Tampilkan postingan dengan label Seni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 April 2012

Dolalak (Tarian Khas Purworejo)

Dolalak (Tarian Khas Purworejo).
Kesenian rakyat asli purworejo ini hampir mirip dengan Tari Angguk yang berkembang di daerah perbatasan Yogyakarta, mungkin karena keadaan kultur sosial budaya dimana sebuah kesenian itu berkembanglah yang neyebabkan Seni Tari Dolalak ini menyerupai Tari Angguk (purworejo) autaupun Tari Angguk Patumbak.

Definisi Seni Tari Dolalak (Pengertian Tari Dolalak).
Tarian dolalak adalah warisan budaya/peninggalan pada zaman penjajahan Belanda.
Tarian khas kabupaten Purworejo ini merupakan seni tarian rakyat hasil akulturasi budaya barat dan timur, yang hingga kini, telah menjadi salah satu khas yang dimiliki kabupaten Purworejo Jawa Tengah.

Tarian dolalak terbilang unik dan memiliki kekhasan serta daya tarik sendiri, yang boleh jadi tidak ditemukan di dalam seni tari lain. Keunikan tari dolalak terletak pada gerak dansa dan rampak pada barisan, seperti layaknya para serdadu (sekarang mungkin tari poco-poco). Selain itu, aksesoris busana yang dikenakan para penarinya pun bernuansa serdadu Belanda. Mulai dari kostum, asesoris pangkat, rumbai pada baju topi dan kaca mata. Dan dalam pertunjukanya, penari-penari Dolalak bisa mengalami trance, yaitu suatu kondisi mereka tidak sadar karena sudah begitu larut dalam tarian dan music, sehingga tingkah mereka bisa aneh-aneh dan lucu.

Asal-Usul Tarian Dolalak (Asal Mula Tarian Dolalak).
Konon, di kabupaten Purworejo yang merupakan awal kemuculan dan perkembangan dolalak. Dahulu banyak terdapat tangsi atau barak serdadu Belanda. Di saat senggang, untuk melepaskan penat dan lelah setelah bertugas di medan tempur. Serdadu Belanda lalu mengisinya dengan bernyanyi dan menari. Kebiasaan itu, kerap disaksikan warga sekitar tempat tangsi itu berdiri. Dari sanalah akhirnya mulailah warga sekitar, mengemas dan mengembangkannya menjadi sebuah kesenian baru, yang sekarang di sebut Dolalak.

Asal-Usul Nama Dolalak (Asal Mula Nama Dolalak).

Penamaan dolalak sendiri berasal dari notasi Do-La-La yang mengiringi gerak dansa dalam tarian ini. Dalam perkembangannya, iringan musik tarian dolalak menggunakan instrumen musik jidur, terbang, kecer, dan kendang. Sedang untuk iringan nyanyian menggunakan syair-syair dan pantun berisi tuntunan dan nasehat. Isi syair dan pantun yang diciptakan, campuran dari bahasa jawa dan bahasa indonesia sederhana. Dan seiring perkembangan zaman dan teknologi, kemudian tarian Dolalak sekarang sudah diringi dengan musik modern, yaitu keyboard. Lagu-lagu yang dimainkan pun bervariasi dan beragam.

Perkembangan Tari Dolalak.
Tari Dolalak biasa di pertunjukan pada saat ada acara kajatan khitanan dan pernikahan atau pada acara pesta/perayaan tertentu. Dolalak semakin populer di kalangan generasi muda, bahkan sudah melanglang ke beberapa negara di Asia dan Erop, tentunya ini tidak luput dari peran
Pemerintah Daerah Purworejo yang dengan gencar, terus mengembangkan dan melestarikan kesenian asli daerah Purworejo ini. Bahkan di setiap event-event tingkat nasional kesenian Dolalak seringkali tampil sebagai suatu kesenian yang unik. Dan setiap lomba-lomba kesenian tingkat nasional kesenian Dolalak sering menjuarai.

Di tengah banyaknya hasil karya anak bangsa, tai dolalak merupakan karya seni dari Purworejo patut di jaga kelestarianya.

Minggu, 01 April 2012

Tari Angguk-Kesenian Rakyat Kulon Progo

Tari Angguk (Daerah Istimewa Yogyakarta).
Sebenarnya Tari Angguk Itu Apa Sih? .
Tari angguk yang baru saya lihat tadi siang rupanya berbeda dengan Tari Angguk Patumbak dari Patumbak. Meski berbeda tapi memiliki beberapa kemiripan, mungkin karena keadaan kultur sosial dan tempat berkembangnya dua tari angguk inilah yang membuat tari angguk dari Yogyakarta dan Tari Angguk Patumbak ini berbeda. Dan di sini mari kita kaji sedikit tentang tari angguk itu, agar kita tak lalai terhadap khasanah budaya negeri sendiri yang menjadi kekayaan inteltual bangsa.


Asal-usul Tari Angguk.
Kesenian Angguk merupakan satu dari sekian banyak jenis kesenian rakyat yang ada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kesenian angguk berbentuk tarian disertai dengan pantun-pantun rakyat yang berisi pelbagai aspek kehidupan manusia, seperti: pergaulan dalam hidup bermasyarakat, budi pekerti, nasihat-nasihat dan pendidikan. Dalam kesenian ini juga dibacakan atau dinyanyikan kalimat-kalimat yang ada dalam kitab Tlodo, yang walaupun bertuliskan huruf Arab, namun dilagukan dengan cengkok tembang Jawa. Nyanyian tersebut dinyanyikan secara bergantian antara penari dan pengiring tetabuhan. Selain itu, terdapat satu hal yang sangat menarik dalam kesenian ini, yaitu adanya pemain yang “ndadi” atau mengalami trance pada saat puncak pementasannya. Sebagian masyarakat Yogyakarta percaya bahwa penari angguk yang dapat “ndadi” ini memiliki “jimat” yang diperoleh dari juru-kunci pesarean Begelen, Purworejo.

Tarian angguk diperkirakan muncul sejak zaman Belanda1, sebagai ungkapan rasa syukur kapada Tuhan setelah panen padi. Untuk merayakannya, para muda-mudi bersukaria dengan bernyanyi, menari sambil mengangguk-anggukkan kepala. Dari sinilah kemudian melahirkan satu kesenian yang disebut sebagai “angguk”. Tari angguk biasa digelar di pendopo atau di halaman rumah pada malam hari. Para penontonnya tidak dipungut biaya karena pertunjukan kesenian angguk umumnya dibiayai oleh orang yang sedang mempunyai hajat (perkawinan, perayaan 17 Agustus-an dan lain-lain).


Jenis-jenis Angguk dan Pemain.
Tarian yang disajikan dalam kesenian angguk terdiri dari dua jenis, yaitu:

  1. Tari ambyakan, adalah tari angguk yang dimainkan oleh banyak penari. Tarian ambyakan terdiri dari tiga macam yaitu: tari bakti, tari srokal dan tari penutup; dan 
  2. Tari pasangan, adalah tari angguk yang dimainkan secara berpasangan. Tari pasangan ini terdiri dari delapan macam, yaitu: tari mandaroka, tari kamudaan, tari cikalo ado, tari layung-layung, tari intik-intik, tari saya-cari, tari jalan-jalan, dan tari robisari.


Pada mulanya angguk hanya dimainkan oleh kaum laki-laki saja. Namun, dalam perkembangan selanjutnya tarian ini juga dimainkan oleh kaum perempuan. Para pemain angguk ini mengenakan busana yang terdiri dari dua macam, yaitu busana yang dikenakan oleh kelompok penari dan busana yang dikenakan oleh kelompok pengiring. Busana yang dikenakan oleh kelompok penari mirip dengan busana prajurit Kompeni Belanda, yaitu:

  •  baju berwarna hitam berlengan panjang yang dibagian dada dan punggunya diberi hiasan lipatan-lipatan kain kecil yang memanjang serta berkelok-kelok; 
  •  celana sepanjang lutut yang dihiasi pelet vertikal berwarna merah-putih di sisi luarnya; 
  •  topi berwarna hitam dengan pinggir topi diberi kain berwarna merah-putih dan kuning emas. Bagian depan topi ini memakai “jambul” yang terbuat dari rambut ekor kuda atau bulu-bulu; 
  •  selendang yang digunakan sebagai penyekat antara baju dan celana; 
  •  kacamata hitam; 
  •  kaos kaki selutut berwarna merah atau kuning; dan 
  •  rompi berwarna-warni.
 Sedangkan busana yang dikenakan oleh kelompok pengiring adalah:

  •  baju biasa;  
  • jas; 
  •  sarung; dan 
  •  kopiah.


Peralatan musik yang digunakan untuk mengiringi tari Angguk diantaranya adalah:

  •  kendang;
  •  bedug; 
  •  tambur; 
  •  kencreng; 
  •  rebana 2 buah; 
  •  terbang besar dan 
  •  jedor.


Nilai Budaya
Seni apa pun pada dasarnya mengandung nilai estetika, termasuk seni tari angguk.yang ada di kalangan masyarakat Yogyakarta. Namun demikian, jika dicermati secara seksama kesenian ini hanya bernilai estetis dan berfungsi sebagai hiburan semata. Akan tetapi, justuru yang menjadi rohnya adalah nilai kesyukuran. Dalam konteks ini adalah bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena kemurahannya (memberi hasil panen yang melimpah).

Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1992. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara IV. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Dari Berbagai Sumber Di Internet.

Selasa, 28 Februari 2012

Wayang Suket

Wayang suket merupakan bentuk tiruan dari berbagai figur wayang kulit yang terbuat dari rumput (bahasa Jawa: suket). Wayang suket biasanya dibuat sebagai alat permainan atau penyampaian cerita perwayangan pada anak-anak di desa-desa Jawa.

Untuk membuatnya, beberapa helai daun rerumputan dijalin lalu dirangkai (dengan melipat) membentuk figur serupa wayang kulit. Karena bahannya, wayang suket biasanya tidak bertahan lama.
Seniman asal Tegal, Slamet Gundono, dikenal sebagai tokoh yang berusaha mengangkat wayang suket pada tingkat pertunjukan panggung.



Wayang suket menjadi saksi sejarah seni rakyat di negeri ini. Penampilannya yang mengusung budaya agraris, tegar iringi jaman yang kian beringsut dari akar tradisinya.
Ceria suara anak-anak kecil menyeruak nusantara. Senada dengan itu, suara pesinden yang melantunkan gending campursari dengan iringan gamelan. Semua mengalun seirama, dan mata para penonton pun menatap tajam ke arah panggung.

Untuk sebuah tampilan pertunjukan wayang suket, yang kini beranjak dari seni rupa beralih ke seni pertunjukan, terdiri atas 10 pengrawit, satu sinden, gamelan slendro lengkap dengan lakon Wahyu Senopati. Semua mengawal makna di balik artistik kesenian wayang bergaya Jawa Timuran itu.
Menurut asalnya wayang suket berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Jawa Timur sendiri wayang suket tumbuh dan berkembang di daerah mataraman, seperti Bojonegoro, Tulungagung, Kediri, dan Blitar.

Lakon Wahyu Senapati berkisah seputar peristiwa Gatutkaca yang diwisuda menjadi senopati di Ngamarto. Tapi Antarejo sebagai saudara tuanya tidak terima, karena merasa juga punya hak sebagai putra Ngamarto dan memiliki kesaktian yang sama. Ternyata, Sengkuni berada di baliknya karena menginginkan keluarga Pandawa terpecah.
Ketika menghasut itu, tubuh Antarejo disusupi Nini Permoni alias Dewi Durga, disamping dukungan pihak Kurawa. Gatutkaca pun berperang dengan Antareja, namun akhirnya dipisah oleh Kresno. Kresno akhirnya tahu, bahwa ini bukan kemauan Antarejo sendiri.

Menurutnya, yang sanggup mengatasi hal ini hanya Semar. Kemudian Semar dipanggil, dan Nini Permoni dipaksa keluar oleh Semar. Nini dinasehati, jangan menggangu momongan (asuhan) Semar. Tapi Nini berkilah, memang sudah tugasnya menggoda manusia. Salah sendiri kalau ada yang tidak kuat. Beruntung Pandawa memiliki Semar sebagai bentengnya. Akhir cerita Gatutkaca sudah dipilih oleh rakyat, jadi kalau Antarejo ingin berbakti pada negara, masih ada jalan lain, tidak harus menjadi Senopati.


Di atas panggung nampak seorang lelaki sedang mempersiapkan benda berupa wayang terbuat dari suket (rumput). Dia adalah M. Thalib Prasodjo, 77 tahun, salah seorang seniman pencipta wayang suket beserta kreasinya. Dirinya sedang melakukan sebuah pertunjukan wayang suket, yang biasa digelar di sanggarnya.
Kendati pertunjukan wayang suket selama ini sudah diklaim oleh Slamet Gundono, wayang karya Thalib sangat berbeda. Dia tidak sekadar memanfaatkan bahan-bahan rumput untuk sosok yang menyerupai wayang. Namun betul-betul membuat wayang dari bahan rerumputan. Dengan melihat sosoknya saja, para penggemar wayang pasti tahu nama tokoh yang dimaksudkannya.
Selain itu, pertunjukan wayangnya, juga bukan asal pertunjukan biasa. Thalib dengan sengaja meminta sang dalang untuk memainkan karya wayangnya secara klasik. Artinya, betul-betul diperlakukan sebagaimana wayang kulit biasanya, bukan wayang-wayangan. Lakonnya pun dipilih lakon serius. Inilah yang membedakan dengan lakon wayang milik Slamet Gundono.
Menurut pria yang akrab disapa Eyang Thalib itu, kebiasan dirinya menggelar pertunjukan wayang suket di sanggar dan beberapa tempat lainnya, memang ditujukan bagi anak-anak kecil dan remaja. “Wayang ini menggambarkan budaya agraris yang dibawa anak-anak desa masa lampau yang tidak pernah kehabisan akal, meski di tengah himpitan materi mereka terus berkreasi,” ujar pria asal Bojonegoro ini.


Berbahan Rumput
Wayang suket begitulah orang menyebut kesenian tradisional yang ada sejak masa lampau ini. Kata suket sengaja diberikan karena wayang ini terbuat dari rerumputan.

Jadi, beragam wayang di Jawa Timur memang kian berkembang seiring bergulirnya jaman. Ada wayang tengul yang terbuat dari kayu patung, ada wayang kulit, ada wayang kerteh yang menyerupai topeng manusia, ada wayang timplong, ada wayang potehi, ada wayang purwo, dan adapula wayang suket.
Kesemua pewayangan itu terbuat dari bahan dasar yang berbeda-beda. Sedangkan bahan utama dalam menghasilkan sebuah mahakarya wayang suket adalah berbahan rumput. Seperti rumput jerami, rumput jarum, atau juga rumput teki.

Biasanya para pengrajin wayang suket sengaja berburu bahan rumput hingga ke pelosok-pelosok pedesaan yang ada di Jawa Timur. Salah satunya Eyang Thalib. “Dalam membuat wayang daerah mataraman Jawa Timur ini saya selalu mencari rumput di daerah asal saya di Bojonegoro, Karena di sana masih banyak dijumpai pedesaan,” kata pemilik sanggar Akar Rumput Sidoarjo itu.

Mengenai alasan penggunaan bahan dasar rumput demi menghasilkan sebuah wayang suket. Eyang Thalib mengatakan, latar belakang di balik pertunjukan dan penciptaan wayang suket adalah upaya pelestarian budaya agraris atau pertanian.
Setelah bahan terkumpul, tinggal kreatifitas untuk menggambarkan tokoh pewayangan dalam proses penciptaan sebuah wayang suket. Ada yang berkarakter Butho Cakil, Ramayana, Gatutkaca, Semar, Mahabarata, Abimanyu, dan masih banyak tokoh-tokoh pewayangan lainnya.


Sunyi Anak Desa
Dalam pertunjukannya, wayang suket mengusung cerita wayang purwa. Cerita wayang jenis ini dibatasi banyak pakem. Misalnya, untuk cerita, mau tak mau harus berangkat dari epos Ramayana atau Mahabarata. Kadang, menampilkan lakon-lakon terpisah macam Wahyu Senopati.

Ramayana merupakan putra tunggal Prabu Dasarata, raja negara Ayodya. Ia adalah titisan Dewa Wisnu yang bertugas menciptakan kesejahteraan dunia. Rama menikah dengan Dewi Sinta, titisan Bathari Sri Widowati, putri Prabu Janaka raja negara Mantili.
Rama berkedudukan sebagai putra mahkota Ayodya. Tapi ia gagal naik tahta karena Prabu Dasarata terpaksa memenuhi tuntutan Dewi Kekayi yang menghendaki Barata sebagai raja Ayodya. Rama bahkan harus meningggalkan Ayodya, menjalani pengasingan selama 13 tahun.

Berbagai dharma satria telah dilaksanakan oleh Ramayana. Ia telah mengalahkan dan menyadarkan Ramaparasu yang salah menjalankan dharmanya. Rama juga membunuh Resi Subali, putra Resi Gotamadari dari pertapaan Grastina atau Daksinapata karena bersikap angkara murka. Terakhir, Rama berhasil, membunuh Prabu Dasamuka, raja negara Alengka, yang bukan saja menculik Dewi Sinta, tetapi juga telah berbuat angkara murka dan menimbulkan berbagai kesengsaraan umat Ancapada.
Setelah berakhirnya perang Alengka dan 13 tahun hidup dalam pengasingan, Rama kembali ke negara

Ayodya. Ia naik tahta negara Ayodya, menggantikan Prabu Barata yang mengundurkan diri.
Itulah lakon Ramayana, secuil gambaran tentang penampilan dari pertunjukan wayang suket. Selebihnya wayang suket dalam setiap pertunjukan identik melakonkan cerita dari anak-anak pedesaan.
Karena itu setiap awal pagelarannya suara gamelan diiringi nyanyian-nyanyian anak kecil khas pedesaan. Bahkan terkadang mulai awal hingga bubaran, wayang suket menggambarkan sebuah semangat anak desa, yang terus berkarya di tengah segala keterbatasan.
Namun, wayang suket terkadang tidak menutup diri untuk melakonkan cerita-cerita lainnya. Suket berdiri untuk apapun, yang penting tetap mengusung kelestarian budaya agraris budaya nusantara.
Naskah : m.ridlo’i |foto : wt atmojo



Sumber :

  • http://www.eastjavatraveler.com
  • http://id.wikipedia.org

Slamet Gundono: Imajinasi Sebatang Ilalang

KETIKA lahir, orang tuanya hanya memberikan nama Gundono. Sementara “Slamet” merupakan nama pemberian guru SD-nya. “Biar panjang dan kelihatan gagah,” kata Slamet Gundono. Sejak kecil, Gundono memang sudah menyukai wayang. Orang tuanya adalah seorang dalang wayang kulit klasik di Tegal. Namun karena tidak menyukai kehidupan kesenian pedalangan yang dalam pandangannya saat itu dekat dengan minuman keras dan main perempuan
, maka Gundono tidak menggelutinya secara serius. Pria bertubuh besar ini memilih sekolah pesantren di Lebak Siu sampai Madrasah Aliyah. Namun justru di pesantren itulah kecintaannya terhadap wayang semakin meletup-letup.

Sejak tahun 1999, ia mengembangkan Sanggar Wayang Suket di Solo. Di komunitas ini ia melakukan revolusi terhadap dunia wayang dan pedalangan yang oleh banyak pihak dinilai sudah lama mandek. Wayang suket temuannya berada di antara dunia teori teater Barat dan tradisi pewayangan Timur.
Dinamakan wayang suket, karena wayang, atau semacam boneka yang dimainkan oleh Slamet Gundono ini, terbuat dari suket, atau rumput dalam bahasa Indonesia. Namun, biasanya rumput yang dirangkai dan kemudian dijadikan wayang adalah rumput teki, rumput gajah, atau mendhong, alang–alang yang biasa dianyam menjadi tikar. Selain memiliki tekstur kuat, jenis rumput ini juga panjang sehingga mudah dibentuk. Namun jangan salah, wayang suket tidak mempunyai bentuk yang baku, seperti halnya bentuk tokoh dalam wayang kulit. Sekilas memang rumput–rumput ini dibentuk sepertii wayang kulit, yang dapat dimainkan dengan tangan. Namun sulit membedakan tokoh yang satu dengan lainnya, karena bentuknya yang hampir sama.

Kini, Wayang Suket menjadi sebuah ikon bagi Gundono, alumni Jurusan Seni Pedalangan, Sekolah Tinggi Seni Indonesa (STSI) Surakarta tahun 1999, sekarang Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Padahal pria berpenampilan nyentrik dengan berat badan 150 kg ini semula dikenal sebagai dalang wayang kulit. Namun pada saat mulai laku manggung, dia malah menekuni wayang suket.
Lahir di Tegal, 19 Juni 1966, Gundono sama sekali tidak berpikir bahwa suket akan menjadi tren wayang suket. Wayang suket adalah pengalaman bawah sadar masa kecilnya. Bukan kesengajaan yang dimunculkan dan dieksplorasi di dunia seni. Dulu, hamper setiap hari di masa kecilnya, Slamet Gundono selalu pergi ke sawah. Saat itulah Gundono menyaksikan para petani menganyam menganyam rumput hingga menyerupai model wayang untuk mengisi waktu.

Pertama kali wayang suket dimainkan pada tahun 1997 di Riau. Tiba-tiba ia harus mementaskan wayang. Padahal, di sana tidak ada wayang kulit. Juga tak ada gamelan. Kebetulan kakak saya punya studio lukis yang terletak ditengah alang-alang sawah. Muncullah pengalaman masa kecil tentang suket. Akhirnya ia memutuskan untuk memakai suket, ia bentuk, ikat, dan gulung menjadi beragam bentuk wayang. Gamelannya pakai mulut, ala kadarnya dengan lakon “Kelingan Lamun Kelangan”. Itulah pertunjukkan wayang suket pertamanya.

Kelebihan wayang suket adalah ruang yang sangat bebas bagi penonton untuk membangun imajinasinya. Hingga ke imajinasi yang tak terbatas.
Filosifi suket sebagai sesuatu yang terus tumbuh adalah spirit yang membuatnya bangga. Suket hanya butuh air dan sinar matahari. Kekuatan filosofi ini menggambarkan kekuatan ruang imajinasi dari wayang suket. Pertunjukkannya merupakan simbol grass root yang mempertanyakan tentang diri, bukan memberontak atau merusak. Konsep pertunjukannya adalah pelataran seperti lagunya, urip kuwi mung koyo bocah cilik dolanan nang pelataran.

Gundono mengemas Wayang Suket secara apik dan unik sebagai kreasi baru dunia pewayangan. Cerita yang diangkatnya bukan sekedar cerita-cerita klasik yang bersumber dari kitab Mahabarata, atau Ramayana. Melainkan juga mengangkat kisah-kisah keseharian, termasuk soal aksi peledakan bom atau tentang pemilu.
Tak seperti dalang umumnya, ketika tampil Slamet Gundono tidak menggunakan baju beskap, blangkon, dan keris di pinggang. Ia biasa tampil dengan pakaian setengah telanjang atau seperti koboi. Media pementasannya pun tidak menggunakan wayang, kecuali untuk gunungan atau beberapa tokoh. Malah kadang ia menggunakan buah-buahan hasil kebun; seperti cabe, mentimun, tomat, bawang merah, dan lain-lain yang tertancap di batang pisang; jika di panggung.

Dari pengalaman beberapa tahun mempopulerkan wayang suket, ia menandai orang-orang yang mengundang wayang suket tidak sekadar nanggap. Ia menangkap romantisme kuat pada mereka, yakni romantisme masyarakat agraris. Itu ada di ruang bawah sadar orang-orang kota. Tak hanya orang-orang asal Jawa yang antusias. Penonton di Berlin, Jerman, pun memberikan antusiasme serupa. Begitu terkesannya pada pertunjukan Slamet Gundono, beberapa penonton mengundangnya makan malam seusai pentas.

Selain lakon masternya, “Kelingan Lamun Kelangan”, ada lakon-lakon lain yang digarap Slamet Gundono, antara lain; “Sukesi atau Rahwana Lahir”, “Limbuk Ingin Merdeka”, dan “Bibir Merah Banowati” tergantung segmen dan keinginan pasar. Di tangan Slamet Gundono, Wayang Suket menjadi tontonan yang enak, segar, dan penuh tuntunan.
“Saya selalu melihat wayang lengkap dengan sejarahnya, sama seperti teater Barat itu. Tapi saya tidak bermaksud menyatukan keduanya dalam pentas. Saya hanya melihat dua-duanya, kemudian membuat sesuatu di antara dua-duanya itu,” ujarnya.
Menurut Gundono, wayang suket itu ada di mana- mana. Hanya saja, para perajin wayang mengerjakannya secara halus sekali, dan menjadi perwujudan dari karakter yang sudah ada dalam wayang kulit.
“Wayang suket saya hanya sebatang ilalang. Gatotkaca ya seperti itu. Sama dengan Arjuna, Semar, Gareng, Petruk, Bagong. Semuanya ya seperti itu. Saya membebaskan penonton untuk menemukan karakter wayangnya sendiri. Saya tidak ingin mendominasi.”
Dengan kata lain, lanjut Gundono, dirinya tidak mengambil wayang suket yang sudah ada. Maka, dia juga tidak ingin mengklaim bahwa wayang suket sebagai ciptaannya.
“Saya hanya mencoba memainkannya dengan cara saya sendiri,” ujarnya.
Melalui wayang suket ini, Gundono sebenarnya ingin membebaskan wayang dari bentuknya yang beku. Pada gilirannya memang bukan hanya suket sebagai media pentas Gundono. Bermacam benda, seperti batu, batok kelapa, ptongan kayu, dan sandal jepit pun bias menjadi anak wayang, agar penonton kaya imajinasi.
“Saya mencoba menyinergikan dunia teater dan tari dengan dunia pewayangan Jawa. Kisah-kisah dalam Mahabaratha dan Ramayana bukan sebagai cerita utama, tetapi hanya sebagai bungkus untuk mengungkap berbagai persoalan aktual,” kata Gundono yang kini tinggal di Sanggar Wayang Suket Desa Jomboran, RT 02, RW 7 No. 196, Karanganyar, Jawa Tengah .(Ganug Nugroho Adi)

Sumber http://wayang.wordpress.com/

Ki Ledjar Subroto Pencipta Wayang Kancil

YOGYAKARTA – Akhir-akhir ini situasi batin Ki Ledjar Subroto begitu galau. Meski saat berkumpul dengan para seniman di Yogyakarta tingkah lakunya tetap menunjukkan kekonyolan lewat banyolan-banyolannya, intensitasnya sangat berkurang.


Raut wajah pencipta wayang Kancil ini tak jarang tampak serius. “Ini persoalan tanggung jawab moral, harga diri. Apa kata teman-teman seniman terhadap saya ketika mereka tahu dari pemberitaan jika Wayang Kancil itu diklaim bukan ciptaan saya? Padahal, jelas ciptaan saya,” ujar Ki Ledjar (70). Kegalauan Ki Ledjar ini muncul beberapa hari setelah dirinya dan Kartika Affandi mendapat Lifetime Achievement Award dari panitia Biennale Jogja X-2009.

Kala itu, cucunya, Ananto Wicaksono, membawa katalog wayang Indonesia yang berjudul The Development of Wayang Indonesia as a Humanistic Cultural Heritage. Cucunya yang tengah kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogya itu menjelaskan, dalam katalog tersebut termuat Wayang Kancil. Hanya saja, pembuatnya bukanlah Ki Ledjar Subroto. “Lha ini bagaimana? Kalau begini ini kan saya bisa dibilang penipu? Padahal, Wayang Kancil itu benar-benar ciptaan saya,” ungkap Ki Ledjar dengan gusar.

Dia menjelaskan, pada katalog yang digunakan untuk keperluan pameran Wayang Indonesia tanggal 19-30 April 2004 itu, Wayang Kancil dikatakan sebagai wayang ciptaan Bo-Liem, seorang China, di tahun 1925. Wayang itu dibuat oleh Lie Too Hien. “Anehnya, yang dipasang itu adalah Wayang Kancil buatan saya dengan menghapus catatan kaki yang merupakan inisial saya,” tuturnya.

Tak hanya itu yang memojokkan Ki Ledjar dalam katalog tersebut. Wayang VOC yang juga merupakan ciptaannya, diganti dengan nama Wayang Duporo. Lagi-lagi inisial namanya yang terdapat di sambungan kaki atau palemahan dihilangkan. Sementara itu, tertulis pembuatnya adalah Raden Mas Danuatmadja tahun 1830-1858.

Selain Wayang Kancil, juga muncul Wayang VOC yang juga dibuat Ki Ledjar pada tahun 1980-an. Sebutan Wayang VOC diganti dengan Wayang Duporo dan tiga nama wayang yang muncul adalah Sultan Agung, Patih Danureja dan Pangeran Diponegoro. Di sambungan kaki atau palemahan-nya yang tertulis inisial Ki Ledjar sengaja dipotong, dan pembuatnya adalah Raden Mas Danuatmadja tahun 1830-1858.

Betapa gusarnya Ki Ledjar ini mengingat tokoh-tokoh yang ditampilkan dalam Wayang Duporo (Sultan Agung, Patih Danureja dan Pangeran Diponegoro) dijadikan satu atau hidup dalam satu zaman. Padahal, mereka hidup dalam zaman yang berbeda dan tak akan bisa bertemu dalam satu layar.

Pun, gambaran tentang Pangeran Diponegoro salah. “Mana ada Pangeran Diponegoro berjambang? Apa kata keluarga Pangeran Diponegoro?” ujar Ki Ledjar. Ia juga tak habis pikir ketika melihat katalog yang dibuat Senawangi (Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia), pada halaman 29. Di halaman itu dimuat Wayang Wahyu dengan tokoh-tokoh seperti Judas, Petrus dan Matheus dengan mencantumkan penciptanya adalah Temotheus Mardji Subrata pada tahun 1960. Lagi-lagi, wayangnya diakukan milik Temotheus.

Atas dasar itulah Ki Ledjar akan mencoba menemui Senawangi untuk meluruskan. “Saya akan memikirkan langkah-langkah yang harus saya lakukan untuk meluruskan kesalahan ini. Bila perlu, mungkin saya akan menempuh jalur hukum,” tuturnya seraya menambahkan dirinya telah mempersiapkan arsip-arsip berupa sketsa buatannya untuk membuktikan kebenaran.

Untuk meringankan beban batinnya itu, Ki Ledjar membuat sebuah perhelatan di Bentara Budaya Yogyakarta pada akhir Maret lalu. Ia merasa perlu membuat pernyataan terbuka terkait dengan Wayang Kancil. “Saya perlu menjelaskan pada publik soal ini agar semuanya tahu duduk perkaranya,” lanjutnya. Nama Ki Ledjar memang boleh jadi tak begitu menonjol di dunia kesenian dalam negeri.
OLEH: YUYUK SUGARMAN

Wayang Kancil

Wayang Kancil diperkenalkan oleh Ki Ledjar Subroto pertama kali pada tahun 1980. Wayang Kancil adalah pertunjukkan seni wayang yang semua tokohnya adalah binatang dengan tokoh utama adalah binatang kancil.
Bagi dalang yang pernah menjadi srati dalang purwo kondang Ki Narto Sabdo ini,
wayang Kancil adalah media dongeng untuk mendidik anak-anak. Namun sayangnya tradisi mendongeng itu sudah dilakukan para orang tua. “Dongeng untuk anak itu sekarang sudah dilupakan orang tua. Padahal untuk mendidik anak itu tidak perlu susah-susah dengan hukuman, cukup dengan bercerita,” terangnya.


Hingga saat ini Ki Ledjar Subroto tetap konsisten pada jalan berkeseniannya: mencipta wayang Kancil. Ia juga terus mempertontonkannya ke panggung-panggung kecil, menyampaikan nilai-nilai kehidupan pada anak-anak yang menjadi sasaran penontonnya.
Selain itu, ia juga sering mendapat undangan dari institusi pendidikan di Yogyakarta untuk memberikan pelatihan mengenai wayang Kancil. Pada tahun 1980-1990 Ki Ledjar Subroto bersama wayang Kancil-nya 
secara rutin melakukan pementasan wayang Kancil di Alun-Alun Selatan Kraton Yogyakarta.

Sejak Desember 2003, Ki Ledjar Subroto secara rutin juga mendapatkan kesempatan menampilkan wayang Kancil di Taman Rekreasi Kebun Binatang Gembiraloka. Sebagai sebuah karya seni, wayang Kancil yang dibuat Ki Ledjar Subroto juga banyak mendapatkan perhatian dan penghargaan dari banyak pihak seperti kolektor dan museum untuk mengoleksi wayang Kancil.

Beberapa pecinta seni yang sudah mengoleksi wayang Kancil yang diciptakan Ki Ledjar misalnya Ki Manteb Sudarsono, dalang kondang dari Karanganyar. Ada pula kolektor luar negeri seperti Tym Byard Jones dari University of London Inggris, Dr. Walter Angst dari Kota Salem Jerman, ArnoMozoni-Fresconi dari Hamburt Jerman serta V.M Clara Van Groenendael dari Amsterdam, Belanda.


Sementar museum dalam dan luar negeri yang mengoleksi wayang Kancil adalah Museum Sonobudoyo, Museum Wayang H. Budiharjo, Museum Wayang Jakarta, Taman Mini Indonesia Indah, Ubersee Museum di Bremen Jerman, Tamara Fielding (The Shadow Theater of Java) New York Amerika Serikat, Museum of Anthropology (Dominique Major) di Canada, Museum Westfreis di Hoom Belanda, Museum Tropen di Amsterdam Belanda dan Museum Kantjiel di Leiden Belanda.
Inovasi Ki Ledjar tak putus pada penciptaan wayang Kancil. Ia juga telah menciptakan wayang Proklamasi yang bercerita tentang kisah-kisah perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah Belanda.

Dalam wayang Proklamasi ini, Ki Ledjar Subroto menggubah tokoh-tokoh pejuang tanah air seperti Soekarno-Hatta, Syahrir dan lain-lain termasuk para gubernur jenderal pemerintah kolonial Belanda.
Pada tahun 1987, Ki Ledjar Subroto menciptakan Wayang Sultan Agung yang mengisahkan perjuangan Sultan Agung dalam melawan penjajah Belanda yang dipimpin Jan Pieter Zoon Coen. Pada tahun 2004, Ki Ledjar Subroto juga menciptakan Wayang Jaka Tarub untuk keperluan pentas kolaborasi wayang dan kethoprak Yogyakarta. (The Real Jogja/joe)

Sumber http://wayang.wordpress.com

Definisi Pengertian Wayang

Wayang merupakan bentuk konsep berkesenian  yang kaya akan cerita falsafah hidup sehingga masih bertahan di kalangan masyarakat jawa hinggga kini.
Disaat pindahnya Keraton Kasunanan dari Kartasura ke Desa Solo (sekarang Surakarta) membawa perkembangan juga dalam seni pewayangan.
Seni pewayangan yang awalnya merupakan seni pakeliran dengan tokoh utamanya Ki Dalang yang berceritera, adalah suatu bentuk seni gabungan antara unsur seni tatah sungging (seni rupa) dengan menampilkan tokoh wayangnya yang diiringi dengan gending/irama gamelan, diwarnai dialog (antawacana), menyajikan lakon dan pitutur/petunjuk hidup manusia dalam falsafah.

Seni pewayangan tersebut digelar dalam bentuk yang dinamakan Wayang Kulit Purwa, dilatar-belakangi layar/kelir dengan pokok cerita yang sumbernya dari kitab Mahabharata dan Ramayana, berasal dari India. Namun ada juga pagelaran wayang kulit purwa dengan lakon cerita yang di petik dari ajaran Budha, seperti cerita yang berkaitan dengan upacara ruwatan (pensucian diri manusia). Pagelaran wayang kulit purwa biasanya memakan waktu semalam suntuk.

Orang jawa mempunyai jenis kesenian tradisional yang bisa hidup dan berkembang hingga kini dan mampu menyentuh hati sanubari dan menggetarkan jiwa, yaitu seni pewayangan. Selain sebagai alat komunikasi yang ampuh serta sarana memahami kehidupan, wayang bagi orang jawa merupakan simbolisme pandangan-pandangan hidup orang jawa mengenai hal-hal kehidupan yang tertuang dalam dilaog dialur cerita yang ditampilkan.

Dalam wayang seolah-olah orang jawa tidak hanya berhadapan dengan teori-teori umum tentang manusia, melainkan model-model hidup dan kelakuan manusia digambarkan secara konkrit. Pada hakekatnya seni pewayangan mengandung konsepsi yang dapat dipakai sebagai pedoman sikap dan perbuatan dari kelompok sosial tetentu.

Konsepsi-konsepsi tersebut tersusun menjadi nilai nilai budaya yang tersirat dan tergambar dalam alur cerita-ceritanya, baik dalam sikap pandangan terhadap hakekat hidup, asal dan tujuan hidup, hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan lingkungannya serta hubungan manusia  dengan manusia lain.

Pertunjukkan wayang terutama wayang kulit sering dikaitkan dengan upacara adat: perkawinan, selamatan kelahiran bayi, pindahan rumah, sunatan, dll, dan biasanya disajikan dalam cerita-cerita yang memaknai hajatan dimaksud, misalnya dalam hajatan perkawinan cerita yang diambil "Parto Krama" (perkawinan Arjuna), hajatan kelahiran ditampilkan cerita Abimanyu lahir, pembersihan desa mengambil cerita "Murwa Kala/Ruwatan" 

Senin, 27 Februari 2012

Dalang Jliteng Suparman

Dalang Ki Jlitheng Suparman bisa dibilang dalang nyentrik dan unik. Sejak tahun 2000,Jlitheng mengusung apa yang disebutnya Wayang Kampung Sebelah (WKS) untuk menyampaikan berbagai kritikan sosial. Jlitheng sendiri memang memiliki darah dalang dari kakeknya yang tinggal Wonogiri.
Saat kelas IV SD,Jlitheng kecil yang tinggal di Kampung Gremet,Manahan,Solo pindah ke Ngadirojo,serumah dengan kakeknya,Ki Guno Sudarjo. Melihat aktivitas kakek dan pamannya yang juga seorang dalang dan sering diajak pentas,ia mulai belajar dan tertarik menjadi dalang.

Sistem belajar yang ia dalami bukan formal dengan mendapat arahan setiap waktu. Jlitheng belajar sendiri dari pengamatan,berlatih sendiri dengan sesekali mendapat arahan dari kakek atau sistem nyantrik. Saat menggembala ternak pun ia sempatkan untuk mendalang dengan disaksikan teman-temannya di ladang memakai media dedaunan sebagai wayangnya. Sejak saat itu,kemampuannya mulai terlihat dan mendapat perhatian dari kakek dan pamannya. Awal jadi dalang yaitu saat ikut pentas kakek dan paman. Dalam pentas itu ia jadi dalang untuk pembukaan,istilahnya mucuki (jawa),memperagakan satu fragmen sekitar setengah jam hingga satu jam.

Pengalaman manis tersebut membuat dirinya makin bersemangat menjadi dalang. Meski masih kecil,ia mendapat kepercayaan menjadi pembuka pementasan wayang. Tepuk tangan penonton,pujian yang datang,membuatnya bangga dan bersemangat.
Sejak Kelas II SMP,Jlitheng remaja kembali ke kampung kelahirannya di Solo. Meski pindah kota,pamannya yang dalang sekaligus buruh bangunan di Solo tersebut sering mengajaknya ke Wonogiri untuk pementasan. Karena belajar pertama di Wonogiri,banyak yang mengira bahwa Jliteng adalah orang Wonogiri,padahal ia asli lahir di Solo. Hingga kuliah,Jlitheng lebih banyak mendapat tawaran pentas di Kota Gaplek.

Pada 1960-an hingga 1970-an, dalang bukan profesi utama. Dalang umumnya memiliki penghasilan utama dari pertanian atau buruh. Seperti kakeknya yang seorang petani dan pamannya buruh. Sehingga saat itu belum terdengar kabar ada dalang yang ngetop dan kaya raya. Pada waktu itu pembayarannya,memakai sistem kompensasional,yaitu dibayar selain dengan uang,juga dengan bahan makanan,sajian saat pentas atau peralatan rumah tangga.

Waktu kecil ia tidak berpikir soal profesi dalang dari aspek ekonomi,bayarannya berapa. Tapi aspek kesenangan dan kepuasan. Maka ndalang tetap berlanjut hingga sekarang.
Perjalanan pendidikan pedalangan makin matang setelah ia mendapatkan pendidikan di SMKI Solo atau yang kini disebut SMKN 8 Jurusan Pedalangan. Setelah lulus,ia masuk Fakultas Sastra Jurusan Sastra Jawa UNS. Beberapa prestasi awal kariernya yaitu saat kelas 1 SMP meraih juara II lomba dalang se-Wonogiri. Saat kuliah,ia masuk 10 besar dalang unggulan dalam Festival 50 Dalang di Solo.

Sumber Lain : SOLOPOS

Wayang Kampung Sebelah

Wayang Kampung sebelah adalah sebuah karya seni pertunjukan yang di kembangkan oleh Dalang Ki Jlitheng Suparman. Sejak tahun 2000,Ki Jlitheng mengusung apa yang disebutnya Wayang Kampung Sebelah (WKS) untuk menyampaikan berbagai kritikan sosial. Wayang yang terbuat dari kulit bergambar manusia ini berbeda dengan wayang purwa yang tokoh-tokohnya berasal dari kisah
Ramayana dan Mahabarata,tokoh-tokoh di dalam Wayang Kampung Sebelah ( WKS) ini seperti halnya masyarakat kampung yang plural,terdiri dari penarik becak,bakul jamu,preman,pelacur,pak RT,pak lurah,hingga pejabat negara. Nama-nama Karakter di WKS di antaranya Kampret,Karyo,Lurah Somad,Eyang Sidik Wacono,Hansip Sodron,Silvy dan tokoh penghibur lain seperti Roma Ra Mari-Mari,Inul Darah Tinggi,Cak Dul dan lainya.

Fungsi dan Kegunaan Wayang Kampung sebelah dalah sebagai media hiburan dan di gunakan sebagai media perlawanan terhadap perilaku seni yang menghamba pada kepentingan politik praktis. Beberapa lakon yang sering dipentaskan adalah Menjual Mimpi dan Atas Mengganas,Bawah Beringas atau Who Wants to be a Lurah. Menurut Ki Jliteng (Sang Dhalang) “WKS selalu menyerukan anti kekerasan,seperti halnya lakon Atas Mengganas,Bawah Beringas,yang mengisahkan bahwa kekerasan bukanlah sebuah solusi”. Memandang adanya kasus kekerasan di masyarakat,tak serta-merta mutlak kesalahan pelaku. Perlu di perhatikan pula penyebab dari tindak kekerasan itu sendiri,seperti sikap pembiaran penyelenggara negara terhadap pelaku kekerasan.

Kekerasan dan arogansi yang menyebar di mana-mana,menurut Jlitheng,karena ada peluang,sedangkan yang memberi peluang adalah penyelenggara negara. “Negara,dalam hal ini penyelenggara tidak tegas,tidak lagi berlandas Pancasila,tidak hadir untuk melindungi warga dan kebebasan berpendapat,sedangkan obat mujarabnya ya mereka kembali ke Pancasila.”

Hal itu tergambarkan dalam salah satu adegan karakter di Wayang Kampung Sebelah,Karyo, mengeluh tentang kemiskinan yang ia alami karena negara sudah tidak benar,salah dan kacau. Kemudian keponakannya yang bernama Kampret,meluruskan pendapat itu. Menurut Kampret,Indonesia tidak pernah salah,yang salah adalah pemegang Indonesia. Dari presiden hingga lurah,sebagai penyelenggara negara. “Yang salah orang yang tidak mampu mengawal Pancasila. Kalau pemerintah memperhatikan Pancasila,wong melarat di perhatikan. Tapi karena tidak memperhatikan Pancasila,ya kita tidak diperhatikan.”

Penyadaran tentang kesalahan rekonstruksi Pancasila yang saat ini berlangsung juga di selipkan dalam pertunjukan Wayang Kampung Sebelah. Menurut Jlitheng,negara karut-marut karena sejak Orde Baru hingga reformasi,rekonstruksi Pancasila yang di bangun sudah keliru. “Dasar negara itu bukan kaidah moral individual tapi negara,kaidah negara bagi kebijakan etik dalam memproduksi undang-undang,” katanya. Negara,dalam hal ini pemerintah,harus menjalankan nilai-nilai Pancasila,bukanya rakyat yang menjalankanya. “Maka keliru,mengapa dulu ada P4,kini yang ada empat pilar bangsa tapi yang di sosialisasi ke masyarakat,mestinya pejabat.”

Yang menarik dari pertunjukan wayang kampung sebelah adalah kepandaian Dhalang Ki Jliteng Suparman mengolah kata dalam tiap lakon yang di mainkan hingga mampu menciptakan sebuah atmosfir baru di lingkungan pertunjukan. Tiap tokoh mampu berinteraksi dengan penonton adalah kelebihan tersendiri bagi WKS sehingga membuat pertunjukan tidak terlihat berkesan monoton.
Ketika tokoh-tokoh penghibur di tampilkan,penonton pasti di buat terkagum-kagum,adanya kolaborasi perkusi dengan salah satu sebuah sanggar seni solo,mampu memikat masyarakat dengsn setuhan gaya seni modern dan plesetan-plesetan dalam tiap lagu mengundang tawa.
Hebatnya lagi,misalnya penampilan Cak Dul saat menyanyikan lagu magadir dengan goyang pinggulnya yang bikin siapaun pasti berdecak kagum waktu melihat bentuk wayang. Keunikan bentuk tokoh merupakan nilai plus untuk wayang kampung sebelah.

Perkembangan Wayang Kampung Sebelah,dengan program pentas yang digelar sejak tahun 2009,WKS menghibur dan memberi pendidikan politik dan budaya ke pelosok kampung di Solo dan kabupaten di sekitarnya. Meski belum banyak di kenal masyarakat luas,namun dengan adanya program serangan pentas lambat-laun WKS memiliki tempat di hati sebagian rakyat,terutama bagi pecinta seni. Terbukti ketika WKS tampil di salah satu stasiun televisi,banyak penonton yang menyaksikan dan melontarkan pendapatnya masing-masing.

Wayang Kampung Sebelah,memiliki karakter unik untuk menyampaikan sebuah gagasan baru dengan caranya sendiri,dan bisa di katakan sebagai sebuah evolusi dalam sejarah perkembangan seni pertunjukan.
Sebagi manusia biasa yang baru belajar menulis,saya (Bocah Mbelis) hanya bisa berdoa : “Semoga karya-karya besar seperti ini tetap mampu bertahan dan berkembang di antara tekanan gejolak politik dan perubahan jaman.”

Sumber Lain : SOLOPOS

Minggu, 26 Februari 2012

Dhalang Poer

Namanya Dalang Poer.  Entahlah.., saya tidak tahu siapa nama lengkapnya. .???
Apakah itu Poerwanto, Poernomo, Poerwadi, atau Poer yang lainya juga kurang jelas.  Gelar Dhalang  didepan namanyapun saya juga tidak bisa menjelaskan apakah memang dia seorang dhalang, atau profesi lain yang seirama dengan dalang,atau sekedar  “paraban” karena kepintarannya mengolah gendhing dan musik serta mbabar lelakon dalam cakepan-cakepan gending jawa sayapun juga tidak tahu.

Entah kenapa saya seringkali tertarik dengan karya seniman yang satu ini.  Padahal, dengan pengetahuan music standard saja kita bisa tahu bahwa tidak ada yang istimewa dalam karya musiknya. (Ma’af Kang Dhalang Poer : ini tidak bermaksud mencela loh).
Mungkin kekuatan Kang Poer adalah pada kemampuannya mengartikulasi sebuah lakon dalam syair lagu dengan cara yang ringan dan sederhana itulah yang membuat Beliau terlihat istimewa (dalam padangan saya pribadi).  Bahkan lebih mendekati “guyon parikena”.  Oleh karenanya saya berusaha untuk bisa mengenal lebih dekat dengan sosok eksentrik ini.
Tak gampang tentunya mengenal sosok yang satu ini apalgi memasukkan nama saya dalam next list temannya.  Hal ini bukan karena beliau yang tertutup tetapi lebih karena minimnya refrensi saya tentang beliau ditunjang lemahnya pengetahuan saya tentang music dan ilmu-ilmu social. 

Hingga akhirnya saya tahu bahwa beliau memiliki account di facebook.  Persetan dia menjawab sendiri atau diwakili asistennya,saya add saja untuk masuk dalam list fiend saya.  Dan akhirnya dengan bangga saya katakana pada anda,bahwa seniman nyentrik ini adalah teman saya.Pertemuan saya dengan Dhalang Poer pertama kali di lantai dua Dishub pada waktu BPC-Bentang Pendhem Club (Komunitas Blogger Ngawi)  mengadakan seminar. Yang kedua di LSI-Langgar Sawo Ijo (Tempat/Rumahnya Mas atonk),Yang ketiga di Bahana-FM waktu Dhalang Poer melakukan pagelaran wayang techno dalam rangka refleksi kepahlawanan.

Meski beberapa kali sempat bertemu,saya maklum dan sadar kalau bocah mbelis hanyalah manusia biasa dan tetunya andai bertemu Dhalang Poer lagipun dia pasti lupa lagi dan lupa lagi.
Begitulah cerita saya kali ini tentang Dhalang Poer yang tidak pernah saya tau sebenarnya Beliau ini siapa.
Salam..!!!

Note : 
  • Gambar 1 - Foto Profil Dhalang Poer Di Face Book
  • Gambar 2 - Dhalang Poer bersama Pak Abid
  • Ilustrasi Musik : Langit Mendung Kutha Ngawi Oleh Dhalang Poer



Sabtu, 25 Februari 2012

Kontroversi Wayang Techno

Wayang techno adalah sebuah seni pertunjukan wayang kulit kontemporer yang berasal dari daerah ngawi. Seni pertunjukan wayang kulit kontempoer ini di ciptakan oleh seorang seniman dan sastrawan ngawi yang karya-karyanya sudah sangat terkenal bahkan banyak yang di jiplak oleh seniman lain terutama di bidang lagu ataupun langgam campursari gending-gending jawa.
Pagelaran wayang techno pertama kali di pertunjukan ke masyarakat oleh Dhalang Poer
dan yang berperan sebagai dhalang dalam pertunjukan wayang teckhno itu adalah Ki Dhalang Poer sendiri.

Dalam pertunjukanya,wayang teckhno tidak jauh berbeda dengan pertunjukan wayang purwa,baik dalam lakon (judul),media wayang yang di gunakan ataupun irama musik yang mengiringi sepanjang pertunjukan.
Yang membuat wayang techno berbeda adalah alat musik pengiring yang pada umumnya ada di pertunjukan wayang purwa (alat musik tradisional) tidak bisa di jumpai lagi dalam pertunjukan wayang teckhno,sebab alat musik yang di gunakan sangatlah simple,yaitu dua buah alat musik elektronik modern (elecktone/organ),seperangkat drum dan seperangkat gendang jawa.

Yang menarik untuk di simak dari pertunjukan wayang techno,yaitu adanya kolaborasi seni tradisional klasik dan modern yang di kemas apik dalam sebuah karya seni pertunjukan kontemporer tanpa meninggalkan khasanah budaya dan tradisi ketimuran.
Keluar dari pakem. Begitulah pendapat sebagian orang..!!!
Sebelum melangkah lebih jauh,mari  kita lihat sedikit tentang pakem itu sendiri..???
Pakem dalam bahasa jawa di artikan sebagai pedoman,sehingga dalam tiap pertunjukan wayang purwa seorang dhalang harus memiliki pedoman-pedoman yang di anut dalam tiap pagelaranya,baik di dalam alur cerita/jejer,dialog ataupun tempo irama pengiring dalam pertunjukan wayang.

Saya (pribadi) sebagai penulis yang baru belajar,di sini cuma sekedar iseng bicara sedikit tentang wayang techno dan pakem wayang,meski saya (pribadi) tak mengerti apa arti dan makna sebenarnya,bahkan yang seringkali muncul pertanyaan tentang pakem ketika masih dalam penulisan artikel ini.
Sebenarnya apa makna dari pakem..???
Sebenarnya di dunia ini ada berapa Pakem yang di yakini..???
Sebenarnya siapa pencipta pakem yang di anut oleh banyak orang..???

Maaf..,saya tidak ingin membawa pembaca dalam atmosfir kegalauan ketika meyakini dan menentukan pilihan akan pakem untuk di anut,sebab saya (pribadi) sadar bahwa saya bukan seorang seniman,sastrawan ataupun penulis.
Bocah mbelis hanyalah manusia lumrah yang memiliki banyak kekurangan dan ingin mencari informasi tanpa secarik kertas karena saat ini buku terbilang mahal untuk di beli dalam ukuran kantong bocah mbelis.

Kembali ke wayang teckhno,yang perlu kita garis bawahi tentang wayang teckhno dalam sudut pandang bocah mbelis,bahwa : “Wayang techno merupakan sebuah perkembangan baru dalam sejarah wayang.”
Wayang purwa yang di kembangkan dalam bentuk karya seni modern ini tentunya/mungkin akan mengundang kontroversi di antara para dhalang dan pecinta wayang purwa,namun kita tidak bisa berpaling dari kenyataan bahwa segala sesuatu tanpa terkecuali baik itu tradis ataupun sebuah kebudayaan sekalipun pasti akan mengalami perkembangan dan perubahan mengikuti masanya seiring dengan perubahan dan perkembangan jaman.
Salam..!!!

Note :
  •  Ilustrasi gambar : http://info.mediamadiun.com
  • Ilustrasi Musik : Meh Rahino

Selasa, 01 Februari 2011

Tari Angguk Patumbak

Tari Angguk Patumbak Perpaduan Multi Etnis
Tari tradisional sarat dengan ritual yang bisa menghubungkan penari dengan kekuatan di luar dirinya. Salah satunya adalah tari Angguk. Tarian ini dibawakan secara berkelompok dan mengambil cerita dari Serat Ambiyo dengan kisah Umarmoyo-Umarmadi dan Wong Agung Jayengrono. Durasi tari Angguk berkisar antara 3 sampai 7 jam.


Secara historis, tarian ini sejak abad ke 17 dibawa para mubalig penyebar agama Islam dari wilayah Mataram-Bagelen dan berkembang luas di Jawa Timur. Tarian ini disebut angguk karena penarinya sering memainkan gerakan mengangguk-anggukan kepala. Kesenian bercorak Islam ini mulanya berfungsi sebagai salah satu alat untuk menyiarkan agama Islam. Sayangnya, kesenian ini sekarang semakin jarang dipentaskan.

Perangkat musik yang menyertai tarian ini umumnya terdiri dari kendang, bedug, tambur, kencreng, 2 rebana, terbang (rebana besar) dan angklung. Syair lagu-lagu tari angguk diambil dari kitab Barzanji sehingga syair-syair angguk pada awalnya memang menggunakan bahasa Arab tetapi akhir-akhir ini gerak tari dan syairnya mulai dimodifikasi.

Digerakkan Multi Etnis
Di Medan, seni ini digeluti Motor Seni Angguk Patumbak. Ketua Kesenian Angguk Wijoyo Kesumo Desa Patumbak II, Kecamatan Patumbak, Deliserdang, Heriawan Syahputra (28), mengatakan, seni angguk tak banyak beda dengan seni kuda lumping “kuda kepang”. Sedikit perbedaan terletak pada aliran musik dan lantunan lagu. Dalam kuda lumping, hanya ada iringan lagu, sedangkan di Seni Angguk ada lantunan lagu.
Pria berdarah Cina-Jawa ini menyebutkan, dia memiliki anggota (para penari) yang disebut anak wayang sebanyak 14 orang. Setiap memulai pertunjukan, kepada anak-anak wayang itu terlebih dahulu diperdengarkan lagu mistis berbahasa Jawa hingga anak-anak wayang-anak itu trance, masuk ke tahap kesurupan (ndadi).

Sekumpulan anak-anak muda asal Kota Medan dan Deliserdang itu lalu ‘mabuk’. Alunan musik mengalun seperti mengundang ruh untuk masuk ke raga anak wayang. Mereka ‘mabuk’ seiring tabuhan gendang yang dipukul pemain musik. Bukan hanya anak wayang, para pemain musik pun bisa “mabuk”. Dalam kondisi trance seperti itulah tarian angguk dimulai. Lagu yang dilantunkan untuk menggerakkan penari biasa disebut kepyur-kepyur. Lagu disampaikan sebagai penghormatan kepada orang yang memiliki hajatan, seperti sunatan, pernikahan dan syukuran yang mengundang mereka untuk mentas.

Setelah anak-anak wayang menari dalam waktu tertentu, mereka digiring masuk pada tahap hiburan. Tahap ini merupakan atraksi “mabuk” atau kesurupan danyang ketek “monyet” atau bergaya anak kecil. Setelah itu, anak-anak wayang kembali ke mabuk asli dan tahap memulangkan ruh, dayang kembali ke satu alat bernama gendang. Inilah yang menjadi kewajiban gamboh atau pawang untuk memulangkan personil dengan wujud yang bersih dari ruh. “Ruh ini dikembalikan ke gendang,” ujarnya.

Heriawan Syahputra mengatakan, sebelum menjadi anak wayang, seorang anak muda harus terlebih dahulu diisi melalui ritual khusus yang diberikan pawang. Nah, hal ini tergantung kepada pawangnya bagaimaman memberikan ujian khusus terhadap anggota anak wayang. “Ketertarikan kami kepada seni ini karena sangat dekat dengan mistis, inilah seninya yang tinggi bagi kami,” katanya.

Uniknya, penggiat seni angguk asal Kecamatan Patumbak ini tidak mendapatkan warisan seni itu dari orang tua ataupun membawanya dari Jawa. Mereka tertarik karena melihat dan langsung mempelajarinya dari seorang pembimbing asal Kecamatan Batangkuis, Deliserdang.

Bendahara perkumpulan seni ini, Rudi Tarigan, mereka belajar selama enam bulan pada 2002. Kini mereka mulai eksis dan sudah menyisir sejumlah wilayah di Sumatera Utara. Uniknya, para personil dan anak-anak pawang itu berasal dari berbagai etnis seperti Jawa, Karo, Batak dan Tionghoa. “Kami beragam suku yang jadi penggiat seni ini. Ada Karo seperti saya, Cina-Jawa, Jawa-Sumatera, Batak dan Tionghoa murni,” ujar Rudi.
Rintisan pelajaran seni yang diikuti pemuda ini berawal dari keinginan mengisi waktu luang dan menyalurkan bakat seninya. Ia kemudian betah menekuni seni angguk. Kini, pemuda ini sudah mendapatkan bayaran Rp 700 ribu per sekali tampil. “Tak hanya dari nilai, tapi kami sangat cinta dengan seni ini. Seni ini unik dan enak dilihat,” katatanya.

Walau tak dilahirkan sebagai Jawa, dia mapan memajukan seni angguk asal Jawa Timur ini di Sumut. Namun itu bukan berarti dia mengabaikan seni dari kebudayaannya. “Seni ini sangat sedikit yang mengembangkan, terus karena dekat dengan mistis, saya tertarik,” katanya.
Salah seorang pengurus kesenian ini, Gregi Ilchen (28), pria berdarah Tionghoa, mengaku tertarik dengan seni angguk akibat dekat dengan mistis. Di awal rintisannya, ia mengaku sulit menyalurkan dan melapazkan syair lagunya, tapi karena berbaur dan dibesarkan di lingkungan multi etnis, dia mengikut jiwanya yang senang pada seni.

“Gampang-gampang susah mengembangkan dan mengikuti seni angguk ini. Tapi kalau sudah memiliki jiwa seni, akan sangat mudah dan enak bila ditekuni,” ucapnya seraya mengaku termasuk tiga orang perintis awal seni angguk asal Kecamatan Patumbak.

Kini mereka mendapatkan perhatian, apalagi ketika muncul Gregis Ilchan. Paras Tionghoa yang begitu kentara, membuat penonton tersipu dan heran melihatnya. Tak hanya itu, ada Arpan Sitompul (25) dan pria jawa kelahiran Sumatera Selatan, Jumain (38). Mereka juga mulai mendapatkan donatur yang membantu kelengkapan alat dan pakaian dari H Misran Tupono, seorang jawa yang peduli. Begitulah seni angguk yang langka dan tidak populer, dikelola sebagai wadah persatuan multietnis. (ril/net)
http://www.hariansumutpos.com
 
© Copyright 2012 Oca Sulistya
Theme by Oca Sulistya