angguk yang dimainkan oleh banyak penari. Tarian ambyakan terdiri dari tiga macam yaitu: tari bakti, tari srokal dan tari penutup; dan 
  2. Tari pasangan, adalah tari angguk yang dimainkan secara berpasangan. Tari pasangan ini terdiri dari delapan macam, yaitu: tari mandaroka, tari kamudaan, tari cikalo ado, tari layung-layung, tari intik-intik, tari saya-cari, tari jalan-jalan, dan tari robisari.


Pada mulanya angguk hanya dimainkan oleh kaum laki-laki saja. Namun, dalam perkembangan selanjutnya tarian ini juga dimainkan oleh kaum perempuan. Para pemain angguk ini mengenakan busana yang terdiri dari dua macam, yaitu busana yang dikenakan oleh kelompok penari dan busana yang dikenakan oleh kelompok pengiring. Busana yang dikenakan oleh kelompok penari mirip dengan busana prajurit Kompeni Belanda, yaitu:

  •  baju berwarna hitam berlengan panjang yang dibagian dada dan punggunya diberi hiasan lipatan-lipatan kain kecil yang memanjang serta berkelok-kelok; 
  •  celana sepanjang lutut yang dihiasi pelet vertikal berwarna merah-putih di sisi luarnya; 
  •  topi berwarna hitam dengan pinggir topi diberi kain berwarna merah-putih dan kuning emas. Bagian depan topi ini memakai “jambul” yang terbuat dari rambut ekor kuda atau bulu-bulu; 
  •  selendang yang digunakan sebagai penyekat antara baju dan celana; 
  •  kacamata hitam; 
  •  kaos kaki selutut berwarna merah atau kuning; dan 
  •  rompi berwarna-warni.
 Sedangkan busana yang dikenakan oleh kelompok pengiring adalah:

  •  baju biasa;  
  • jas; 
  •  sarung; dan 
  •  kopiah.


Peralatan musik yang digunakan untuk mengiringi tari Angguk diantaranya adalah:

  •  kendang;
  •  bedug; 
  •  tambur; 
  •  kencreng; 
  •  rebana 2 buah; 
  •  terbang besar dan 
  •  jedor.


Nilai Budaya
Seni apa pun pada dasarnya mengandung nilai estetika, termasuk seni tari angguk.yang ada di kalangan masyarakat Yogyakarta. Namun demikian, jika dicermati secara seksama kesenian ini hanya bernilai estetis dan berfungsi sebagai hiburan semata. Akan tetapi, justuru yang menjadi rohnya adalah nilai kesyukuran. Dalam konteks ini adalah bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena kemurahannya (memberi hasil panen yang melimpah).

Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1992. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara IV. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Dari Berbagai Sumber Di Internet.

Rabu, 28 Maret 2012

Sedekah Bumi

Sedekah Bumi di sebut juga dengan istilah Perti Bumi, Sedekah Dusun, Bersih Desa atau Metu Desa/Metu Deso. Tradisi Sedekah Bumi merupakan sebuah ritual adat yang biasa di lakukan oleh masyarakat jawa, dan dalam pelaksanaanya tiap dusun memiliki ciri khas-nya masing-masing. Biasanya ciri khas ini tergantung dari kearifan lokal dan mitos yang masih di percaya dan di jaga kelestarianya atau di uri-uri
(jawa). Bila di artikan secara jelas, sedekah bumi berarti menyedakahi bumi atau niat bersedekah untuk kesejahteraan bumi dan apa saja yang tinggal/berada di dalamnya.

Melihat dari semua itu, rupanya sedekah dusun sangat perlu di lakukan dan bermanfaat. Karena bumi pada hakikatnya sebagai tempat hidup dan bertahan hidup bagi semua makhluk yang ada didalamnya, maka sudah selayaknya kita sebagai manusia yang sejatinya adalah khalifah di muka bumi ikut menjaga dan mendo'akan untuk keselamatan dan kesejahteraannya. Bila bumi sejahtera, tanah subur, tentram, tidak ada musibah, maka kehidupan di bumi pun akan terjaga dan manusia pun pada akhirnya yang memetik dan menikmati kesejahteraan itu.

Munculnya tradisi sedekah bumi di pengaruhi oleh beberapa mitos yang berhubungan dengan terjadinya sesuatu/suatu tempat di sebuah desa atau dusun, yang di keramatkan dan menjadi cikal-bakal oleh masyarakat setempat. Karena kultur sosial budaya bernuansa khas jawa yang masih kental dan melekat pada waktu di selenggarakanya acara sedekah bumi, maka tak mengherankan jika keberadaan sedekah bumi telah menempatkanya sebagai bagian dari keragaman budaya yang ada di Indonesia.

Selasa, 13 Maret 2012

Cerita Jaka Budug

Cerita Jaka Budug adalah sebuah kisah mistis yang memuat filosofi kesalah-pahaman. Konteks cerita Jaka Budug melatar belakangi mitos terjadinya beberapa tempat di daerah Ngawi,khususnya di kecamatan Sine dan sekitarnya.


Di kisahkan : Baginda prabu Arya Seta(1) yang bertahta di kerajaan Ringin Anom(1) terkenal adil dan bijaksana dalam memerintah,ia memiliki seorang anak perempuan cantik bernama Rara Kemuning,yang konon tubuhnya sangat harum bagai bunga kemuning. Putri ayu Rara Kemuning sangat gemar bercocok tanam dan menata taman istana ataupun luar istana,sehingga tak mengherankan jika keadaan Kerajaan Ringin Anom yang berada di kaki gunung lawu pada saat itu sangat indah,dan terasa nyaman bagi siapapun yang tinggal di dalamnya. Jalan-jalan tampak teduh,taman istana begitu asri tertata rapi,dengan pemandangan gunung dan bukit(2) yang ada di sekitarnya,sehingga banyak orang memuji kecantikan dan kepandaianya.

***
Pada suatu hari,Putri Ayu Rara Kemuning tiba-tiba terserang penyakit aneh. Tubuh yang biasanya berbau harum,tiba-tiba mengeluarkan bau tidak sedap. Melihat kondisi putrinya,Sang Prabu menjadi sedih,karena khawatir tak ada seorang pemudapun yang mau menikahi putrinya. Baginda berusaha melakukan berbagai hal,mulai memberinya obat-obatan tradisional,dengan minum berbagai ramuan tanaman dan dedauan,namun penyakit sang putri tak juga sembuh,usaha terakhir yang di lakunanya adalah mengundang seluruh tabib yang ada di negeri Ringin Anom pada saat itu,namun tak seorang pun mampu menyembuhkan penyakit aneh yang di derita sang Putri.

Melihat keadaan ini,hati Prabu Arya Seta semakin gundah. Ia sering duduk melamun memikirkan nasib malang yang menimpa putri semata wayangnya. Pada suatu hari,tiba-tiba terlintas dalam pikirannya untuk melakukan semedi dan meminta petunjuk kepada Sang Hyang Widi,agar penyakit langka yang menimpa putrinya dapat disembuhkan.
Pada tengah malam,Sang Prabu dengan tekad kuatnya dan hati yang suci melakukan semedi. Ketika baginda sedang larut dalam semedi,tiba-tiba terdengar bisikan halus yang sangat jelas di telinganya.

“Dengarlah,wahai Arya Seta..!!! Jika engkau ingin putrimu sembuh seperti semula,satu-satunya obat yang dapat menyembuhkanya adalah daun sirna ganda.(3) Daun itu hanya tumbuh di dalam gua di kaki Gunung Arga Dumadi yang dijaga oleh seekor ular naga sakti dan selalu menyemburkan api dari mulutnya,” pesan suara gaib itu.

Setelah mendapat petunjuk dalam semedinya,hati sang prabu tetap saja masih sedih,karena belum menemukan cara,bagaimana mendapatkan daun sirna ganda yang di maksud oleh suara ghaib dalam semedinya. Beberapa punggawa kerajaan dan penasehat istana di kumpulkan untuk bermusyawarah,tentang siapa yang pantas melakukan tugas ini,namun tidak ada yang sanggup melakukan tugas berat yang di utarakan oleh Prabu arya Seta. Akhirnya atas usul Maha Patih Kebo Rejeng,maka di adakanlah sayembara demi kesembuhan Putri Ayu Rara Kemuning dari sakit yang di deritanya.

Keesokan harinya,Prabu Arya Seta segera mengumpulkan seluruh rakyat Ringin Anom di alun-alun untuk mengadakan sayembara yang isinya.

“Wahai,seluruh rakyatku..!!! Kalian semua tentu sudah mengetahui perihal sakitnya putriku. Setelah bersemedi,aku mendapatkan petunjuk bahwa putriku dapat di sembuhkan dengan daun sirna ganda yang tumbuh dalam gua di kaki Gunung Arga Dumadi. Barang siapa yang berhasil mempersembahkan daun itu untuk putriku,jika ia laki-laki akan kunikahkan dengan putriku. Namun,jika ia perempuan,akan kuangkat menjadi anakku,” ujar Sang Prabu di depan rakyatnya.
Mendengar pengumuman itu, seluruh rakyat Kerajaan Ringin Anom menjadi gempar. Berita tentang sayembara itu pun tersebar hingga ke seluruh pelosok negeri. Banyak warga yang tidak berani mengikuti sayembara tersebut,karena mereka semua tahu bahwa gua itu dijaga oleh seekor naga sakti dan sangat ganas. Bahkan, sudah banyak warga yang menjadi korban keganasan naga itu. Meski demikian, banyak pula warga yang memberanikan diri untuk mengikuti sayembara tersebut karena tergiur oleh hadiah yang dijanjikan oleh Sang Prabu. Setiap orang pasti akan senang jika menjadi menantu atau pun anak angkat raja.
Salah seorang pemuda yang ingin sekali mengikuti sayembara tersebut adalah Jaka Budug. Jaka Budug adalah seorang pemuda miskin yang tinggal di sebuah gubuk reyot bersama ibu angkatnya yang sudah menjanda di sebuah desa terpencil di wilayah Kerajaan Ringin Anom. Ia dipanggil “Jaka Budug” karena mempunyai penyakit langka, yaitu seluruh tubuhnya dipenuhi oleh penyakit budug. Penyakit aneh itu sudah di deritanya sejak masih kecil. Meski demikian, Jaka Budug adalah seorang pemuda yang sakti. Ia sangat mahir dan gesit memainkan keris pusaka yang di warisi dari almarhum ayahnya dan di ajarkan oleh guru-gurunya selama dalam perjalanan sebelum tinggal dan sampai di Kerajaan Ringin Anom. Dengan kesaktiannya itu, ia ingin sekali menolong sang Putri. Namun, ia merasa malu dengan keadaan dirinya.

***
Sementara itu, para peserta sayembara telah berkumpul di kaki Gunung Arga Dumadi untuk menguji kesaktian mereka. Sejak hari pertama hingga hari keenam sayembara itu di langsungkan, belum satu pun peserta yang mampu mengalahkan naga sakti itu. Jaka Budug pun semakin gelisah mendengar kabar itu.
Pada hari ketujuh, Jaka Budug dengan tekadnya yang kuat memberanikan diri datang menghadap kepada Sang Prabu. Di hadapan Prabu Arya Seta, ia memohon izin untuk ikut dalam sayembara itu.
“Ampun..,Baginda..!!! Izinkan hamba mengikuti sayembara ini,untuk meringankan beban Sang Putri,” pinta Jaka Budug.
Prabu Arya Seta tertegun tidak menjawab. Ia terdiam sejenak sambil memperhatikan Jaka Budug yang buruk rupa,serta tubuhnya yang di penuhi bintik-bintik putih kemerahan. Hatinya galau,andai pemuda itu berhasil,apakah putri Rara Kemuning bersedia menjadi istrinya.
“Kamu siapa..,hai anak muda..???
Dengan apa kamu bisa mengalahkan naga sakti itu?” tanya Sang Prabu.
“Hamba Jaka Budug, Baginda. Hamba akan mengalahkan naga itu dengan keris pusaka hamba ini,” jawab Jaka Budug seraya menunjukkan keris pusakanya kepada Sang Prabu.
Pada mulanya,Prabu Arya Seta ragu-ragu dengan kemampuan Jaka Budug. Namun,setelah Jaka Budug menunjukkan keris pusakanya dan tekad yang kuat,dan Sang Prabu Arya Seta adalah Raja yang di kenal adil dan bijaksana,tak mungkin ia membeda-bedakan keadaan rakyatnya,akhirnya sang Prabu menyetujuinya dan berkatalah ia :
“Baiklah..,Jaka Budug..!!! Karena engkau rakyatku dan tekadmu yang kuat,maka keinginanmu kuterima. Semoga kamu berhasil!”
Sembah Jaka Budug : "Ampun,Baginda..!!! Hamba mohon kepada Tuanku Sang Raja,sebelum melaksanakantugas, apakah diperkenankan melihat keadaan Sang Putri?"
"Silahkan." Jawab Sang Baginda.
Setelah melihat keadaan Putri Kemuning, Jaka Budug mohon diri untuk melanjutkan tugas mengambil daun Sirna Ganda. Jaka Budug pun berangkat menuju Gua di Gunung Arga Dumadi(4) dengan tekad membara. Ia harus mengalahkan naga itu dan membawa pulang daun sirna ganda. Setelah berjalan cukup jauh, sampailah ia di kaki gunung Arga Dumadi. Dari kejauhan, ia melihat semburan-semburan api yang keluar dari mulut naga sakti penghuni gua. Ia sudah tidak sabar ingin membinasakan naga itu dengan keris pusakanya.

***
Jaka Budug melangkah perlahan mendekati naga itu dengan sangat hati-hati. Begitu ia mendekat, tiba-tiba naga itu menyerang dengan semburan api. Jaka Budug pun segera melompat mundur untuk menghindari serangan itu. Naga itu terus bertubi-tubi menyerang sehingga membuat Jaka Budug kewalahan. Ketika dalam posisi terpojok dan hampir kalah,Jaka Budug berpikir,jika pertarungan berlangsung terus seperti ini lama-kelamaan ia pasti kalah,kemudian ia mundur menjauh sambil berpikir bagaimana cara mengalahkan naga yang sangat sakti ini.

Tiba-tiba,jaka budug berlari meninggalkan pertarungan menuju ke arah bukit dan mengalinya,hingga menembus gua,setelah tembus ke dalam gua dimana naga itu tinggal,yang terlihat oleh jaka budug adalah tubuh dari naga sakti penjaga daun sirna ganda. Ketika naga itu lengah, Jaka Budug segera menghujamkan kerisnya ke perut naga itu. Darah segar pun memancar dari tubuh naga itu,keadaan ini tidak di sia-siakan oleh jaka budug,dan semakin bersemangat ingin membinasakan naga itu. Ketika naga sakti mengerang kesakitan,dengan gesitnya,jaka budug kembali menusukkan keris ke leher naga itu hingga darah memancar dengan derasnya. Tak khayal naga sakti itu pun tewas seketika di tangan jaka budug.
Setelah memetik beberapa lembar daun sirna ganda di dalam gua, Jaka Budug segera pulang ke istana dengan perasaan gembira. Setibanya di istana, Prabu Arya Seta tercengang hampir tidak percaya ,ketika melihat keberhasilan Jaka Budug. Setelah Jaka Budug menceritakan semua peristiwa yang dialaminya di kaki Gunung Arga Dumadi,ketika melawan naga sakti di dalam gua, barulah Sang Prabu percaya dan terkagum-kagum akan kesaktian dan kecerdikan Jaka Budug.
Jaka Budug kemudian mempersembahkan daun sirna ganda yang diperolehnya kepada Sang Prabu. Sungguh ajaib,Putri Kemuning kembali sehat setelah memakan daun sirna ganda itu. Kini,tubuh Sang Putri kembali berbau harum bagaikan bunga kemuning. Prabu Arya Seta pun menetapkan Jaka Budug sebagai pemenang sayembara tersebut. Sesuai dengan janjinya,Sang Prabu segera menikahkan Jaka Budug dengan putrinya,yaitu Putri Ayu Rara Kemuning. Sebelum pesta pernikahan itu di gelar,Prabu Arya Seta memerintahkan pada Patih Kebo Rejeng untuk mempersiapkan segalanya. Mengingat kondisi Jaka Budug yang kulitnya masih penuh luka kudis,maka Prabu Arya Seta memrintah Patih Kebo Rejeng untuk membersihkan tubuh Jaka Budug.

“Kakang Patih,untuk perayaan pesta pernikahan Putriku dan Jaka Budug,tolong persiapkan segalanya,dan sebelum pernikahan itu di laksanakan,tolong tubuh Jaka Budug di bilasi (bersihkan)(5)

Patih Kebo Rejeng langsung melaksanakan apa yang di perintahkan Prabu Arya Seta,namun ada sebuah kesalah-pahaman akibatkan pendengaran patih Kebo Rejeng yang sudah mulai berkurang karena faktor usia,sehingga ketika di perintah untuk membersihkan (mbilasi) Jaka Budug yang di dengarnya justru agar Tubuh Jaka Budug di telasi (dihabisi) (6). Patih Kebo Rejeng-pun tanpa ragu melaksanakan perintah baginda dengan membunuh Jaka Budug,Patih Kebo Rejeng sadar akan kesaktian Jaka Budug sehingga tidak mungkin bila ia melawanya,maka di carilah berbagai cara untuk membunuh Jaka Budug,ketika Jaka Budug terlena maka keris Patih Kebo Rejeng di hujamkanya ke tubuh Jaka Budug dari belakang. Alhasil,Jaka Budug terkejut melihat apa yang di lakukan Patih Kebo Rejeng,dan tak lama kemudian terkapar bersimbah darah,sebelum tiba ajalnya Jaka Budug sempat berkata bahwa

“Meskipun Aku mati,namun sesuai janji Prabu Arya Seta akan pernikahanku dengan Rara Kemuning,dan karena pernikan itu belum terlakasana,maka Aku hanya mau di kuburkan setelah bersanding dengan Putri Ayu Rara Kemuning.”

Setelah kematian Jaka Budug,serentak isi isatana menjadi gempar,sebelum kabar kematian Jaka Budug tersebar ke seluruh rakyat ringin anom,dengan tergesa-gesa tubuh Jaka Budug segera di makamkan. Keajaiban terjadi,ketika menggali kubur sesuai dengan ukuran tubuh Jaka Budug,namun saat di masukan ke liang lahat tak pernah muat,bahkan sampai di panjangkan beberapa kali tetap saja tidak muat,begitu terus hingga jasad Jaka Budug tidak bisa di makamkan di tempat tersebut(7).

***
Nasi telah menjadi bubur,seluruh istana menjadi bingung dan bersedih,satu-satunya jalan agar jasad Jaka Budug bisa di kuburkan,maka harus di nikahkan terlebih dahulu,dan Putri Ayu Rara Kemuningpun tidak mungkin bila harus menikah dengan Jaka Budug yang sudah menjadi jasad,maka ia berlari meninggalkan istana sambil menangis sejadinya di sbuah gunung (8). Patih Kebo Rejeng yang di perintah untuk membawa pulang Rara Kemuning,memburunya hingga di sebuah gunung,karena terlalu cepatnya Rara Kemuning berlari hingga membuat Patih Kebo Rejeng terpisah darinya dan kehilangan jejak(9).

Selama mengikuti Rara Kemuning Patih Kebo Rejeng hingga kehabisan bekal dan akhirnya kehausan di tengah perjalanan,karena sudah tidak tahan lahi akan rasa hausnya Patih Kebo Rejeng berusaha mengais-ngais tanah untuk mencari air,dan keajaiban terjadi,tanah itu tiba-tiba mengeluarkan mata air (10),kemudian tanpa ragu ia pun langsung meminum air yang baru saja keluar dari dalam tanah itu.

Sementara Rara Kemuning yang tahu sedang di ikuti terus berlari sampai payung yang di bawanya tertinggal di sebuah gunung (11). Karena di buru terus dalam beberapa hari,Putri Ayu Rara Kemuning kelelahan hingga jatuh sakit dan akhirnya meninggal dalam pelarianya.

Patih Kebo Rejeng membawa pulang jasad Rara Kemuning,setelah tiba di istana maka tubuhnya di makamkan bersanding dengan jasad Jaka Budug. Kini jasad Jaka Budugpun dapat dengan mudah di makamkan setelah bersanding dengan Putri Ayu Rara Kemuning di sebuah gunung. Selang berapa lama,setelah jasad Jaka Budug dan Putri Ayu Rara Kemuning di makamkan di gunung liliran (12), Prabu Arya Seta meninggal dunia.

Karena kerajaan Ringin Anom tidak memiliki putra mahkota yang meneruskan dan memegang pemerintahan maka lambat-laun kerajaan itu runtuh dan menghilang tanpa bekas.

____________________________________________________________
____________________________________________________________

Keterangan :

(1). Prabu Arya Seta,Kerajaan Ringin Anom : Prabu Arya Seta,oleh penduduk setempat lebih di kenal dengan nama Ratu Poan,begitu juga dengan kerajaan dimana ia memerintah juga di kenal dengan nama keraton Poan,di sebut demikian karena Keraton Poan berada di daerah Poan (tapatnya dusun Poan,kelurahan Tulakan,kecamatan Sine)


(2). Gunung Dan Bukit : Tempat kerajaan ringin anom berada di daerah lereng gunung lawu dan perbukitan gunung-gunung kecil,seperti gunung warak,gunung bedah dan yang lainya.


(3). Daun Sirna Ganda : Daun Sirna Ganda yang di maksud adalah sebuah daun yang menyerupai daun pisang dan oleh masyrakat sekitar di sebut dengan istilah Daun Gedang (Pisang) Pupus Cinde.


(4). Gua di Gunung Arga Dumadi : Gua ini adalah sebuah gua yang sekarang oleh masyarakat sekitar di gunakan sebagai media irigasi/sebagai saluran air,dan di daerah setempat di kenal dengan nama dung urung-urung.


(5). bilasi (bersihkan) : Membersihkan ulang dalam proses terakhir ketika mencuci. Dan yang di maksud Baginda Raja adalah membersihkan tubuh Jaka Budug yang berlumuran darah naga dan agar penyakit budugnya tampak lebih bersih.


(6). Telasi (Habisi) : Habisi yang di maksud adalah menghabisi nyawa Jaka Budug karena kesalah-pahaman akibat pendengaran Patih Kebo Rejeng sudah mulai berkurang.


(7). Tempat tersebut : Bekas galian yang tidak bisa di gunakan untuk memakamkan jasad Jaka Budug itu panjangnya sekitar 12 meter dan terletak di sebelah barat lapangan bola dusun Gamping. Tempat itu masih terawat hingga sekarang.


(8). Menangis sejadinya di sbuah gunung : Tempat ini merupakan sebuah bukit kecil yang sekarang di kenal dengan nama gunung tangis.


(9). Terpisahdarinya dan kehilangan jejak : Tempat ini sekarang di sebut dengan nama gunung pegat.


(10). Mata air : Mata air itu masih bisa di jumpai dan masih berfungsi hingga sekarang. Oleh masyarakat sekitar di kenal dengan nama Sumber Ngrejeng dan di gunakan untuk kebutuhan mandi dan mencuci setiap hari.


(11). Gunung :Gunung tempat tertinggalnya payung Rara Kemuning itu sekarang bernama Gunung Payung.


(12). Gunung liliran : Gunung dimana jasad Jaka Budug dan Rara Kemuning di makamkan,hingga sekarang tempat itu masih sering di kunjungi banyak orang pada hari-hari tertentu,untuk melakukan ritual dengan maksud dan tujuan berbeda.

Di ambil dari berbagai sumber di internet dan cerita yang di yakini kebenaranya oleh masyarakat.

Selasa, 28 Februari 2012

Wayang Suket

Wayang suket merupakan bentuk tiruan dari berbagai figur wayang kulit yang terbuat dari rumput (bahasa Jawa: suket). Wayang suket biasanya dibuat sebagai alat permainan atau penyampaian cerita perwayangan pada anak-anak di desa-desa Jawa.

Untuk membuatnya, beberapa helai daun rerumputan dijalin lalu dirangkai (dengan melipat) membentuk figur serupa wayang kulit. Karena bahannya, wayang suket biasanya tidak bertahan lama.
Seniman asal Tegal, Slamet Gundono, dikenal sebagai tokoh yang berusaha mengangkat wayang suket pada tingkat pertunjukan panggung.



Wayang suket menjadi saksi sejarah seni rakyat di negeri ini. Penampilannya yang mengusung budaya agraris, tegar iringi jaman yang kian beringsut dari akar tradisinya.
Ceria suara anak-anak kecil menyeruak nusantara. Senada dengan itu, suara pesinden yang melantunkan gending campursari dengan iringan gamelan. Semua mengalun seirama, dan mata para penonton pun menatap tajam ke arah panggung.

Untuk sebuah tampilan pertunjukan wayang suket, yang kini beranjak dari seni rupa beralih ke seni pertunjukan, terdiri atas 10 pengrawit, satu sinden, gamelan slendro lengkap dengan lakon Wahyu Senopati. Semua mengawal makna di balik artistik kesenian wayang bergaya Jawa Timuran itu.
Menurut asalnya wayang suket berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Jawa Timur sendiri wayang suket tumbuh dan berkembang di daerah mataraman, seperti Bojonegoro, Tulungagung, Kediri, dan Blitar.

Lakon Wahyu Senapati berkisah seputar peristiwa Gatutkaca yang diwisuda menjadi senopati di Ngamarto. Tapi Antarejo sebagai saudara tuanya tidak terima, karena merasa juga punya hak sebagai putra Ngamarto dan memiliki kesaktian yang sama. Ternyata, Sengkuni berada di baliknya karena menginginkan keluarga Pandawa terpecah.
Ketika menghasut itu, tubuh Antarejo disusupi Nini Permoni alias Dewi Durga, disamping dukungan pihak Kurawa. Gatutkaca pun berperang dengan Antareja, namun akhirnya dipisah oleh Kresno. Kresno akhirnya tahu, bahwa ini bukan kemauan Antarejo sendiri.

Menurutnya, yang sanggup mengatasi hal ini hanya Semar. Kemudian Semar dipanggil, dan Nini Permoni dipaksa keluar oleh Semar. Nini dinasehati, jangan menggangu momongan (asuhan) Semar. Tapi Nini berkilah, memang sudah tugasnya menggoda manusia. Salah sendiri kalau ada yang tidak kuat. Beruntung Pandawa memiliki Semar sebagai bentengnya. Akhir cerita Gatutkaca sudah dipilih oleh rakyat, jadi kalau Antarejo ingin berbakti pada negara, masih ada jalan lain, tidak harus menjadi Senopati.


Di atas panggung nampak seorang lelaki sedang mempersiapkan benda berupa wayang terbuat dari suket (rumput). Dia adalah M. Thalib Prasodjo, 77 tahun, salah seorang seniman pencipta wayang suket beserta kreasinya. Dirinya sedang melakukan sebuah pertunjukan wayang suket, yang biasa digelar di sanggarnya.
Kendati pertunjukan wayang suket selama ini sudah diklaim oleh Slamet Gundono, wayang karya Thalib sangat berbeda. Dia tidak sekadar memanfaatkan bahan-bahan rumput untuk sosok yang menyerupai wayang. Namun betul-betul membuat wayang dari bahan rerumputan. Dengan melihat sosoknya saja, para penggemar wayang pasti tahu nama tokoh yang dimaksudkannya.
Selain itu, pertunjukan wayangnya, juga bukan asal pertunjukan biasa. Thalib dengan sengaja meminta sang dalang untuk memainkan karya wayangnya secara klasik. Artinya, betul-betul diperlakukan sebagaimana wayang kulit biasanya, bukan wayang-wayangan. Lakonnya pun dipilih lakon serius. Inilah yang membedakan dengan lakon wayang milik Slamet Gundono.
Menurut pria yang akrab disapa Eyang Thalib itu, kebiasan dirinya menggelar pertunjukan wayang suket di sanggar dan beberapa tempat lainnya, memang ditujukan bagi anak-anak kecil dan remaja. “Wayang ini menggambarkan budaya agraris yang dibawa anak-anak desa masa lampau yang tidak pernah kehabisan akal, meski di tengah himpitan materi mereka terus berkreasi,” ujar pria asal Bojonegoro ini.


Berbahan Rumput
Wayang suket begitulah orang menyebut kesenian tradisional yang ada sejak masa lampau ini. Kata suket sengaja diberikan karena wayang ini terbuat dari rerumputan.

Jadi, beragam wayang di Jawa Timur memang kian berkembang seiring bergulirnya jaman. Ada wayang tengul yang terbuat dari kayu patung, ada wayang kulit, ada wayang kerteh yang menyerupai topeng manusia, ada wayang timplong, ada wayang potehi, ada wayang purwo, dan adapula wayang suket.
Kesemua pewayangan itu terbuat dari bahan dasar yang berbeda-beda. Sedangkan bahan utama dalam menghasilkan sebuah mahakarya wayang suket adalah berbahan rumput. Seperti rumput jerami, rumput jarum, atau juga rumput teki.

Biasanya para pengrajin wayang suket sengaja berburu bahan rumput hingga ke pelosok-pelosok pedesaan yang ada di Jawa Timur. Salah satunya Eyang Thalib. “Dalam membuat wayang daerah mataraman Jawa Timur ini saya selalu mencari rumput di daerah asal saya di Bojonegoro, Karena di sana masih banyak dijumpai pedesaan,” kata pemilik sanggar Akar Rumput Sidoarjo itu.

Mengenai alasan penggunaan bahan dasar rumput demi menghasilkan sebuah wayang suket. Eyang Thalib mengatakan, latar belakang di balik pertunjukan dan penciptaan wayang suket adalah upaya pelestarian budaya agraris atau pertanian.
Setelah bahan terkumpul, tinggal kreatifitas untuk menggambarkan tokoh pewayangan dalam proses penciptaan sebuah wayang suket. Ada yang berkarakter Butho Cakil, Ramayana, Gatutkaca, Semar, Mahabarata, Abimanyu, dan masih banyak tokoh-tokoh pewayangan lainnya.


Sunyi Anak Desa
Dalam pertunjukannya, wayang suket mengusung cerita wayang purwa. Cerita wayang jenis ini dibatasi banyak pakem. Misalnya, untuk cerita, mau tak mau harus berangkat dari epos Ramayana atau Mahabarata. Kadang, menampilkan lakon-lakon terpisah macam Wahyu Senopati.

Ramayana merupakan putra tunggal Prabu Dasarata, raja negara Ayodya. Ia adalah titisan Dewa Wisnu yang bertugas menciptakan kesejahteraan dunia. Rama menikah dengan Dewi Sinta, titisan Bathari Sri Widowati, putri Prabu Janaka raja negara Mantili.
Rama berkedudukan sebagai putra mahkota Ayodya. Tapi ia gagal naik tahta karena Prabu Dasarata terpaksa memenuhi tuntutan Dewi Kekayi yang menghendaki Barata sebagai raja Ayodya. Rama bahkan harus meningggalkan Ayodya, menjalani pengasingan selama 13 tahun.

Berbagai dharma satria telah dilaksanakan oleh Ramayana. Ia telah mengalahkan dan menyadarkan Ramaparasu yang salah menjalankan dharmanya. Rama juga membunuh Resi Subali, putra Resi Gotamadari dari pertapaan Grastina atau Daksinapata karena bersikap angkara murka. Terakhir, Rama berhasil, membunuh Prabu Dasamuka, raja negara Alengka, yang bukan saja menculik Dewi Sinta, tetapi juga telah berbuat angkara murka dan menimbulkan berbagai kesengsaraan umat Ancapada.
Setelah berakhirnya perang Alengka dan 13 tahun hidup dalam pengasingan, Rama kembali ke negara

Ayodya. Ia naik tahta negara Ayodya, menggantikan Prabu Barata yang mengundurkan diri.
Itulah lakon Ramayana, secuil gambaran tentang penampilan dari pertunjukan wayang suket. Selebihnya wayang suket dalam setiap pertunjukan identik melakonkan cerita dari anak-anak pedesaan.
Karena itu setiap awal pagelarannya suara gamelan diiringi nyanyian-nyanyian anak kecil khas pedesaan. Bahkan terkadang mulai awal hingga bubaran, wayang suket menggambarkan sebuah semangat anak desa, yang terus berkarya di tengah segala keterbatasan.
Namun, wayang suket terkadang tidak menutup diri untuk melakonkan cerita-cerita lainnya. Suket berdiri untuk apapun, yang penting tetap mengusung kelestarian budaya agraris budaya nusantara.
Naskah : m.ridlo’i |foto : wt atmojo



Sumber :

  • http://www.eastjavatraveler.com
  • http://id.wikipedia.org

Senin, 27 Februari 2012

WAYANG PURWA

Wayang purwa adalah bagian dari beberapa macam yang ada, diantaranya wayang gedog, wayang madya, wayang klitik purwa, wayang wahyu, wayang wahono dan sebagainya.
Wayang purwa sudah ada beberapa ratus tahun yang lalu dimana wayang timbul pertama fungsinya sebagai upacara menyembah roh nenek moyang.
Jadi merupakan upacara khusus yang dilakukan nenek moyang untuk mengenang arwah para leluhur. Bentuk wayang masih sangat sederhana yang dipentingkan bukan bentuk wayang tetapi bayangan dari wayangan tersebut.

Perkembangan jaman dan budaya manusia selalu berkembang wayang ikut pula dipengaruhi bentuk wayang pun berubah, misalnya, bentuk mata wayang seperti bentuk mata manusia, tangan berkabung menjadi satu dengan badannya. Hal ini dipandang kurang enak maka tangan wayang dipisah, untuk selanjutnya diberi pewarna.

Perkembangan wayang pesat pada jaman para wali, diantaranya Sunan Kalijaga, Sunan Bonang dan yang lain ikut merubah bentuk wayang sehingga menjadi lebih indah bentuknya.
Langkah penyempurnaan di jaman Sultan Agung Hanyakrakusuma, jaman kerajaan Pajang, kerajaan Surakarta, jaman Pakubuwono banyak sekali menyempurnakan bentuk wayang sehingga tercipta bentuk sekarang ini, dimana telah mengalami kemantapan yang di rasa pas dihati pemiliknya.

Minggu, 26 Februari 2012

Dhalang Poer

Namanya Dalang Poer.  Entahlah.., saya tidak tahu siapa nama lengkapnya. .???
Apakah itu Poerwanto, Poernomo, Poerwadi, atau Poer yang lainya juga kurang jelas.  Gelar Dhalang  didepan namanyapun saya juga tidak bisa menjelaskan apakah memang dia seorang dhalang, atau profesi lain yang seirama dengan dalang,atau sekedar  “paraban” karena kepintarannya mengolah gendhing dan musik serta mbabar lelakon dalam cakepan-cakepan gending jawa sayapun juga tidak tahu.

Entah kenapa saya seringkali tertarik dengan karya seniman yang satu ini.  Padahal, dengan pengetahuan music standard saja kita bisa tahu bahwa tidak ada yang istimewa dalam karya musiknya. (Ma’af Kang Dhalang Poer : ini tidak bermaksud mencela loh).
Mungkin kekuatan Kang Poer adalah pada kemampuannya mengartikulasi sebuah lakon dalam syair lagu dengan cara yang ringan dan sederhana itulah yang membuat Beliau terlihat istimewa (dalam padangan saya pribadi).  Bahkan lebih mendekati “guyon parikena”.  Oleh karenanya saya berusaha untuk bisa mengenal lebih dekat dengan sosok eksentrik ini.
Tak gampang tentunya mengenal sosok yang satu ini apalgi memasukkan nama saya dalam next list temannya.  Hal ini bukan karena beliau yang tertutup tetapi lebih karena minimnya refrensi saya tentang beliau ditunjang lemahnya pengetahuan saya tentang music dan ilmu-ilmu social. 

Hingga akhirnya saya tahu bahwa beliau memiliki account di facebook.  Persetan dia menjawab sendiri atau diwakili asistennya,saya add saja untuk masuk dalam list fiend saya.  Dan akhirnya dengan bangga saya katakana pada anda,bahwa seniman nyentrik ini adalah teman saya.Pertemuan saya dengan Dhalang Poer pertama kali di lantai dua Dishub pada waktu BPC-Bentang Pendhem Club (Komunitas Blogger Ngawi)  mengadakan seminar. Yang kedua di LSI-Langgar Sawo Ijo (Tempat/Rumahnya Mas atonk),Yang ketiga di Bahana-FM waktu Dhalang Poer melakukan pagelaran wayang techno dalam rangka refleksi kepahlawanan.

Meski beberapa kali sempat bertemu,saya maklum dan sadar kalau bocah mbelis hanyalah manusia biasa dan tetunya andai bertemu Dhalang Poer lagipun dia pasti lupa lagi dan lupa lagi.
Begitulah cerita saya kali ini tentang Dhalang Poer yang tidak pernah saya tau sebenarnya Beliau ini siapa.
Salam..!!!

Note : 
  • Gambar 1 - Foto Profil Dhalang Poer Di Face Book
  • Gambar 2 - Dhalang Poer bersama Pak Abid
  • Ilustrasi Musik : Langit Mendung Kutha Ngawi Oleh Dhalang Poer



Sabtu, 25 Februari 2012

Kontroversi Wayang Techno

Wayang techno adalah sebuah seni pertunjukan wayang kulit kontemporer yang berasal dari daerah ngawi. Seni pertunjukan wayang kulit kontempoer ini di ciptakan oleh seorang seniman dan sastrawan ngawi yang karya-karyanya sudah sangat terkenal bahkan banyak yang di jiplak oleh seniman lain terutama di bidang lagu ataupun langgam campursari gending-gending jawa.
Pagelaran wayang techno pertama kali di pertunjukan ke masyarakat oleh Dhalang Poer
dan yang berperan sebagai dhalang dalam pertunjukan wayang teckhno itu adalah Ki Dhalang Poer sendiri.

Dalam pertunjukanya,wayang teckhno tidak jauh berbeda dengan pertunjukan wayang purwa,baik dalam lakon (judul),media wayang yang di gunakan ataupun irama musik yang mengiringi sepanjang pertunjukan.
Yang membuat wayang techno berbeda adalah alat musik pengiring yang pada umumnya ada di pertunjukan wayang purwa (alat musik tradisional) tidak bisa di jumpai lagi dalam pertunjukan wayang teckhno,sebab alat musik yang di gunakan sangatlah simple,yaitu dua buah alat musik elektronik modern (elecktone/organ),seperangkat drum dan seperangkat gendang jawa.

Yang menarik untuk di simak dari pertunjukan wayang techno,yaitu adanya kolaborasi seni tradisional klasik dan modern yang di kemas apik dalam sebuah karya seni pertunjukan kontemporer tanpa meninggalkan khasanah budaya dan tradisi ketimuran.
Keluar dari pakem. Begitulah pendapat sebagian orang..!!!
Sebelum melangkah lebih jauh,mari  kita lihat sedikit tentang pakem itu sendiri..???
Pakem dalam bahasa jawa di artikan sebagai pedoman,sehingga dalam tiap pertunjukan wayang purwa seorang dhalang harus memiliki pedoman-pedoman yang di anut dalam tiap pagelaranya,baik di dalam alur cerita/jejer,dialog ataupun tempo irama pengiring dalam pertunjukan wayang.

Saya (pribadi) sebagai penulis yang baru belajar,di sini cuma sekedar iseng bicara sedikit tentang wayang techno dan pakem wayang,meski saya (pribadi) tak mengerti apa arti dan makna sebenarnya,bahkan yang seringkali muncul pertanyaan tentang pakem ketika masih dalam penulisan artikel ini.
Sebenarnya apa makna dari pakem..???
Sebenarnya di dunia ini ada berapa Pakem yang di yakini..???
Sebenarnya siapa pencipta pakem yang di anut oleh banyak orang..???

Maaf..,saya tidak ingin membawa pembaca dalam atmosfir kegalauan ketika meyakini dan menentukan pilihan akan pakem untuk di anut,sebab saya (pribadi) sadar bahwa saya bukan seorang seniman,sastrawan ataupun penulis.
Bocah mbelis hanyalah manusia lumrah yang memiliki banyak kekurangan dan ingin mencari informasi tanpa secarik kertas karena saat ini buku terbilang mahal untuk di beli dalam ukuran kantong bocah mbelis.

Kembali ke wayang teckhno,yang perlu kita garis bawahi tentang wayang teckhno dalam sudut pandang bocah mbelis,bahwa : “Wayang techno merupakan sebuah perkembangan baru dalam sejarah wayang.”
Wayang purwa yang di kembangkan dalam bentuk karya seni modern ini tentunya/mungkin akan mengundang kontroversi di antara para dhalang dan pecinta wayang purwa,namun kita tidak bisa berpaling dari kenyataan bahwa segala sesuatu tanpa terkecuali baik itu tradis ataupun sebuah kebudayaan sekalipun pasti akan mengalami perkembangan dan perubahan mengikuti masanya seiring dengan perubahan dan perkembangan jaman.
Salam..!!!

Note :
  •  Ilustrasi gambar : http://info.mediamadiun.com
  • Ilustrasi Musik : Meh Rahino

Senin, 13 Februari 2012

Cara Menata Wayang

Cara menata wayang atau cara mengatur wayang ada beberapa macam tergantung gagrak yang di anut oleh Ki Dalang wayang ketika membawakan sebuah cerita. Dan di bawah ini salah satu contoh cara mengatur wayang yang biasa di gunakan.



Jumlah wayang dalam satu kotak tidak sama trgantung kepada pemiliknya. Jadi ada wayang yang jumlahnya 350 sampai 400 wayang, ada yang jumlahnya hanya 180 wayag dan ada yang kurang dari 180 wayang. Biasanya wayang yang banyak, wayang yang rangkap serta wanda yang banyak sesuai yang diinginkan. Pengaturan wayang pada layar atau kelir atau disebut simpingan. Di dalam simpingan wayang ada simpingan kanan dan simpingan kiri.
SIMPINGAN KIRI
1. Buto raton (Kumbakarno)
2. Raksasa muda (Prahasta,Suratimantra)
3. Rahwana dengan beberapa wanda
4. Wayang Bapang (ratu sabrang)
5. Wayang Boma (Bomanarakasura)
6. Indarajit
7. Trisirah
8. Trinetra dan sejenisnya
9. Prabu Baladewa dengan beberapa wanda
10. Raden Kakrasana
11. Prabu Salya
12. Prabu Matswapati
13. Prabu Duryudana
14. Prabu Salya
15. Prabu Salya
16. Prabu Matswapati
17. Prabu Duryudana
18. Raden Setyaki
19. Raden Samba
20. Raden Narayana

Keterangan :
Pada contoh diatas hanya secara garis besar saja. Jadi masih banyak nama tokoh yang tidak di cantumkan.
* Wayang Eblekan :
Yaitu wayang yang masih diatur rapi didalam kotak, tidak ikut disimping.
Contoh: Buta brabah, wayang wanara, wayang kewanan (hewan), wayang tatagan yang lain, misal: wadya sabrang buta cakil dan lain-lain.
* Wayang dudahan :
Yaitu wayang yang diletakkan di sisi kanan dhalang.
Contoh: Punakawan, pandita, rampogan, dewa dan beberapa tokoh wayang yang akan digunakan didalam pakeliran.
SIMPINGAN KANAN
Dimulai dari wayang Tuguwasesa diakhiri wayang bayen. Adapun wayang yang disimping adalah sebagai berikut :
1. Prau Tuguwasesa (Tuhuwasesa)
2. Werkudara dari beberapa macam wanda
3. Bratasena dari beberapa macam wanda
4. Rama Parasu
5. Gatotkaca dari beberapa macam wanda
6. Ontareja
7. Anoman dari beberapa macam wanda
8. Kresna dari beberapa macam wanda
9. Prabu Rama
10. Prabu Arjuna Sasra
11. Pandhu
12. Arjuna
13. Abimanyu
14. Palasara
15. Sekutrem
16. Wayang putran
17. Bati

Keterangan :
Wayang tersebut disimping pada debog atau batang pisang bagian atas. Untuk batang pisang bagian bawah hanya terdiri dari simpingan wayang putren.
Simpingan sebelah kiri terdiri atas:
1.Buta raton
2.Wayang buta enom (raksasa muda)
3.Wayang boma
4.Wayang Sasra
5.Wayang Satria

Kamis, 02 Februari 2012

Aneka Macam Lakon Dalam Pakem Wayang Kulit

Aneka Macam Lakon Wayang Kulit,Aneka Macam Lakon Dalam Pakem Wayang, Aneka Macam Lakon Dalam Pakem Wayang Purwa.

Pakem Ringgit Purwa Warni-warni:
Lakon-lakon: Peksi Dewata, Gambiranom, Semar Mantu, Bangbang Sitijaya, Wangsatama Maling, Thongthongborong, Srikandhi Mandung, Danasalira, Lesmana Buru Bojone Bangbang, Caluntang, Carapang Sasampuning Prang Baratayuda, Parikesit, Yudayana, Prabu Wahana, Mayangkara, Tutugipun Lampahan Bandung, Carangan Ingkang Kantun Jayaseloba, Doradresanala Larase Semarasupi. Bandhaloba,
Ambungkus, Lahire Pandhu, Lahiripun Dasamuka, Dasamuka Tapa Turu, Lahire Indrajit, Lokapala, Sasrabahu, Bambang Sumantri, Sugriwa Subali, Singangembarawati, Anggit Dalem, Tutugipun Lampahan Wilugangga, Tunjung Pethak, Gambar Sejati, Bangbang Dewakasimpar, Ingkang Serkarta Jalintangan Suksma Anyalawadi, Samba Rambi, Antasena Rabi, Wilmuka Rabi, Partajumena, Wisatha Rabi, Sumitra Rabi, Sancaka Rabi, Antareja Rabi, Pancakumara Rabi, Sayembara Dewi Mahendra, Sayembara Dewi Gandawati, Sayembara Tal Pethak, Dhusthajumena Rabi, Pancadriya Rabi, Rukma Ical, Ugrasena Tapa, Leksmana Mandrakumara Rabi, Ada-ada Bimasuci, Pandhawa Kaobongan, Sembadra Dilarung and Secaboma (59 wayang lakon).

Pakem Ringgit Wacucal:
Lakon-lakon: Kresna Kembang, Sayembara Setyaki, Erangbaya,Kresna Gugah, Prabu Kalithi, Wilugangga, Waosan Panitibaya Lampahipun Para Dewa, Asmaradahana, Karagajawa dan Sudhamala (11 wayang lakon).

Pakem Ringgit Purwa Warni-warni:
Lakon-lakon: Sembadra Edan, Sembadra Larung, Arjuna Besus, Sukma Ngembaraning Sembadra, Peksi Gadarata, Wrekudara Dados Gajah, Cekel Endralaya, Manonbawa, Surga Bandhang, Bangbang Kembar, Bangbang Danuasmara, Palgunadi, Bimasuci, Loncongan, Wrekudara Dipun Lamar, Yuyutsuh, Samba Rajah, Sunggen Wilmuka, Lobaningrat, Anggamaya, Brajadenta Balik, Tapel Sewu, Dewakusuma, Sunggen Gathutkaca, Sugata, Tuguwasesa, Lambangkara, Semar Minta Bagus, Retna Sengaja, Prabu Pathakol, Jayamurcita, Karna Wiguna, Bangbang Supena, Pandhawa Gupak, Gugahan Kresna, Srikandhi Manguru Manah, Kresna Malang Dewa, Bangbang Sinom Prajangga Murca Lalana dan Pandha Widada (42 wayang lakon).

Pakem Ringgit Purwa:
Lakon-lakon: Angruna-Angruni, Mikukuhan, Begawan Respati, Watugunung, Wisnupati, Prabu Namintaya, Nagatatmala, Sri Sadana, Parikenan, Bambang Sakutrem, Bambang Sakri, Bagawan Palasara, Kilatbuwana, Narasoma, Basudewa Rabi, Gandamana Sakit, Rabinipun Harya Prabu Kaliyan Ugrasena, Bima Bungkus, Rabinipun Ramawidura, Lisah Tala, Obong-obongan Pasanggrahan Balesegala, Bambang Kumbayana, Jagal Bilawa, Babad Wanamarta, Kangsa Pragat, Semar Jantur, Jaladara Rabi, Alap-alapan
Surtikanthi, Clakutana, Suyudana Rabi, Jayadrata Rabi, Pandhawa Dulit, Gandamana, Kresna Sekar, Alap-alapan Secaboma, Kuntul Wilanten, Partakrama, Gathutkaca Lair, Setija, Bangun Taman Maerakaca dan Wader Bang (43 wayang lakon).

Pakem Ringgit Purwa Warni-warni:
Lakon-lakon: Sembadra Edan, Sembadra Larung, Arjuna Besus, Sukma Ngembaraning Sembadra, Peksi Gadarata, Wrekudara Dados Gajah, Cekel Endralaya, Manonbawa, Surga Bandhang, Bangbang Kembar, Bangbang Danuasmara, Palgunadi, Bimasuci, Loncongan, Wrekudara Dipun Lamar, Yuyutsuh, Samba Rajah, Sunggen Wilmuka, Lobaningrat, Anggamaya, Brajadenta Balik, Tapel Sewu, Dewakusuma, Sunggen Gathutkaca, Sugata, Tuguwasesa, Lambangkara, Semar Minta Bagus, Retna Sengaja, Prabu Pathakol, Jayamurcita, Karna Wiguna, Bangbang Supena, Pandhawa Gupak, Gugahan Kresna, Srikandhi Manguru Manah, Kresna Malang Dewa, Bangbang Sinom Prajangga Murca Lalana dan Pandha Widada (42 wayang lakon).

Pakem Ringgit Purwa Warni-warni:
Lakon-lakon: Peksi Dewata, Gambiranom, Semar Mantu, Bangbang Sitijaya, Wangsatama Maling, Thongthongborong, Srikandhi Mandung, Danasalira, Lesmana Buru Bojone Bangbang, Caluntang, Carapang Sasampuning Prang Baratayuda, Parikesit, Yudayana, Prabu Wahana, Mayangkara, Tutugipun Lampahan Bandung, Carangan Ingkang Kantun Jayaseloba, Doradresanala Larase Semarasupi. Bandhaloba, Ambungkus, Lahire Pandhu, Lahiripun Dasamuka, Dasamuka Tapa Turu, Lahire Indrajit, Lokapala, Sasrabahu, Bambang Sumantri, Sugriwa Subali, Singangembarawati, Anggit Dalem, Tutugipun Lampahan Wilugangga, Tunjung Pethak, Gambar Sejati, Bangbang Dewakasimpar, Ingkang Serkarta Jalintangan Suksma Anyalawadi, Samba Rambi, Antasena Rabi, Wilmuka Rabi, Partajumena, Wisatha Rabi, Sumitra Rabi, Sancaka Rabi, Antareja Rabi, Pancakumara Rabi, Sayembara Dewi Mahendra, Sayembara Dewi Gandawati, Sayembara Tal Pethak, Dhusthajumena Rabi, Pancadriya Rabi, Rukma Ical, Ugrasena Tapa, Leksmana Mandrakumara Rabi, Ada-ada Bimasuci, Pandhawa Kaobongan, Sembadra Dilarung and Secaboma (59 wayang lakon).

Pakem Ringgit Wacucal:
Lakon-lakon: Kresna Kembang, Sayembara Setyaki, Erangbaya,Kresna Gugah, Prabu Kalithi, Wilugangga, Waosan Panitibaya Lampahipun Para Dewa, Asmaradahana, Karagajawa dan Sudhamala (11 wayang lakon).

Pakem Wayang Purwa I:
Ki Prawirasudirja Surakarta.
Lakon-lakon: Angruna Angruni, Bambang Srigati, Bathara Sambodana Rabi, Hendrasena, Ramaparasu, Setyaki Rabi, Bagawan Sumong, Doradresana Makingkin, Tuhuwisesa, Sridenta, Bratadewa, Jayawisesa, Janaka Kembar, Jayasuparta, Endhang Madyasari, Sekar Widabrata, Samba Rabi, Partajumena Rabi, Calunthang dan Carapang.

Rabu, 01 Februari 2012

Aneka Macam Gagarak Wayang

Aneka Macam Gagarak Wayang
Seperti pada lukisan, dikenal ada lukisan gaya naturalis, gaya super-naturalis, gaya abstrak, gaya modern dan sebagainya. Seperti itu pula permainan alat-alat gamelan yang lazim disebut ‘karawitan’. Bahkan kita pada masa sekarang, juga mengenal sejumlah seniman karawitan dan/atau wayang yang menonjol dalam suatu gagrak tertentu.


Pagelaran gagrak Surakarta
Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Surakarta (Solo), umumnya sangat mengeksploitas permainan alat-alat gamelan yang eksotis, rumit, dan anggun.

Pagelaran gagrak Yogyakarta
Di kalangan masyarakat awam, gagrak Yogyakarta lebih dikenal sebagai gagrak Mataraman. Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Yogyakarta (Mataraman), umumnya sangat mengekspolitas permainan alat-alat gamelan yang bersifat ‘asli Mataram’, penuh kerakyatan, dan penuh kebebasan berkespresi.

Pagelaran gagrak Banyumasan
Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Banyumasan, lebih dikenal karena sangat dekat dengan gagrak Pesisiran. Umumnya menampilkan pagelaran yang bersifat gembira, penuh kelucuan, kerakyatan, banyak menerapkan ‘senggakan’, dan penuh sorak-sorai kegembiraan.

Pagelaran gagrak Semarangan
Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Semarangan, banyak mengeksploitasi gendhing-gendhing berbasis nada pelog. Gagrak Semarangan bisa dikatakan menerima dominasi yang kuat dari gagrak Surakarta. Meskipun demikian, permainan karawitannya yang banyak mengeksploitasi nada pelog, membuatnya sangat berbeda dan berkesan sangat gagah.

Pagelaran gagrak Pesisiran
Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Pesisiran, merupakan bentuk pagelaran yang paling banyak mengeksploitasi permainan gendhing-gendhing yang berbasis nada ‘slendro barang miring’ (bernada minor). Ini merupakan salah satu kekhasan yang umumnya tidak terdapat pada gagrak lainnya. Karenanya, permainan wayang, karawitan, dan vokalnya; cenderung menampilkan warna dan suasana yang sendu, romantis, dan juga sedih.

Pagelaran gagrak Jawa Timuran
Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Jawa Timuran, mempunyai gaya yang sangat khas dan berbeda dengan gagrak-gagrak lain yang berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Barat. Kesan kuat, merdeka, enerjik, dan garang; sangatlah terlihat tidak hanya pada permainan alat-alat gamelannya, tetapi juga pada bentuk-rupa wayangnya.

Pagelaran gagrak Bali
Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Bali, bisa dikatakan benar-benar bebda dengan yang ada di Pulau Jawa. Banyak orang yang tidak tahu, bahwa gamelan Bali yang dipakai sebagai kelengkapan karawitan wayang gagrak Bali, adalah gamelan berbasis tangga-nada slendro, dan memakai ricikan gamelan berupa gender. Karenanya, pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Bali menjadi sangat eksotis dan sangat anggun. Ini akan merupakan pagelaran yang amat sangat berbeda dengan pagelaran tari Bali misalnya (yang sudah sangat terkenal).

Pagelaran gagrak Sunda
Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Sunda, berkembang sangat pesat sejak sekitar tahun 1970-an. Permainan karawitan gagrak Sunda, mulai menerima banyak perubahan sejak masa itu sampai sekarang. Gaya permainan wayang yang sangat mengeksploitasi tokoh-tokoh wayang tertentu, merupakan salah satu kekhasan pagelaran wayang gagrak Sunda masa sekarang.

Pagelaran gagrak Luar Jawa
Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Luar Jawa, seringkali sangat dipengaruhi kondisi geografis, bahasa, dan adat kebiasaan setempat. Karenanya, pada masa sekarang kita bisa melihat gagrak Luar Jawa ini berkembang di beberapa wilayah yang berbeda, dan menghasilkan bentuk pagelaran karawitan dan/atau wayang yang berbeda-beda pula. Misalnya, pagelaran wayang gaya Jambi, Palembang, Banjar-Masin, Lombok, atau lainnya.

Pagelaran gagrak Cirebonan
Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Cirebonan, bisa dikatakan merupakan gabungan beberapa gagrak yang berbeda. Umumnya, merupakan gabungan gagrak Sunda (yang sangat dominan), gagrak Banyumasan (Jawa), dan beberapa di antaranya juga dengan gagrak Betawi. Pengaruh agama Islam dan budaya Cina, terasa sangat lekat dengan berbagai pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Cirebonan.

Pagelaran gagrak Betawi
Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Betawi, secara umum sangat dipengaruhi oleh gagrak Sunda dan budaya Cina.

Selasa, 01 Februari 2011

Tari Angguk Patumbak

Tari Angguk Patumbak Perpaduan Multi Etnis
Tari tradisional sarat dengan ritual yang bisa menghubungkan penari dengan kekuatan di luar dirinya. Salah satunya adalah tari Angguk. Tarian ini dibawakan secara berkelompok dan mengambil cerita dari Serat Ambiyo dengan kisah Umarmoyo-Umarmadi dan Wong Agung Jayengrono. Durasi tari Angguk berkisar antara 3 sampai 7 jam.


Secara historis, tarian ini sejak abad ke 17 dibawa para mubalig penyebar agama Islam dari wilayah Mataram-Bagelen dan berkembang luas di Jawa Timur. Tarian ini disebut angguk karena penarinya sering memainkan gerakan mengangguk-anggukan kepala. Kesenian bercorak Islam ini mulanya berfungsi sebagai salah satu alat untuk menyiarkan agama Islam. Sayangnya, kesenian ini sekarang semakin jarang dipentaskan.

Perangkat musik yang menyertai tarian ini umumnya terdiri dari kendang, bedug, tambur, kencreng, 2 rebana, terbang (rebana besar) dan angklung. Syair lagu-lagu tari angguk diambil dari kitab Barzanji sehingga syair-syair angguk pada awalnya memang menggunakan bahasa Arab tetapi akhir-akhir ini gerak tari dan syairnya mulai dimodifikasi.

Digerakkan Multi Etnis
Di Medan, seni ini digeluti Motor Seni Angguk Patumbak. Ketua Kesenian Angguk Wijoyo Kesumo Desa Patumbak II, Kecamatan Patumbak, Deliserdang, Heriawan Syahputra (28), mengatakan, seni angguk tak banyak beda dengan seni kuda lumping “kuda kepang”. Sedikit perbedaan terletak pada aliran musik dan lantunan lagu. Dalam kuda lumping, hanya ada iringan lagu, sedangkan di Seni Angguk ada lantunan lagu.
Pria berdarah Cina-Jawa ini menyebutkan, dia memiliki anggota (para penari) yang disebut anak wayang sebanyak 14 orang. Setiap memulai pertunjukan, kepada anak-anak wayang itu terlebih dahulu diperdengarkan lagu mistis berbahasa Jawa hingga anak-anak wayang-anak itu trance, masuk ke tahap kesurupan (ndadi).

Sekumpulan anak-anak muda asal Kota Medan dan Deliserdang itu lalu ‘mabuk’. Alunan musik mengalun seperti mengundang ruh untuk masuk ke raga anak wayang. Mereka ‘mabuk’ seiring tabuhan gendang yang dipukul pemain musik. Bukan hanya anak wayang, para pemain musik pun bisa “mabuk”. Dalam kondisi trance seperti itulah tarian angguk dimulai. Lagu yang dilantunkan untuk menggerakkan penari biasa disebut kepyur-kepyur. Lagu disampaikan sebagai penghormatan kepada orang yang memiliki hajatan, seperti sunatan, pernikahan dan syukuran yang mengundang mereka untuk mentas.

Setelah anak-anak wayang menari dalam waktu tertentu, mereka digiring masuk pada tahap hiburan. Tahap ini merupakan atraksi “mabuk” atau kesurupan danyang ketek “monyet” atau bergaya anak kecil. Setelah itu, anak-anak wayang kembali ke mabuk asli dan tahap memulangkan ruh, dayang kembali ke satu alat bernama gendang. Inilah yang menjadi kewajiban gamboh atau pawang untuk memulangkan personil dengan wujud yang bersih dari ruh. “Ruh ini dikembalikan ke gendang,” ujarnya.

Heriawan Syahputra mengatakan, sebelum menjadi anak wayang, seorang anak muda harus terlebih dahulu diisi melalui ritual khusus yang diberikan pawang. Nah, hal ini tergantung kepada pawangnya bagaimaman memberikan ujian khusus terhadap anggota anak wayang. “Ketertarikan kami kepada seni ini karena sangat dekat dengan mistis, inilah seninya yang tinggi bagi kami,” katanya.

Uniknya, penggiat seni angguk asal Kecamatan Patumbak ini tidak mendapatkan warisan seni itu dari orang tua ataupun membawanya dari Jawa. Mereka tertarik karena melihat dan langsung mempelajarinya dari seorang pembimbing asal Kecamatan Batangkuis, Deliserdang.

Bendahara perkumpulan seni ini, Rudi Tarigan, mereka belajar selama enam bulan pada 2002. Kini mereka mulai eksis dan sudah menyisir sejumlah wilayah di Sumatera Utara. Uniknya, para personil dan anak-anak pawang itu berasal dari berbagai etnis seperti Jawa, Karo, Batak dan Tionghoa. “Kami beragam suku yang jadi penggiat seni ini. Ada Karo seperti saya, Cina-Jawa, Jawa-Sumatera, Batak dan Tionghoa murni,” ujar Rudi.
Rintisan pelajaran seni yang diikuti pemuda ini berawal dari keinginan mengisi waktu luang dan menyalurkan bakat seninya. Ia kemudian betah menekuni seni angguk. Kini, pemuda ini sudah mendapatkan bayaran Rp 700 ribu per sekali tampil. “Tak hanya dari nilai, tapi kami sangat cinta dengan seni ini. Seni ini unik dan enak dilihat,” katatanya.

Walau tak dilahirkan sebagai Jawa, dia mapan memajukan seni angguk asal Jawa Timur ini di Sumut. Namun itu bukan berarti dia mengabaikan seni dari kebudayaannya. “Seni ini sangat sedikit yang mengembangkan, terus karena dekat dengan mistis, saya tertarik,” katanya.
Salah seorang pengurus kesenian ini, Gregi Ilchen (28), pria berdarah Tionghoa, mengaku tertarik dengan seni angguk akibat dekat dengan mistis. Di awal rintisannya, ia mengaku sulit menyalurkan dan melapazkan syair lagunya, tapi karena berbaur dan dibesarkan di lingkungan multi etnis, dia mengikut jiwanya yang senang pada seni.

“Gampang-gampang susah mengembangkan dan mengikuti seni angguk ini. Tapi kalau sudah memiliki jiwa seni, akan sangat mudah dan enak bila ditekuni,” ucapnya seraya mengaku termasuk tiga orang perintis awal seni angguk asal Kecamatan Patumbak.

Kini mereka mendapatkan perhatian, apalagi ketika muncul Gregis Ilchan. Paras Tionghoa yang begitu kentara, membuat penonton tersipu dan heran melihatnya. Tak hanya itu, ada Arpan Sitompul (25) dan pria jawa kelahiran Sumatera Selatan, Jumain (38). Mereka juga mulai mendapatkan donatur yang membantu kelengkapan alat dan pakaian dari H Misran Tupono, seorang jawa yang peduli. Begitulah seni angguk yang langka dan tidak populer, dikelola sebagai wadah persatuan multietnis. (ril/net)
http://www.hariansumutpos.com

Selasa, 01 Januari 2008

AJARAN SEKS DALAM SERAT NITIMANI

Dalam budaya Jawa norma serta aturan dalam melakukan hubungan seksual diturankan oleh orang Jawa melalui ajaran kepada keturunannya baik dalam betuk lisan atau tertulis. Dalam bentuk tertulis ajaran tersebut tertuang dalam karya sastra yang telah ada sejak zaman dulu. Karya-karya sastra yang mengangkat tema asmaragama antara lain :




  1. Serat Gatholoco.
  2. Serat Damogandhul.
  3. Suluk Tambangraras (Serat Centhini).
  4.  Serat Nitimani.



Dalam budaya Jawa diajarkan bahwa untuk menghasilkan sesuatu yang baik maka proses awal penciptaan juga harus baik dan dengan restu Tuhan sebagai Sang Maha pencipta. Demikian pula dengan proses hubungan seksual yang tujuan utamanya adalah menghasilkan keturunan. Untuk mendapatkan keturunan yang baik dalam segala hal, kehadirannya di sunia ini haruslah melalui niat awal yang baik serta proses hubungan seksual yang benar dan tepat. Untuk dapat berhubungan seksual dengan baik maka dibutuhkan pengetahuan mengenai segala hal tentang seks. Pengetahuan mengenai hubungan seksual sangat dibutuhkan karena akan berhubungan dengan kehidupan selanjutnya. Jika prosesnya sudah salah, maka akibat yang ditimbulkan akan buruk, bukan hanya bagi anak yang dihasilkan tetapi bagi keseimbangan serta keselarasan kehidupan ini. Kesalahan dalam proses berhubungan seksual dalam budaya Jawa dikenal dengan istilah kama salah. Maka untuk mencegah terjadinya kama salah manusia harus memiliki pengetahuan yang cukup mengenai tata cara hubungan seksual.


Dengan pengetahuan yang memadai maka diharapkan orang dapat berpikir lebih jauh mengenai hubungan seksual sehingga tidak melakukannya dengan sembarangan karena akibatnya sangat fatal bagi keberlangsungan hidup umat manusia dan keselarahan hubungannya dengan alam sekitar tempat manusia hidup. Akibat yang fatal tersebut muncul pada keadaan masyarakat sekarang dimana banyak orang mulai melakukan hubungan seks tanpa mengindahkan norma serta etika yang berakibat pada munculya masalah-masalah dalam kehidupan masyarakat sepeti pemerkosaan, semakin banyak anak-anak terlantar hingga terjadinya peningkatan kriminalitas.


Dalam kasanah budaya Jawa terdapat ajaran atau pedoman moral, nilai dan kaidah bagaimana cara melakukan hubungan seks yang benar dan tepat, sebagaimana dalam Serat Nitimani berikut cuplikan-cuplikan yang berkaitan dengan Ajaran dimaksud :


Lamun tandhing, marsudya ing tyas ening, namrih ering, kang supadi tan kajungking. (pupuh 2)


Apabila sedang bertanding, usahakanlah hati tetap hening, agar konsentrasi tetap terjaga, supaya tidak terkalahkan.
Yang dimaksud dengan “bertanding” dalam hal ini adalah analogi dari persetubuhan.


Yen sembrana, den prayitna sampun lena, lamun ina, sayek amanggih weda. (pupuh 2)


Apabila ceroboh, waspadalah jangan sampai lengah, sungguh sangat menyakitkan.
Kata ceroboh maksudnya adalah dalam konteks persetubuhan agar tetap waspada di dalam melakukan hubungan seksual sehingga tidak mengalami hal-hal yang tidak diharapkan.


Lamun cuwa, sampun kawiscareng netya, wrananana, ing suka dhanganing karsa, kang supadya, datan manggih dirgama. (pupuh 2)


Apabila tidak puas, janganlah terlihat di wajah, tutupilah, dengan wajah yang ceria, agar supaya, tidak mendapat kesulitan.
Tidak puas yang dimaksud disini, masih dalam konteks hubungan seksual yaitu keadaan dimana salah satu pihak belum mencapai titik kepuasan atau orgasme.


Lamun gela, jroning nala sampu daga, sengadiya, langkung condong ing wardaya, pamrihira, kang pinanduk tan legawa. (pupuh 2)


Apabila kecewa, janganlah membrontak dalam hati, niatilah, untuk lebih berlapang dada, dengan harapan, agar ketidakpuasan tidak berlarut-larut.
Kecewa dalam ungkapan ini masih dalam konteks hubungan seksual dan tidak mencapai kepuasan.


Lamun lingsem, ing gunem aja katingkem, lamun amem, yekti katara ing klecem. (pupuh 2)


Apabila terjerat rasa malu, janganlah membisu, karena bila berdiam diri, niscaya akan terlihat di wajah.
Ketika seorang laki-laki mengalami kegagalan di dalam berhubungan seksual karena hal-hal tertentu, maka disitulah dia akan merasa sangat malu.


Lamun harda, sampun dadra murang krama, mrih widada, pakartine kang utama. (pupuh 2)


Apa bila punya keinginan, janganlah lepas kendali menerjang etika, agar selamat, utamakanlah sikap luhur.
Keinginan maksudnya adalah dalam hal ingin melakukan hubungan seksual maka jangan sampai lepas kendali, harus tetap memperhatikan etika.


Yen anglaras, penggagas aja sampun kabrangas, dimen awas, ing pamawas datan tiwas. (pupuh 2)


Jika sedang menikmati sesuatu, janganlah kesadaran terlena, agar tetap siaga, kewaspadaan tak akan tiwas.
Maksudnya adalah jika sedang berada dalam kenikmatan berhubungan seksual, kewaspadaan dan kesadaran diri haruslah tetap dijaga, supaya tidak menemui tiwas atau maut.


Yen cecegah, den betah gonira ngampah, nganggah-anggah, yeku pakarti luamah. (pupuh 2)


Selama mengendalikan diri, bersabarlah menahan hawa nafsu, lepas diri tanpa kendali, merupakan prilaku serakah.
Orang harus belajar mengendalikan nafsunya (nafsu dalam konteks ini adalah nafsu birahi) agar tidak kelepasan sehingga menyebabkan sesuatu yang tidak baik.


Wanita punika, upami papan badhe pandhedhering wiji, saestunipun kedah milih ingkang prayogi. (pupuh 3)


Peranan wanita itu ibarat lahan untuk menabur benih, sehingga haruslah memilih lahan yang bagus.
Dalam melakukan hubungan seksual, maka haruslah dicamkam bahwa hasil dari perbuatan itu adalah adanya seuatu mahkluk baru sehingga tidak boleh dilakukan sembarangan dan pasanganyapun harus dipilih baik-baik.


Para sujanma priya yen badhe amilih dhateng wanodya, kaagem pantesing pala krami, anyeplesana dhateng suraosing tetembungan tiga : bobot, bebet, bibit. (pupuh 3)


Kaum Pria yang bermaksud memilih sorang wanita untuk dinikahi, hendaknya memperhatikan tiga hal : bobot, bebet, bibit.
Untuk mempersiapkan keturunan yang baik, maka harus juga dicari pasangan (wanita) yang baik dan memenuhi criteria-kriteria tertentu. Dalam budaya Jawa, ada tiga hal paling penting yang harus diperhatikan yaitu ; bibit, bebet, dan bobot.


Ingkang rumiyin tembung bobot, pikajengipun amiliha wanita ingkang asli. (pupuh 3)


Pertama kata bobot, maksudnya pilihlah wanita sejati.


Wanita, ingkang badhe kapendhet wau amiliha darah ing supudya…. (pupuh 3)


Wanita yang kita pilih hendaklah seorang wanita yang memiliki garis keturunan orang-orang terpilih…..


…. Pramila anitik sarasilah darajatin bapa, ing sapanginggil, gerbanipun, sinten manungsa ingkang winahyu, sayekti awit saking rahayuning batos, dene rahayuning batos punika terkadang kapinujon, asring pinareng tumus mahanani dhateng wewatekaning atmajanipun. (pupuh 3)


…. sehingga cara paling mudah ditempuh adalah dengan melihat garis silsilah leluhur sang ayah, karena wahyu cenderung jatuh pada orang-orang yang memiliki keseimbangan batin, dan keseimbangan olah batin tersebut biasanya mampu menurun pada sang anak.


Ing sapunika kula dumugekaken tembung bibit, pikajengipun, tumrap dhateng wanita ingkang badhe kapendet wau, amiliha ingkang sae warninipun saha ingkang kathah kasagedanipun. (pupuh 3)


Sekarang sampai pada istilah bibit, maksudnya, wanita yang akan dipilih, hendaklah yang rupawan sekaligus memiliki banyak ketrampilan.


…. Kadosta manising ulat, indah ayuning warni, dhemes prigeling solah, punika among kangge minangka sarana amemalat dhateng thukuling sesenenganipun para priya, pramila lajeng wonten pralambang tembung paribasan : “bebukaning pala krami dudu banda dudu rupa amung ati pawitane”, tegesipun dudu banda punika sanes kasugihanipun raja brana, dudu rupa tegesipun sanes ayu indahing warni, ingkang binasdakaken condong utawi jodho. (pupuh 3)


…. kecancitan fisik seringkali hanya didudukkan sebagai wahana kepuasan kaum laki-laki, oleh karena itu ada peribahasa : “bebukaning pala krami dudu banda dudu rupa amung ati pawitane”, (permulaan pernikahan bukan harta benda dan rupa, hanyalah hati sebagai titik awal keberangkatan). Yang dimaksud bukan harta adalah bukan kekayaan, sedangkan bukan rupa adalah bukan kecantikan wajah, yang kemudian disebut sebagai jodoh.


Untuk mengesahkan suatu hubungan seksual, maka pasangan haruslah melewati tahap pernikahan. Pernikahan tersebut menyatukan dua pribadi yaitu laki-laki dan wanita dalam ikatan yang abadi. Supaya tidak mengalami penyesalan, maka pernikahan haruslah didasari dengan hati sesuai dengan peribahasa tersebut, meskipun ada faktor-faktor lain yang juga harus menjadi bahan pertimbangan.


Punika amung dumunung wonten seneng parenging panggalih, runtut utawi rujuk kalih-kalihipun, temahan sami angrumentah ing bapak kaliyan anak, dene panganggepe bapa binasakaken kencana wingka, pikajengipun tembung makaten wau tur kawujudanipun warni wingka, katon warni kencana. (pupuh 3)


Hal itu hanyalah terdapat pada kecocokan hati, kesesuaian dan keharmonisan antara keduanya, hingga kemudian menumbuhkan kasih sayang antara ayah dan anak, sayang ayah lantas mengiaskan sebagai kencana wingka, maksud dari ungkapan tersebut adalah meskipun kenyataan wujudnya berupa wingka (loyang) namun tampak seperti kencana (emas).
Dalam memandang pasangan hidupnya, perlulah diingat ungkapan kencana wingka. Walaupun wujudnya hanyalah loyang, akan tetapi tampak seperti emas. Jadi meskipun pasangan hidup tidaklah mempunyai rupa yang sempurna, akan tetapi haruslah bisa dilihat kecantikan yang terpencar dari hatinya.


Pala krami punika terang yen gumantung wonten ing kasenenganing priya pyambak-piyambak, dene kasenengan wau boten kenging katemtokaken, liripun makaten kadosta indah ayuning warna boten temtu ndadosaken kasenenganing priya. (pupuh 3)


Perkawinan itu hanyalah berdasarkan kesenangan pribadi kaum lelaki masing-masing, sedangkan rasa sukanya tidak dapat ditentukan, artinya kecantikan wajah ternyata belum tentu menimbulkan rasa cinta kaum priya.
Perkawinan merupakan atau ikatan yang sakral, sehingga untuk melaksanakannya harus dicari pasangan yang benar-benar tepat. Artinya, tidak bisa dilihat hanya dari fisiknya saja.


Supados angatos-atos ing pamilihipun, karana menggah dununging wanita punika tumrapipun dhateng priya, binasakaken amung, swarga nunut liripun makaten yen pinuju saged mimbuhi dhateng seneng tuwin asringing prajanipun, yen pinuju lepat ing pamililipun mangka angsal wanita ingkang ambeg durta, tegesipun pawestri ingkang awon kelakuwanipun punika badhe saged narik damel sangsaraning priya. (pupuh 3)


Berhati-hatilah dalam memilih, sebab kedudukan wanita bagi kaum priya diibaratkan swarga nunut maksudnya adalah tatkala hidupnya diliputi kebahagian, posisi wanita seolah hanya sebagai pelengkap hiasan kebahagiaan tersebut, sedangkan bila sang priya salah memilih, artinya wanita yang didapat bukan tergolong wanita baik, maka akan menimbulkan kesengsaraan bagi si pria itu sendiri.
Bagian ini adalah sikap manusia Jawa dalam hal kedudukan wanita bagi kaum pria dalam hal rumah tangga (termasuk didalamnya urusan hubungan seksual) yaitu diibaratkat swarga nunut neraka katut yaitu jika suami memberikan hal-hal yang baik maka sang wanita juga pasti akan menikmati segala hal yang baik juga.


Pramila saderengipun kapendhet garwa sasaged-saged kapratitisna ing pamilihipun, awit bilih sampun kalajeng rumentah ing sih kawelasan tuwin katresnan, saestu awrat ing pambiratipun, temahan badhe ngengetaken dhateng tumempuhing kasangsaran. (pupuh 3)


Oleh karena itu sebelum menentukan pilihan terhadap pasangan hidup hendaklah berhati-hati dalam memilih, karena bila terlanjur maka cukup sulit mengatasinya, akhirnya malah sering menimbulkan ketidakbahagiaan.
Jika ingin berhubungan seksual, alangkah baiknya jika pasangan sudah terikat dalam ikatan pernikahan, dan karena sifatnya yang sakral maka diharapkan jangan sampai salah memilih serta berhati-hatilah karena dampaknya sangat besar bagi kelanjutan kehidupan.


…. wanodya ingkang indah ing warni, sarta pantes ing solah bawa lan ambeg tepa ing rasa, tuwin dana ing tepa utawi ingkang temen tobatipun rila dhateng ing atasing kasaenan, sabab kalakuwaning wanodya ingkang mekaten wau watak lajeng kasaenan sarta kinurmatan ingkang kakung, awit pambekaning wanita ingkang makaten punika angrabasa dhateng bedudhening priya ingkang lajeng saged nukulaken dumateng rumentahing kawelasan tuwin katresnan. (pupuh 3)


…. wanita yang cantik baik lahir maupun batin, wanita yang demikianlah yang dihormati oleh setiap laki-laki. Seorang wanita dengan modal kecantikan lahir batin sesungguhnya akan mampu meruntuhkan dinding hati laki-laki yang ada di hadapannya akan bertekuk lutut menyerahkan segenap cinta dan kasih sayangnya.
Buadaya Jawa memandang tinggi posisi wanita. Ada suatu sikap dalam hal memandang soerang wanita yaitu dari kecantikannya, bukan hanya dari segi fisik tetapi juga dari kecantikan hatinya (cantik lahir dan batin), dan wanita yang memiliki kecantikan lahir dan batin itulah yang menjadi istri dambaan setiap pria untuk menjadi pasangan hidupnya.


Tepa ing rasa (rasa tepa) punika pikajengipun sageda sumingkir saking lumuh tuwin rikuh ing liyan, sabab yen boten kadunungan tepa ing rasa (rasa tepa) wau sok ngawontenaken watak iren tuwin meren, ingkang pandukipun lajeng direngki. (pupuh 3)


Tepa ing rasa maksudnya mampu menghindarkan diri dari sikap benci terhadap orang lain, karena jika tidak memiliki sifat tersebut terkadang menimbulkan watak iri yang ujungnya adalah kedengkian.
Dalam konteks pengajaran mengenai seks, hal yang paling penling utama untuk diperhatikan adalah bagaimana cara memilih qwanita yang baik agar kehidupan rumag tangga beserta seluruh aspek didalamnya dapat berjalan dengan lancar. Oleh sebab itu ada beberapa ciri-ciri wanita yang ideal sebagai pasangan agar tujuan hidupnya dapat tercapai.


Dana ing tepa, punika pikajengipun sageda sumingkir saking panyaru tuwin panyikuning liyan, sabab yen boten kadunungan dana ing tepa wau, asring ngawontenaken watak : dahwen tuwin salah open ingkang pandukipun lajeng dados srei. (pupuh 3)


Dana ing tepa, artinya mampu menjauhkan diri dari hasrat menyakiti serta menyengsarakan orang lain, sebab bila tidak memiliki sifat tersebut, cenderung memunculkan watak serakah yang akhirnya menjelma menjadi jahat.


Temen tobatipun rila, punika pikajengipun tobat ingkang kalebetan temen lan rila. Pramila pikantukipun pawestri ingkang makaten wau lajeng kinurmatan ing kakung. (pupuh 3)


Temen tobatipun rila, artinya taubat yang dilandasi kesungguhan dan keikhlasan, sehingga seorang wanita yang mampu bersikap demikian akan disegani oleh setiap laki-laki.
Samangke pamuji kula malih mugi sageda angsal wanodya ingkang kadunungan watek : sama, beda, dana, denda. Tembung sama tegesipun pada, pikajengipun gadhahana wewatek asih dhateng sakehing dumadi. 


Beda tegesipun seje, geseh utawi milah, pikajengipun anggadhahana watek kulina sarta saged animbang, inggih punika putusing tepa. Dana tegesipun neganjar, pikajengipun gadhahana watek remen asung kasenengan tuwin kabungahan dahteng sakehing dumadi. Denda tegesipun kukum, pikajengipun gadhaha watek putus lan patitis, pamiyak tuwin milih nalar ingkang awon utawi dhateng ingkang sae, anggenipun ngempan utawi mapanaken. (pupuh 3)


Berikutnya harapan saya semoga anda mendapatkan wanita yang di dalam dirinya terdapat sifat-sifat sama, beda, dana, denda. Kata sama, berarti merasa sama, maksudnya memiliki rasa sayang pada sesama mahkluk. Kata bedha, berarti tidak sama, maksudnya memiliki sifat mengutamakan pertimbangan sebagai wujud kearifan. Kata dana berarti memberi imbalan, maksudnya hendaklah memiliki sifat mudah memberi kepada sesama. Kata dendha, berarti hukum, maksudnya memiliki sifat teliti dalam menentukan sesuatu sehingga tepat memilih mana yang baik dan yang buruk.


Dalam Budaya Jawa wanita dianggap sebagai “wadah” dari benih yang akan ditanam oleh laki-laki dan karena itu maka haruslah dicari wanita yang terbaik. Selain dari tiga faktor utama (bibit, bebet, bobot), seorang wanita yang baik juga harus memiliki sifat-sifat tertentu.


Ingkang kaping kalih kala wau sageda uninga panduking guna, busana, baksana lan sasana wewijanganipun makaten :

  1.  Guna tegesipun pangawikan utawi kapinteran, pikajengipun sageda sumerep lan mangretos dhateng wewenang lan wajibing lan pandamelaning pawestri.
  2.  Busana, tegesipun pangangge, pikajengipun sageda uninga lan ngetrapaken dhateng raja tadi darbekipun ingkang pancen kasandhang.
  3. Baksana tegesipun pangan, pikajengipung sageda uninga lan nandukaken ubet kekayaning laki ingkang pancen katedha.
  4. Sasana, tegesipun dunung utawi panggenan, pikajengipun sageda uninga tuwin memantes lan memangun anggenipun gegriya. (pupuh 3)



Yang kedua, hendaklah memiliki kepekaan terhadap guna, busana, baksana, dan sasana. Adapun penjelasannya sebagai berikut :

  1. Guna berarti ketrampilan atau kepandaian maksudnya adalah tanggap terhadap tugas dan wewenang sebagai seorang istri.
  2. Busana berarti seorang wanita haruslah memiliki kepekaan terhadap penampilan serta pakaian miliknya secara proporsional.
  3. Baksana berati pangan, maksudnya memiliki ketrampilan mengatur keuangan/penghasilan suami secara proporsional.
  4. Sasana yang berarti rumah atau papan, maksudnya memiliki ketrampilan untuk mendekar dan menghias rumah dengan indah.



Selain sifat, wanita yang baik juga harus dapat membuat dirinya terlihat menarik agar laki-laki yang menjadi pasangan hidupnya tetap setia dan tetap bisa menjaga hubungan (termasuk dalam hubungan seksual). Hal tersebut dikarenakan pria dan wanita haruslah senantiasa bekerja sama dengan baik untuk dapat mempersiapkan segala hal demi menyambut kehadiran manusia baru sebagai hasil dari hubungan seksual yang mereka lakukan.


Ingkang kaping tiga kala wau ambeging pangrengkuh ingkang sawanda, saeka praya lan sajiwa, wijanganipun mekaten :

  1. Sawanda, tegesipun sarupa, sawangu utawi sawarna, pikajengipun sedya nyawiji badan, empan mapanipun gadhahana ambeg pangrengkuhipun lan rumeksanipun dhateng priya dipunkados rumeksa dhateng badanipun piyambak.
  2. Saeka praya, tegesipun sawiji budi, pikajengipun gadhahana ambeg pangrengkuhipun dhateng priya anedya nunggil kapti.
  3. Sajiwa, tegesipun satunggiling nyawa, pikajengipungadhaha ambeg pangrengkuhipun dhateng priya dipun kados dhateng nyawanipun piyambak. (pupu 3)



Yang ketiga adalah dalam hal kesetiaan hendaklah memiliki sifat-sifat sawanda, saeka praya, dan sajiwa, penjelasannya sebagai berikut :

  1.  Sawanda yang berarti serupa, sebangun, atau sewarna. Maksudnya, wanita tersebut bersedia menyatu tubuh dengan cara saling memahami, menjaga suaminya sama seperti menjaga dirinya sendiri.
  2. Saeka praya artinya dapat menyatukan kehendak dengan kehendak suaminya yang tujuannya demi kebaikan, maka sang istri harus merasakan sebagaimana kehendak diri pribadi.
  3. Sajiwa berarti sehati. Maksudnya adalah sikap istri terhadap suami sama seperti terhadap diri sendiri.



Menggah pawestri ingkang sampun nambut silaning akrami, punika kedah netepi punapa ingkang kados wajibing estri kathahipung tigang pangkat, satunggil-tunggiling pangkat wonten tigang pakarti :

  1. Kedah gemi, nastiti, ngati-ati.
  2. Kedah tegen, rigen, mugem.
  3. Kedah titi, rukti, rumanti. (pupuh 3)



Bagi wanita yang telah berumah tangga hedaklah melaksanakan apa yang menjadi tugas seorang istri, dalam hal ini berjumlah tiga tingkatan, masing-masing terdapat tiga komponen perilaku :

  1. Hendaklah gemi (hemat), nastiti (cermat), ngati-ati (hati-hati).
  2. Hendaklah tegen (tidak mengecawakan, rigen (trampil), mugen (meyakinkan).
  3. Hendaklah titi (teliti), rukti (manfaat), rumanti (merata).



Dene panduking damel kedah nglenggahi gangsal prakawis :

  1. Kedah rikat.
  2. Cukat.
  3. Prigel.
  4. Trampil. (pupuh 3)



Sedangkang dalam hal bekerja hendaklah memiliki lima sifat :

  1. Cepat.
  2. Tangkas.
  3. Cekatan.
  4. Lihai.
  5. Terampil.



Menggah labetipun kedah kados ing ngandhap punika :

  1. Kedah ishep, madhep, mantep, sregep.
  2. Kedah wekel, petel, nungkul, atul. (pupuh 3)



Perihal pengabdian, hendaklah seperti di bawah ini :

  1.  Hendaklah dilandasi kejernihan berpikir, niat, kesungguhan, rajin.
  2. Hendaklah tekun, telaten, tanpa kenal lelah, sabar.



Lampahing asmaragama, kalamunpasta purusa dereng kiyat lan santosa, ing driya ajwa kasesa, nandukaken pancakara, kang mangkono wau mbok manawa, blenjani neng wiwara, dayane datan widada, temah dela kang wardaya, terkadang amanggih ewa, lan wanita lawannya, marga tan kapadang karsa, tiwas wadi wus kabuka wekasan tan mantra-mantra, tumimbang serenging driya, wangune salah mangkana, yeka kena ing rubeda, aran katitih asmara, awit dereng abipraja, duk wau kagyating pasta, iku uga mbok manawa lagya kaserenging daya, mung sengseming driya harda, sinerus lumaksana, kasengka mangsa ing yuda, marma dayane sapala, tan lama nulya marlupa, kacarita inggih punika, awit rahsa tuwin jiwa, dereng winengku samya dening prabanira Hyang Pramana. (pupuh 6).


Penerapan asmaragama adalah apabila senjata yang dimiliki laki-laki belum siap tempur maka janganlah terburu-buru melakukan pertandingan, karena pertandingan tentu tidak akan berlangsung seru. Sang laki-laki tentu tidak akan mampu bertahan lama, dan si wanita sebagai lawan bertanding pasti tidak akan merasa puas. Janganlah menantang bertanding hanya karena dorongan nafsu, sebab jika laki-laki kalah hanya dalam beberapa jurus saja akan sangat memalukan, ia akan dianggap sebagai laki-laki lemah, loyo, dan tidak ada gunanya.


Dalam konteks pengajaran seks dalam Serat Nitimani, bagian penerapan asmaragama adalah cara bagaimana melakukan hubungan seksual yang baik dan benar. Cara adalah teknik yang dipakai dalam rangka memenuhi proses perubahan dengan mempunyai tujuan yang lebih khusus.


Dene ingkang binasakaken kasor prabawa wau mbok menawi patrapipun makaten, empaning cipta boten kapandan dening mapaning praman, ing wekasan prasa tuwin rahsa katamaning raos welas utawi engah, inggih rubeda patrap makaten wau ingkang binasakaken tumanding kang sanes bangsa. (pupuh 6)


Yang dimaksud kalah wibawa adalah perasaan yang dikalahkan atau diharapkan semula ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Akhirnya bukanlah kenikmatan yang dirasakan melainkan rasa lelah bahkan mungkin terasa sakit. Kondisi seperti itulah yang disebut tumanding kang sanes bangsa.
Hubungan seksual lazimnya melibatkan dua pihak yaitu laki-laki dan wanita. Dalam melakukan persetubuhan, maka keduanya haruslah sama-sama sedang berada dalam kondisi yang baik. Jika salah satunya mengalami sesuatu yang buruk maka imbasnya akan terkena pada kedua pihak.


Pramila pamilihing wanita kedah ngatos-atos, karana bilih kaleresan angsal wanodya ingkang prasaning rahsa, ingkang nunggil bangsa, punika lajeng nggendam langgengin asmara, saniskaraning rubeda, temah mahanani susila pamoring lulut, awit binuka langgening pramana, dene ingkang binasakaken susila pamoring lulut wau, woring sekaliyan binuka tanpa rubeda, amung pinanggih seneng pareng. (pupuh 6)


Oleh karena itu hendaklah berhati-hati dalam memilih pasangan hidup, karena jika pilihan anda tepat, anda akan benar-benar terikat dan bahagia lantaran anda akan merasakan kenikmatan secara paripurna, tanpa satupun rintangan yang menghalangi kecuali kepuasan yang terus meliputi.
Bagian ini menjelaskan mengenai sikap dalam konteks pengajaran seksual, yaitu bagaimana bertindak dalam hal memilih pasangan hidup agar tidak salah sehingga dapat tercapai kenikmatan dan jauh dari rintangan.


Kalamun pasta purusa wus kiyeng kiyat santosa, kwehning daya wus samekta, iku nulya tindakena umangsah ing ranonggana, sayekti datan kuciwa tumempuhing banda yuda. Nanging ta dipunprayitna, ing tindak ajwa sembrana, gyaning bakal nuju prasa, mring wanita mengsahira, supaya leganing driya, wruhanta dipunwaspada. (pupuh 6)


Ketika senjata pusaka laki-laki telah siap tempur, segenap kekuatan siaga, maka segeralah memulai pertandingan. Niscaya pertempuran tidak akan mengecewakan. Namun tetaplah waspada, jangan ceroboh. Ketika menghujamkan serangan terhadap senjata lawan, hendaklah mengutamakan kewaspadaan.
Ini adalah bagian cara dalam hal pengajaran seks dalam Budaya Jawa.


Pameting rahsa mangkana, srana ngagema wisaya, pratingkah ukeling pasta, kacarita solahira, duk murwani lumaksana, karya pepucuking yuda, kwehning daya saniskara, ajwa sineru sarasa, ing tindak kesah saranta, pangangkah amung muriha, keri prasaning wanita. (pupuh 6)


Dalam keadaan demikian, kendalikanlah tata gerak senjatamu, janganlah tergesa-gesa untuk lekas selesai, dengan tujuan agar wanita yang menjadi lawanmu merasa terlayani dan hasrat bertempur akan semakin memuncak.


Bagian ini masih mengajarkan cara mengenai bagaimana tindakan yang benar dalam berhubungan seksual.
E kulup sira sang pasta, poma ngger dipunprayitna, panarik sendaling gada. (pupuh 6)
Hendaklah berhati-hati dalam melepaskan senjata gada.
Senjata gada yang dimaksud dalam konteks ini adalah alat kelamin laki-laki yang akan dilepaskan atau dimasukkan ke dalam alat kelamin wanita.


Kang iku den engetana, tembe sakaro tan kena, yen maning mangsah angayuda, kalamun durung nirmala, kudu temen tinumna, waluya sakalihira, mangkana ujuring salaka……. (pupuh 6)


Janganlah melakukan pertandingan sebelum kondisi benar-benar pulih, demi menghindarkan diri dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Dalam konteks pengajaran seksual, maka bagaian ini mengajarkan tentang bagaimana seharusnya tindakan laki-laki ketika dirinya sedang dalam kedaan yang tidak maksimal.


Wondene, menggah patrap salebetipun sanggama wau, priya kedah mawas ulat liringing wanita punapa dene saliranipun piyambak, ten sampun kapanduking panggalih : lega, carem, tuwin marem sesaminipun upami tiyang nenedha, karaos sampun tuwuk. (pupuh 6)


Padahal, selama proses pertempuran laki-laki wajib memperhatikan lawan main untuk mencapai kepuasan bersama. Ibarat makan, sama-sama merasakan kenyang.
Bagian ini juga merupakan ajaran mengenai bagaimana tindakan yang tepat saat sedang melakukan hubungan seksual.


Kedah manggen wonten gajeging gela, sampun kadamel lega, prasaning rahsa kawudhara, ing riku wujuding wisaya. (pupuh 6)


Hendaklah membangun rasa penasaran, jangan merasa puas, bangkitkan kembali dorongan seksual anda, karena disitulah ruang kenikmatan.
Bagian ini mengajarkan bagaimana seharusnya bersikap dalam berhubungan seksual ketika akan memulai pertandingan lagi.


….awit aji asmara punika kangge sarana lelantaran anggenipun badhe nyumerepi “dhateng asal wijinira” manungsa sejati, karana ingkang kasebut tembung paribasan makaten : sinten manungsa ingkang boten uninga dhateng asal wijinira, sayektine inggih datan uninga dhateng sejati paraning sedya, kacariyos ing tembe inggih badhe kirang sampurna ing kamuksanira. (pupuh 6)


Ilmu asmara merupakan sarana untuk mengetahui asal muasal manusia, seperti peribahasa barang siapa yang tidak mengetahui asal usulnya sesungguhnya juga tidak akan mengetahui kemana tujuan hidupnya, niscaya kelak hidupnya tidak akan sempurna.
Hubungan seksual merupakan masalah yang sangat penting dalam Budaya Jawa karena hasilnya adalah sebuah kehidupan baru. Maka dari itu diajarkan agar sebelum melakukan hubungan seksual haruslah disiapkan segala-galanya agar hasilnya juga sempurna dan mengerti asal kemana ia akan berakhir.


Yen pinareng dening Pangeran ingkang Maha Suci, kinen dados lantaran nitehaken manungsa. (pupuh 6)


Apabila Tuhan memperkenankan, pertandingan tersebut akan menjadi sarana dan wahana untuk menciptakan manusia.
Hubungan seksual yang benar akan direstui oleh Tuhan dan diberikan hasil yang benar pula.


Kasebut wonten wewijangan ngelmi, ingkang kaping nem dipunwastani kayektening kahanan Kang Maha Suci, inggih menika pambukaning tata malige ing dalem Betal Mukadas awit dene pamejangipun ambuka kodrat predating Pangeran kang Maha Suci Sejati, anggenipun kersa jumenengaken maligening Dad, minangka Betullah katata wonten kontholing manungsa…. (pupuh


Disebutkan dalam ajaran ilmu keenam dinamakan keberadaan Yang Maha Suci yaitu pembukaan tata malige dalam Betal Mukadas, dikarenakan Tuhan telah berkehendak menempatkan mahligai Zat sebagai Baitullah yang berada di buah Zakar manusia.
Dalam hal hubungan seksual, maka yang paling penting adalah peranan alat kelamin sebagai media utama. Budaya Jawa mengajarkan mengenai konsep alat kelamin pria sebagai sesuatu yang penting karena merupakan bagian dari tempat persemayaman juga.


Sejatine ingsun nata malige ana ing sajroning Betal Mukadas iku omah enggoning pasucian ingsun, jumeneng ana kontholing Adam, kang ana ing sajroning konthol iku pringsilan, kang ana ing sajroning pringsilan iku nutpah, iya iku mani, sajroning mani iku madi, sajroning madi iku manikem, sajroning manikem iku rahsa, sajroning rahsa iku ingsun, Dad kang anglimputi ing kahanan jati jumeneng ana ing sajroning nukat gaib….. (pupuh


Sebenarnya Aku meletakkan tahtaKU dalam Betal Mukadas. Itu adalah tempat pesucianKu, yaitu berada di zakar Adam. Yang berada di zakar itu adalah buah pelir, yang berada dalam buah pelir adalah nutfah, yang berada dalam nutfah adalah mani. Di dalam mani ada madi. Di dalam madi ada manikem. Di dalam manikem ada rahsa. Di dalam rahsa ada Aku, tiada Tuhan selain Aku, zat yang meliputi segalanya bertahta dalam alam gaib.
Dalam ajaran mengenai konsep seks dalam Budaya Jawa, maka diterangkan pula apa sebenarnya alat kelamin itu sebagai sarana utama dalam hal seks. Dalam Budaya Jawa diajarkan bahwa tubuh manusia adalah manifestasi dari Tuhan itu sendiri dan alat kelamin milik pria masing-masing bagiannya adalah perwujudan dari unsur ke-Tuhanan sehingga tidak boleh digunakan sembarangan karena suci sifatnya.


Yen priya lan wanita anggenipun sami sahresmi pamudharin prasa sesarengan, woring kama mangka pinareng dening Pangeran Kang Maha Mulya badhe nitahaken manungsa, punika woring kuma wau lajeng kendel dumunung wonten guwa garbaning wanita, binasakaken garbini inggih punika meteng. (pupuh


Bila seorang pri dan wanita bersetubuh, pertemuan kama diperkenankan oleh Tuhan Yang Maha Esa, akan ditaksirkan manjadi manusia. Bersatunya kama (seperma dan sel telur) tersebut kemudian akan berdiam diri di rahim wanita yang kemudian disebut hamil.
Tujuan dari hubungan seksual salah satunya yang paling penting adalah untuk menghasilkan keturunan. Benih manusia yang hadir di rahim wanita itu bisa ada hanya karena restu dari Tuhan.


….saleresipun tiyang estri ing asmara boten malih, amung kedah anut ing ombak kasagedaning priya…. (pupuh 19)


Sesungguhnya dalam bersenggama seorang wanita harus mengikuti kemauan laki-laki.
Hal-hal tersebut adalah ajaran tentang tindakana yang tepat bagi wanita dalam hal berhubungan seksual.


Wonten malih gelaring wanita yen nuju sinanggama ing priya, lajeng ambiyantu ing solah obahing raga raga dadosaken keras maju sunduring pasta, pratingkah makaten wau sedyanipun supados simbuhi sakecaning prasa…. (pupuh 19)


Adapun tingkah laku wanita ketika bersenggama sebagiknya mengimbangi gerak pria yang bertujuan untuk menumbuhkan rasa nikmat.
Dalam berhubungan seksual diajarkan mengenai bagaimana sikap seorang wanita agar kegiatan hubungan seksual bisa mencapai tujuan yang diinginkan yaitu dapat mengimbangi gerakan laki-laki.


Kisanak, bebakunipun ingkang prelu kedah waskita, sageda nuju karsaning priya, ing solah kedah anut ing kersaning kakung. (pupuh 19)


Saudara, yang [erlu diperhatikan adalah kewaspadaan. Hendaknya wanita tanggap terhadap kehendak laki-laki.
Selain menyeimbangkan gerak, wanita juga harus tanggap dan mengerti apa yang menjadi kehendak laki-laki.


Awit wujudipun ingkang kawastanan labet wau inggih guna, tegesipun kapinteran, ingkang dipunwastani guna punika inggih sarana, tegesipun piranti, ingkang binasakaken sarana punika inggih : mantra, tegesipun muna, ingkang dipunwastani mantra punika inggih dunga tegesipun muni, ingkang binasakaken donga menika inggih puja, tegesipun panggunggung, inggih punika sadaya wau dumunung pangrengganing basa, utawi patrap ingkang dados pepunton atining tata krami. (pupuh 20)


Dengan upaya seperti itu sesungguhnya merupakan bentuk lain dari ibadah. Sebab bentuk ketekunan dan kesungguhan pada dasarnya berupa guna artinya kepandaian atau ketrampilan. Guna juga berarti sarana, yaitu peralatan. Sarana dapat diartikan sebagai mantra, maksudnya niat yang diverbalkan, sedangkan doa juga berarti harapan atau cita. Kesemuanya seimbang antara prilaku dengan nurani.
Budaya Jawa mengajarkan bahwa dalam berhubungan seksual haruslah diniatkan dalam hati bahwa tujuannya adalah baik karena menghasilkan manusia baru. Maka dari itu, hubungan seksual haruslah dilaksanakan dengan niat yang sungguh-sungguh karena hal tersebut sama juga dengan beribadah.


Wondene alas hardaning karsa, dumugining cipta maya kados ingkang kasebut ing inggil wau, bok manawi boten amung mahanani dhateng wewatekaning bebayi, pramila para sujana lan sarjana ingkang waskita ing kadadosaning krida utawi pangripta wau sok nuwuhaken, lajeng kangge tetenger nama dhateng atamajanipun. (pupuh 22)


Maka dari itu segala keinginan, beradanya cipta maya seperti yang disebut diatas tadi, mungkin tidak hanya memberi watak bayi, makanya para manusia dan manusia yang bijaksana di kejadian yang terjadi atau terciptanya tadi, kadang memberikan tanda, lantas dijadikan nama terhadap anak-anaknya.
Dalam hubungan seksual juga diajarkan untuk berada dalam posisi hati yang serba tenang, segalanya dalam kondisi baik agar hasil keturunan yang dihasilkan juga baik. Tidak hanya itu, akan tetapi hati pria dan wanita yang melakukan hubungan seksual juga harus bersih dan bijaksana.


Yen ta saupami ngrembaga bab prakawis wiji, leres sampun dumunung wonten ing priya, pramila sujanma wanodya punika bebasanipun kasebut papan utawi wadah…. (pupuh 22)


Jika membahas perkara benih, benar, sudah berada di para laki-laki, maka dari itu, perempuan diibaratkan papan atau wadah.
Perempuan adalah wadah tempat laki-laki menempatkan maninya agar dijaga dan dirawat dalam suatu tempat yaitu rahim wanita.


….karsanira Pangeran Kang Maha Mulya karsa nitisaken wijining manungsa…. (pupuh 22)


Kehendak Tuhan Yang Maha Mulia berkehendak menitiskan benih manusia.
Dalam masalah hubungan seksual, haruslah diingat bahwa munculya janin adalah hasil karya Tuhan, sehingga harus dapat dipertanggung jawabkan.


Kacariyos bilih kasupen inggih kenging boten dados punapa, sabab sajatosipun ingkang prelu dados awisan amung hawa napsu bilih saged ambirat ing hawa napsu, kacariyos ing adat asring kadunungan awas lan emut, manawi tansah anggenipun awas kaliyan emut, bok manawi estu amanggih kamulyan ing sangkan paran….. (pupuh 23)


Ceritanya, seandainya lupa sesungguhnya tidak masalah, karena yang sebenarnya perlu mendapat larangan hanya hawa nafsu karena akan bisa menjerumuskan. Ceritanya, dalam adat sering terdapat awas ingat, jikalau teramat sangat rasa awas dan ingat itu mungkin benar akan bertemu dengan kemulyaan di asal dan tujuan.


Hal tersebut merupakan ajaran megenai tindakan, yaitu bahwa dalam melakukan hubungan seksual haruslah dengan penuh kesadaran dan diusahakan jangan sampai terseret oleh nafsu birahi belaka. Maksudnya, selama berhubungan seks haruslah tetap diingat bahwa tujuan utama adalah untuk mengahsilkan seorang manusia baru yang baik. Dengan demikian, manusia yang berasal dari proses yang baik maka akan kembali kepada Sang Pencipta dengan keadaan yang baik pula.


Ingkang rumiyin nyariosaken tembung upami, wonten sujanma priya kaliyan wanodya, badhe dumugekaken karsa ngulang salulut sami lumebet ing jenem rum, tegesipun dunungin pasareyan, ing riku sandyana amung sakaliyan tur dumunung wonten papaning sepen, liripun boten katingalan dening tiyang kathah, ewa semanten menggah pepantenganing panggalih…. (pupuh 25)


Yang pertama, menceritakan kalimat seandainya ada manusia laki-laki dan perempuan berkeinginan bercinta, masuk kedalam ranjang artinya berada ditempat tidur walaupun di situ hanya berdua dan juga berada ditempat yang sepi yang intinya tidak kelihatan orang banyak, walaupun begitu keseriusan perasaan janganlah sampai lupa…….


Ini adalah ajaran mengenai bagaimana cara yang benar ketika laki-laki dan perempuan yang akan mulai melaksanakan kegiatan berhubungan seksual, yaitu harus dilakukan pada tempat yang semestinya.
Sing sapa manungsa gelem ngalkoni tumindak marang panggawe nistha sayekti bakal nemu papa. (pupuh 25)
Barang siapa manusia yang menjalankan tindak nista pastilah akan menemuai kehinaan.
Menjalankan tindak nista maksudnya adalah berhubungan seksual tanpa persiapan yang benar dan hanya berdasarkan atas nafsu birahi belaka, maka nantinya juga akan berakibat buruk.


….dados manungsa ingkang binasakaken kapir wau supami karsa apulang asmara, mangkana lajeng saged dados wijining manungsa sanajan wiwit duk maksih jabang bayi tan pedot pinidih ing pamulangan tur dhateng tindaking kautaman, ing tembe bilih sampun dewasa bok manawi inggih lajeng wiga katragal dados dugal awit enget manawi pandemeling setan blaka. (pupuh 25)


Jadi yang disebut manusia kafir tadi seandainya bersenggama, maka bisa jadi benih manusia walaupun ketika masih bayi terus mendapat ajaran ketidak utamaan dan kebaikan, yang nantinya ketika dewasa mungkin akan menjadi jahat dan nakal karena memang terbuat dari penyatuan setan.
Dalam ajaran hubungan seksual, niat awalnya haruslah merupakan niat yang baik. Manusia yang akan melaksanakannya juga haruslah dengan hati dan pikiran yang suci, tidak dengan pikiran yang kotor. Berhubungan seksual dalam keadaan yang kotor. Berhubungan seksual dalam keadaan yang kotor baik fisik maupun batinnya akan menghasilkan sesuatu yang jelek dan kotor pula, karena terbuat dari hasil penyatuan dua hal yang sama-sama kotor (setan).


….liripun mekaten menggah ing saresmi wau boten kangge pakareman utawi boten kangge memainan, tegesipun boten kangge dedolanan utawi geguyonan…. (pupuh 26)


Maksudnya dalam hubungan tadi tidak bisa untuk main-main atau bercanda.
Hubungan yang dimaksud disini adalah hubungan seksual. Jadi, kagiatan hubungan seksual harus dilakukan denga serius dan tidak boleh main-main.


Wonden bilih pinuju badhe salulut anggenipun anaji-aji lan angedi-edi ing patrap kapratelaken kados ing ngandap punika : ingkang rumiyin, duk wiwit kagungan karsa badhe apulang asmara lan wanita sakaliyan sami sesucia, inggih punika siram tuwin jamas lajeng ngasta siwur anyiduka toya kaankat celak ing wadana mawi dipundonganana, ananging donganipun kados pundi duk ing jaman kina punika kula boten terang, yen ing jaman samangke inggih katimbang kendel kemawon lowung kaangge minangka gegondhelaning niyat, prayoginipun mawi angucap mkaten : “niyatingsun adus, padusan banyuning tlaga kalkaosar, anuceni sakaliring eroh, kang dumunung ana ing jasad kita, mlebu manik metu inten, cahyake amancur mancorong kadi cahyaning Pangeran Kang Maha Kuwasa”. Ing riku toya siwur wau lajeng kasiramaken ing wadana, lajeng siram ngantos dumugi sucining saliranipun sadaya. Menggah pratingkah siram ingkang mekaten wau jalu lan wanita ing patrap sami kemawon boten aprabeda. (pupuh 26).


Sedangkan ketika ingin memuja-muja dan mengindahkan tingkah laku, akan dijelaskan seperti di bawah ini : Pertama, mulai dari punya keinginan senggama dengan wanita, semua harus suci. Harus mandi keramas, lantas mengambil gayung berisi air dan diangkat di dekat muka dengan berdoa. Tetapi bagaimana doa ketika jaman dahulu itu saya kurang jelas, namun jika jaman sekarang ya daripada diam saja lebih baik dijadikan niat, dan sebaiknya mengucapkan demikian; “Niatku mandi, tempat mandi telaga kalkaosar, mensucikan segala darah, yang berada dalam tubuh kita, masuk manik keluar intan, cahayaku bersinar seperti sinar cahaya Tuhan Yang Maha Kuasa”. Air yang berada di dalam gayung tersebut lantas disiramkan ke wajah dan dilanjutkan mandi sampai semua badan menjadi suci baik untuk laki-laki maupun perempuan.
Berikut adalah ajaran mengenai konsp seks dari segi cara memulai sebuah hubungan seksual yang benar. Proses penyatuan antara dua manusia baru adalah sesuatu yang sakral dan sangat penting untuk disiapkan dengan sebaik-baiknya. Hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan membersihkan diri dengan cara mandi. Mandi dalam konteks ini bukan hanya demi kenyamanan fisik belaka, tetapi dengan cara-cara tertentu dengan maksud untuk membersihkan jiwa dan batinya juga. Mandi harus disertai dengan niat yang baik serta doa, dengan tujuan untuk membersihkan segala kotoran (jasmani dan rohani) serta meniatkan sesuatu yang baik dalam hati. Dengan demikian diharapkan dalam melakukan hubungan seksual, keduanya (laki-laki dan perempuan) berada dalam keadaan bersih dan suci sehingga benih yang muncul nanti adlah merupakan buah dari perbuatan yang telah disucikan.


Ing sasampunipun rampung sesuciya siram jamas lajeng sami angadi-adi warna, kinarya sarana pangundhaning asmara, liripun menggahing pratingkah sami busana ingkang sarwa pantes, sarta angeganda wida, sasmpunipun samekta ing sakaliyan lajeng reruntunan sami malebet ing papreman, tegesipun malebet dhateng ing panglereman utawi dununging pakendelan, inggih punika pasareyan, ing riku priya lajeng angrakit pamasaning aji kamajaya dumunung amung winaos wonten salabeting batos kajarwakaken kados ing ngandhap punika : ….. Pupuh 26)

Setelah selesai bersuci mandi keramas (jamas) lantas berpakaian yang rapi untuk mengundang nafsu yang intinya tingkah laku dengan berpakaian yang pantas dan memakai wangi-wangian. Setelah semuanya selesai, lantas bersama-sama masuk ke tempat untuk tidur, maksudnya masuk ke ranjang, atau tempat istirahat yaitu ketempat tidur. Di situ, laki-laki memsang aji kamajaya yang diucapkan dalam hati.
Setelah membersihkan diri, maka ajaran selanjutnya adalah mengenai cara dan bagaimana tindakan mengenai cara dan bagaimana tindakan yang tepat untuk memulai kegiatan sakral tersebut. Pertama, untuk membangkitkan hasrat maka masing-masing harus mrias diri dengan berdandan dan memakai wewangian. Setelah itu, harus pula diperhatikan tempat melakukan kegiatan tersebut dan tidak diperbolehkan dilakukan di sembarang tempat.

Wondening sang wanita ingkang rumiyin ugi muntu pangesthi sedya dumunung ing Betalmukadas, tegesipun niyat anjumenengaken kahanan salebeting puraya pasucian, dumunung ing baga. Ingkang kaping kalih, lajeng amusthi nesthi pambukaning aji asmara nala, tegesipun senseming manah, inggih punika wahananing birahi, tegesipun wiji, dumunung ing purana. Ingkang kaping tiga, kaping sekawan, kaping gangsal, kaping nenem, dumugi pitu, mboten aprabeda kados pamusthining kakung wau. Ing sasampunipun samekta pangruktining sakaliyan, lajeng sami kakaron sih, andumugekaken karsa, dene patrap lan pratingkah tumanduking pulang asmara, saestunipun bab makaten punika kadamel pipingitan, sinten ingkang saged uninga amung kinten-kinten yen anithik lelabuhanipun, wiwit duk murwani wau dumugining ngendhon kados inggih sae, liripun bok manawi inggih kados caraning manungsa, sarta boten angicalaken ing tata krami, kados-kados bok manawi inggih punika ingkang kasebut anggendam langening pramana, ambuka kahananing atma, ingkang badhe pinurwaning wicaksana. Ing sasampunipun salulut, sakaliyan medal saking papreman, lajeng samya asiram jamas malih, menggah solah lan pratingkah boten prabeda kadi patraping siram duk ngajeng wau, amung donga sarananipun kantun angurapa makaten “suku asta winengku ing solah bawa, solah bawa winengku ing driya, driya winengku ing Hyang Praman, andadekakna adus ing suci santosaning roh kang ana ing badan kita”. (pupuh 26)

Sedangkan sang perempuan, pertama juga berniat bersedia berada di Betalmukadas, artinya menahan mendiamkan keadaan di dalam kerajaan kesusian, berada di baga. Yang kedua lantas berniat membuka aji asmara nala, artinya pesona hati, itulah wahana birahi, artinya nafsu senggama, tumbuh menjadi purba, artinya benih berada di purana. Yang ketiga, keempat, kelima, keenam, dan seterusnya hingga ketujuh tidak berbeda dengan laki-laki. Setelah selesai menjalani semua lantas keduanya bermain cinta, mendatangkan karsa, sedangkan segala tingkah polah dalam bersenggama, sebenarnya bab ini merupakan rahasia, siapa yang bisa mengetahui kira-kira jika menandai penempatan mulai dari atas yang awal tadi sampai sekarang itu sangat bagus, intinya seperti cara manusia, serta tidak menghilangkan tata krama, mungkin seperti inilah yang disebut pesona keindahan praman, membuka keadaan atma, yang akan menjadi kebijaksanaan. Sesudah bercinta keduanya keluar dari tempat tidur, lantas mandi jamas lagi, sedangkan tingkah laku atau tata caranya tidak berbeda dengan cara mandi yang seperti diatas tadi tetapi doa permintaannya seperti berikut : “Kaki dan Tangan berada dalam tingkah laku, tingkah laku berada dalam hati, hati berada dalam Hyang Praman, menjadikan mandi suci sentosanya ruh yang abadi di badan kita”.
Selain laki-laki, sang perempuan juga harus menyiapkan beberapa hal yang intinya hampir sama dengan laki-laki. Ada beberapa tahap pembukaan yang dilakukan secara perlahan-lahan yaitu “pesona” atau daya tarik dari masing-masing indra kemanusian yang dimiliki hingga nantinya muncul “karsa” atau kehendak yang mantap untuk berhubungan seksual. Cara berhubungan sesual yang baik pada intinya adalah untuk saling mengerti keinginan masing-masing, serta untuk senantiasa mengingat tata krama, yaitu berhubungan dengan cara-cara yang etis serta manusiawi. Setelah melakukan hubungan seksual maka diajarkan tindakan yang tepat yaitu mandi dengan cara yang sama dengan yang dilakukan sebelum melakukan kegiatan tersebut, dengan doa yang sedikit berbeda. Tujuan dari tindakan mandi setelah berhubungan seks adalah untuk mensucikan diri masing-masing dan juga membersihkan diri. Doa yang dipanjatkan pada intinya memohon kepada Tuhan agar apa yang telah dilakukan dapat disucikan serta membawa hasil yang baik.

….lan sumurupa mungguh tumitah ana alam donya iki binasakake mung mampir ngobe (bae)…. (pupuh 29)

Ketahuilah bahwa manusia yang ada di alam dunia ini diibaratkan hanya mampir minum….
Dalam konteks ajaran hubungan seksual, haruslah tetap diingat bahwa kehidupan hanya merupakan sesuatu yang sementara seperti ibarat orang yang melakukan perjalanan jauh dan hanya mampir untuk minum. Maka dari itu, janganlah melakukan hubungan seksual hanya karena kesenangan dunia saja yang sifatnya sementara, tetapi harus dipikirkan juga mengenai pertanggung jawabannya kepada Tuhan dalam perjalanan kehidupan yang selanjutnya.

….caritaning dalil dawuhing Pangeran, wajida-wajidahu, tegese : sing sapa temen katemenan, mungguh surasaning…. (pupuh 29)

Apakah anda belum pernah mendengan cerita dalil sabda Tuhan, wajida-wajidahu, artinya : siapa yang sengguh-sungguh akan mendapatkan hasil…..
Ada suatu ungkapan yaitu wajida wajidahu yang artinya siapa yang sungguh-sungguh akan mendapatkan hasil. Maksudnya disini adalah dalam hubungannya mengenai konsep seks maka ungkapan tersebut bermaksud untuk menyampaikan bahwa hubungan seksual harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh agar mendapatkan hasil yang baik.

Demikian cuplikan dalam Serat Nitimani berisi ajaran mengenai konsep seks dalam budaya jawa. Ajaran tersebut merupakan sistem nilai budaya Jawa yang landasannya adalah konsep religi yaitu masalah hubungan manusia dengan Tuhan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa segala aspek dalam kehidupan orang Jawa, termasuk dalam hal seks pasti berujung kepada masalah antara manusia dengan Tuhan. Seks dalam budaya Jawa bukan hanya merupakan sarana untuk melampiaskan hawa nafsu dan sekedar bersenang-senang akan tetapi sampai kepada pengertian bahwa hubungan tersebut adalah suatu ikatan resmi antara laki-laki dan perempuan sebagai pasangan suami isteri yang harus dapat dipertanggungjawabkan kepada Tuhan. Dalam hal ini, dapat dikatan bahwa seks merupakan kegiatan yang dianggap suci dan sakral karena hasil dari perbuatan tersebut adalah menghasilak manusia baru. Lahirnya manusia di sunia harus dipersiapkan sebaik mungkin termasuk dari awal proses penciptaannya. Hal tersebut dimaksudkan agar anak yang akan lahir nanti berasal dari proses awal yang jelas sehingga dapat mengetahui tujuan hidupnya dengan jelas pula. Konsep mengenai asal dan tujuan hidup manusia merupakan konsep dasar dari apa yang menjadi kepercayaan manusia Jawa. Bahwa ajaran seks merupakan gerbang awal manusia untuk memahami dua konsep utama dalam relegi budaya Jawa yaitu konsep sangkan paraning dumadi dan konsep manunggaling kawula-Gusti. Jadi, ajaran seks dalam Serat Nitimani bertujuan untuk memberikan pedoman moral, nilai dan kaidah bagi orang Jawa tentang bagaimana cara melakukan hubungan seks dengan cara yang benar dan tepat (bener lan pener), karena pada akhirnya apa yang menjadi hasil dari perbuatan tersebut berhubungan dengan asal kehidupan (sangkan paraning dumadi) serta tujuan hidup yang utama yaitu bersatu dengan Tuhan (manunggaling kawula Gusti).

Semoga dapat menambah wawasan serta pengetahuan bagi kita dalam menjalani hidup. Kurang lebihnya mohon maaf. Nuwun.

SUMBER : Alang-Alang Kumitir
 
© Copyright 2012 Oca Sulistya
Theme by Oca Sulistya