Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 April 2012

Dolalak (Tarian Khas Purworejo)

Dolalak (Tarian Khas Purworejo).
Kesenian rakyat asli purworejo ini hampir mirip dengan Tari Angguk yang berkembang di daerah perbatasan Yogyakarta, mungkin karena keadaan kultur sosial budaya dimana sebuah kesenian itu berkembanglah yang neyebabkan Seni Tari Dolalak ini menyerupai Tari Angguk (purworejo) autaupun Tari Angguk Patumbak.

Definisi Seni Tari Dolalak (Pengertian Tari Dolalak).
Tarian dolalak adalah warisan budaya/peninggalan pada zaman penjajahan Belanda.
Tarian khas kabupaten Purworejo ini merupakan seni tarian rakyat hasil akulturasi budaya barat dan timur, yang hingga kini, telah menjadi salah satu khas yang dimiliki kabupaten Purworejo Jawa Tengah.

Tarian dolalak terbilang unik dan memiliki kekhasan serta daya tarik sendiri, yang boleh jadi tidak ditemukan di dalam seni tari lain. Keunikan tari dolalak terletak pada gerak dansa dan rampak pada barisan, seperti layaknya para serdadu (sekarang mungkin tari poco-poco). Selain itu, aksesoris busana yang dikenakan para penarinya pun bernuansa serdadu Belanda. Mulai dari kostum, asesoris pangkat, rumbai pada baju topi dan kaca mata. Dan dalam pertunjukanya, penari-penari Dolalak bisa mengalami trance, yaitu suatu kondisi mereka tidak sadar karena sudah begitu larut dalam tarian dan music, sehingga tingkah mereka bisa aneh-aneh dan lucu.

Asal-Usul Tarian Dolalak (Asal Mula Tarian Dolalak).
Konon, di kabupaten Purworejo yang merupakan awal kemuculan dan perkembangan dolalak. Dahulu banyak terdapat tangsi atau barak serdadu Belanda. Di saat senggang, untuk melepaskan penat dan lelah setelah bertugas di medan tempur. Serdadu Belanda lalu mengisinya dengan bernyanyi dan menari. Kebiasaan itu, kerap disaksikan warga sekitar tempat tangsi itu berdiri. Dari sanalah akhirnya mulailah warga sekitar, mengemas dan mengembangkannya menjadi sebuah kesenian baru, yang sekarang di sebut Dolalak.

Asal-Usul Nama Dolalak (Asal Mula Nama Dolalak).

Penamaan dolalak sendiri berasal dari notasi Do-La-La yang mengiringi gerak dansa dalam tarian ini. Dalam perkembangannya, iringan musik tarian dolalak menggunakan instrumen musik jidur, terbang, kecer, dan kendang. Sedang untuk iringan nyanyian menggunakan syair-syair dan pantun berisi tuntunan dan nasehat. Isi syair dan pantun yang diciptakan, campuran dari bahasa jawa dan bahasa indonesia sederhana. Dan seiring perkembangan zaman dan teknologi, kemudian tarian Dolalak sekarang sudah diringi dengan musik modern, yaitu keyboard. Lagu-lagu yang dimainkan pun bervariasi dan beragam.

Perkembangan Tari Dolalak.
Tari Dolalak biasa di pertunjukan pada saat ada acara kajatan khitanan dan pernikahan atau pada acara pesta/perayaan tertentu. Dolalak semakin populer di kalangan generasi muda, bahkan sudah melanglang ke beberapa negara di Asia dan Erop, tentunya ini tidak luput dari peran
Pemerintah Daerah Purworejo yang dengan gencar, terus mengembangkan dan melestarikan kesenian asli daerah Purworejo ini. Bahkan di setiap event-event tingkat nasional kesenian Dolalak seringkali tampil sebagai suatu kesenian yang unik. Dan setiap lomba-lomba kesenian tingkat nasional kesenian Dolalak sering menjuarai.

Di tengah banyaknya hasil karya anak bangsa, tai dolalak merupakan karya seni dari Purworejo patut di jaga kelestarianya.

Minggu, 01 April 2012

Tari Angguk-Kesenian Rakyat Kulon Progo

Tari Angguk (Daerah Istimewa Yogyakarta).
Sebenarnya Tari Angguk Itu Apa Sih? .
Tari angguk yang baru saya lihat tadi siang rupanya berbeda dengan Tari Angguk Patumbak dari Patumbak. Meski berbeda tapi memiliki beberapa kemiripan, mungkin karena keadaan kultur sosial dan tempat berkembangnya dua tari angguk inilah yang membuat tari angguk dari Yogyakarta dan Tari Angguk Patumbak ini berbeda. Dan di sini mari kita kaji sedikit tentang tari angguk itu, agar kita tak lalai terhadap khasanah budaya negeri sendiri yang menjadi kekayaan inteltual bangsa.


Asal-usul Tari Angguk.
Kesenian Angguk merupakan satu dari sekian banyak jenis kesenian rakyat yang ada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kesenian angguk berbentuk tarian disertai dengan pantun-pantun rakyat yang berisi pelbagai aspek kehidupan manusia, seperti: pergaulan dalam hidup bermasyarakat, budi pekerti, nasihat-nasihat dan pendidikan. Dalam kesenian ini juga dibacakan atau dinyanyikan kalimat-kalimat yang ada dalam kitab Tlodo, yang walaupun bertuliskan huruf Arab, namun dilagukan dengan cengkok tembang Jawa. Nyanyian tersebut dinyanyikan secara bergantian antara penari dan pengiring tetabuhan. Selain itu, terdapat satu hal yang sangat menarik dalam kesenian ini, yaitu adanya pemain yang “ndadi” atau mengalami trance pada saat puncak pementasannya. Sebagian masyarakat Yogyakarta percaya bahwa penari angguk yang dapat “ndadi” ini memiliki “jimat” yang diperoleh dari juru-kunci pesarean Begelen, Purworejo.

Tarian angguk diperkirakan muncul sejak zaman Belanda1, sebagai ungkapan rasa syukur kapada Tuhan setelah panen padi. Untuk merayakannya, para muda-mudi bersukaria dengan bernyanyi, menari sambil mengangguk-anggukkan kepala. Dari sinilah kemudian melahirkan satu kesenian yang disebut sebagai “angguk”. Tari angguk biasa digelar di pendopo atau di halaman rumah pada malam hari. Para penontonnya tidak dipungut biaya karena pertunjukan kesenian angguk umumnya dibiayai oleh orang yang sedang mempunyai hajat (perkawinan, perayaan 17 Agustus-an dan lain-lain).


Jenis-jenis Angguk dan Pemain.
Tarian yang disajikan dalam kesenian angguk terdiri dari dua jenis, yaitu:

  1. Tari ambyakan, adalah tari angguk yang dimainkan oleh banyak penari. Tarian ambyakan terdiri dari tiga macam yaitu: tari bakti, tari srokal dan tari penutup; dan 
  2. Tari pasangan, adalah tari angguk yang dimainkan secara berpasangan. Tari pasangan ini terdiri dari delapan macam, yaitu: tari mandaroka, tari kamudaan, tari cikalo ado, tari layung-layung, tari intik-intik, tari saya-cari, tari jalan-jalan, dan tari robisari.


Pada mulanya angguk hanya dimainkan oleh kaum laki-laki saja. Namun, dalam perkembangan selanjutnya tarian ini juga dimainkan oleh kaum perempuan. Para pemain angguk ini mengenakan busana yang terdiri dari dua macam, yaitu busana yang dikenakan oleh kelompok penari dan busana yang dikenakan oleh kelompok pengiring. Busana yang dikenakan oleh kelompok penari mirip dengan busana prajurit Kompeni Belanda, yaitu:

  •  baju berwarna hitam berlengan panjang yang dibagian dada dan punggunya diberi hiasan lipatan-lipatan kain kecil yang memanjang serta berkelok-kelok; 
  •  celana sepanjang lutut yang dihiasi pelet vertikal berwarna merah-putih di sisi luarnya; 
  •  topi berwarna hitam dengan pinggir topi diberi kain berwarna merah-putih dan kuning emas. Bagian depan topi ini memakai “jambul” yang terbuat dari rambut ekor kuda atau bulu-bulu; 
  •  selendang yang digunakan sebagai penyekat antara baju dan celana; 
  •  kacamata hitam; 
  •  kaos kaki selutut berwarna merah atau kuning; dan 
  •  rompi berwarna-warni.
 Sedangkan busana yang dikenakan oleh kelompok pengiring adalah:

  •  baju biasa;  
  • jas; 
  •  sarung; dan 
  •  kopiah.


Peralatan musik yang digunakan untuk mengiringi tari Angguk diantaranya adalah:

  •  kendang;
  •  bedug; 
  •  tambur; 
  •  kencreng; 
  •  rebana 2 buah; 
  •  terbang besar dan 
  •  jedor.


Nilai Budaya
Seni apa pun pada dasarnya mengandung nilai estetika, termasuk seni tari angguk.yang ada di kalangan masyarakat Yogyakarta. Namun demikian, jika dicermati secara seksama kesenian ini hanya bernilai estetis dan berfungsi sebagai hiburan semata. Akan tetapi, justuru yang menjadi rohnya adalah nilai kesyukuran. Dalam konteks ini adalah bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena kemurahannya (memberi hasil panen yang melimpah).

Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1992. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara IV. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Dari Berbagai Sumber Di Internet.

Sabtu, 31 Maret 2012

Situs Powan Di Dusun Powan, Desa Ketanggung, Kecamatan Sine

Situs Powan di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur: Sebuah Hipotesis Mengenai Lokasi Keraton Pawwanawan
Sinopsis
Situs Powan di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur:
Sebuah Hipotesis mengenai Lokai Keraton Pawwanawan,
Kerajaan Daerah Bawahan Majapahit

Oleh: Tri Marhaeni SB

Situs Powan terletak di Dusun Powan, Desa Ketanggung, Kecamatan Sine, Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur. Situs ini merupakan tanah tegalan yang berbatasan dengan hunian penduduk di sebelah utara dan timur, tanah tegalan di sebelah selatan dan Sungai Sawur di sebelah barat.

Berdasarkan cerita rakyat yang berkembang di daerah sekitar situs, diketahui bahwa penduduk setempat percaya bahwa di situs tersebut pernah berdiri sebuah keraton bernana Powan yang sejaman dengan Kerajaan Majapahit. Pengucapan Powan mengingatkan pada Pawwanawan yaitu nama sebuah kerajaan daerah bawahan Majapahit yang disebutkan dalam kakawin Nagarakertagama.

Seluruh situs di sekitar Powan beserta toponim dusun mungkin tidak hanya menujukkan tingginya intensitas pengaruh Hindu, melainkan menunjukan pula adanya masyarakat yang telah mampu mengikuti arus peradaban waktu itu. Masyarakat semacam itu tentu telah hidup dalam suatu tatanan yang teratur di bawah suatu pemerintahan. Kerajaan Mataram Kuna, Kadiri, Singhasari atau Majapahit merupakan pusat kebudayaan atau pemerintahan yang pernah berkembang waktu itu dan paling mungkin kekuasaan atau pengaruhnya menjangkau kawasan Powan.
Keraton Powan, Cagar Budaya, Situs Kuno, Sejarah Hari Jadi Ngawi, Nama-nama Bupati Ngawi, Sejarah arca Banteng, Air Terjun Selondo, Air Terjun Pengantin, Sumber Air Panas Tempuran
Sumber : Balai Arkeologi Palembang

Rabu, 28 Maret 2012

Sedekah Bumi

Sedekah Bumi di sebut juga dengan istilah Perti Bumi, Sedekah Dusun, Bersih Desa atau Metu Desa/Metu Deso. Tradisi Sedekah Bumi merupakan sebuah ritual adat yang biasa di lakukan oleh masyarakat jawa, dan dalam pelaksanaanya tiap dusun memiliki ciri khas-nya masing-masing. Biasanya ciri khas ini tergantung dari kearifan lokal dan mitos yang masih di percaya dan di jaga kelestarianya atau di uri-uri
(jawa). Bila di artikan secara jelas, sedekah bumi berarti menyedakahi bumi atau niat bersedekah untuk kesejahteraan bumi dan apa saja yang tinggal/berada di dalamnya.

Melihat dari semua itu, rupanya sedekah dusun sangat perlu di lakukan dan bermanfaat. Karena bumi pada hakikatnya sebagai tempat hidup dan bertahan hidup bagi semua makhluk yang ada didalamnya, maka sudah selayaknya kita sebagai manusia yang sejatinya adalah khalifah di muka bumi ikut menjaga dan mendo'akan untuk keselamatan dan kesejahteraannya. Bila bumi sejahtera, tanah subur, tentram, tidak ada musibah, maka kehidupan di bumi pun akan terjaga dan manusia pun pada akhirnya yang memetik dan menikmati kesejahteraan itu.

Munculnya tradisi sedekah bumi di pengaruhi oleh beberapa mitos yang berhubungan dengan terjadinya sesuatu/suatu tempat di sebuah desa atau dusun, yang di keramatkan dan menjadi cikal-bakal oleh masyarakat setempat. Karena kultur sosial budaya bernuansa khas jawa yang masih kental dan melekat pada waktu di selenggarakanya acara sedekah bumi, maka tak mengherankan jika keberadaan sedekah bumi telah menempatkanya sebagai bagian dari keragaman budaya yang ada di Indonesia.

Selasa, 13 Maret 2012

Cerita Jaka Budug

Cerita Jaka Budug adalah sebuah kisah mistis yang memuat filosofi kesalah-pahaman. Konteks cerita Jaka Budug melatar belakangi mitos terjadinya beberapa tempat di daerah Ngawi,khususnya di kecamatan Sine dan sekitarnya.


Di kisahkan : Baginda prabu Arya Seta(1) yang bertahta di kerajaan Ringin Anom(1) terkenal adil dan bijaksana dalam memerintah,ia memiliki seorang anak perempuan cantik bernama Rara Kemuning,yang konon tubuhnya sangat harum bagai bunga kemuning. Putri ayu Rara Kemuning sangat gemar bercocok tanam dan menata taman istana ataupun luar istana,sehingga tak mengherankan jika keadaan Kerajaan Ringin Anom yang berada di kaki gunung lawu pada saat itu sangat indah,dan terasa nyaman bagi siapapun yang tinggal di dalamnya. Jalan-jalan tampak teduh,taman istana begitu asri tertata rapi,dengan pemandangan gunung dan bukit(2) yang ada di sekitarnya,sehingga banyak orang memuji kecantikan dan kepandaianya.

***
Pada suatu hari,Putri Ayu Rara Kemuning tiba-tiba terserang penyakit aneh. Tubuh yang biasanya berbau harum,tiba-tiba mengeluarkan bau tidak sedap. Melihat kondisi putrinya,Sang Prabu menjadi sedih,karena khawatir tak ada seorang pemudapun yang mau menikahi putrinya. Baginda berusaha melakukan berbagai hal,mulai memberinya obat-obatan tradisional,dengan minum berbagai ramuan tanaman dan dedauan,namun penyakit sang putri tak juga sembuh,usaha terakhir yang di lakunanya adalah mengundang seluruh tabib yang ada di negeri Ringin Anom pada saat itu,namun tak seorang pun mampu menyembuhkan penyakit aneh yang di derita sang Putri.

Melihat keadaan ini,hati Prabu Arya Seta semakin gundah. Ia sering duduk melamun memikirkan nasib malang yang menimpa putri semata wayangnya. Pada suatu hari,tiba-tiba terlintas dalam pikirannya untuk melakukan semedi dan meminta petunjuk kepada Sang Hyang Widi,agar penyakit langka yang menimpa putrinya dapat disembuhkan.
Pada tengah malam,Sang Prabu dengan tekad kuatnya dan hati yang suci melakukan semedi. Ketika baginda sedang larut dalam semedi,tiba-tiba terdengar bisikan halus yang sangat jelas di telinganya.

“Dengarlah,wahai Arya Seta..!!! Jika engkau ingin putrimu sembuh seperti semula,satu-satunya obat yang dapat menyembuhkanya adalah daun sirna ganda.(3) Daun itu hanya tumbuh di dalam gua di kaki Gunung Arga Dumadi yang dijaga oleh seekor ular naga sakti dan selalu menyemburkan api dari mulutnya,” pesan suara gaib itu.

Setelah mendapat petunjuk dalam semedinya,hati sang prabu tetap saja masih sedih,karena belum menemukan cara,bagaimana mendapatkan daun sirna ganda yang di maksud oleh suara ghaib dalam semedinya. Beberapa punggawa kerajaan dan penasehat istana di kumpulkan untuk bermusyawarah,tentang siapa yang pantas melakukan tugas ini,namun tidak ada yang sanggup melakukan tugas berat yang di utarakan oleh Prabu arya Seta. Akhirnya atas usul Maha Patih Kebo Rejeng,maka di adakanlah sayembara demi kesembuhan Putri Ayu Rara Kemuning dari sakit yang di deritanya.

Keesokan harinya,Prabu Arya Seta segera mengumpulkan seluruh rakyat Ringin Anom di alun-alun untuk mengadakan sayembara yang isinya.

“Wahai,seluruh rakyatku..!!! Kalian semua tentu sudah mengetahui perihal sakitnya putriku. Setelah bersemedi,aku mendapatkan petunjuk bahwa putriku dapat di sembuhkan dengan daun sirna ganda yang tumbuh dalam gua di kaki Gunung Arga Dumadi. Barang siapa yang berhasil mempersembahkan daun itu untuk putriku,jika ia laki-laki akan kunikahkan dengan putriku. Namun,jika ia perempuan,akan kuangkat menjadi anakku,” ujar Sang Prabu di depan rakyatnya.
Mendengar pengumuman itu, seluruh rakyat Kerajaan Ringin Anom menjadi gempar. Berita tentang sayembara itu pun tersebar hingga ke seluruh pelosok negeri. Banyak warga yang tidak berani mengikuti sayembara tersebut,karena mereka semua tahu bahwa gua itu dijaga oleh seekor naga sakti dan sangat ganas. Bahkan, sudah banyak warga yang menjadi korban keganasan naga itu. Meski demikian, banyak pula warga yang memberanikan diri untuk mengikuti sayembara tersebut karena tergiur oleh hadiah yang dijanjikan oleh Sang Prabu. Setiap orang pasti akan senang jika menjadi menantu atau pun anak angkat raja.
Salah seorang pemuda yang ingin sekali mengikuti sayembara tersebut adalah Jaka Budug. Jaka Budug adalah seorang pemuda miskin yang tinggal di sebuah gubuk reyot bersama ibu angkatnya yang sudah menjanda di sebuah desa terpencil di wilayah Kerajaan Ringin Anom. Ia dipanggil “Jaka Budug” karena mempunyai penyakit langka, yaitu seluruh tubuhnya dipenuhi oleh penyakit budug. Penyakit aneh itu sudah di deritanya sejak masih kecil. Meski demikian, Jaka Budug adalah seorang pemuda yang sakti. Ia sangat mahir dan gesit memainkan keris pusaka yang di warisi dari almarhum ayahnya dan di ajarkan oleh guru-gurunya selama dalam perjalanan sebelum tinggal dan sampai di Kerajaan Ringin Anom. Dengan kesaktiannya itu, ia ingin sekali menolong sang Putri. Namun, ia merasa malu dengan keadaan dirinya.

***
Sementara itu, para peserta sayembara telah berkumpul di kaki Gunung Arga Dumadi untuk menguji kesaktian mereka. Sejak hari pertama hingga hari keenam sayembara itu di langsungkan, belum satu pun peserta yang mampu mengalahkan naga sakti itu. Jaka Budug pun semakin gelisah mendengar kabar itu.
Pada hari ketujuh, Jaka Budug dengan tekadnya yang kuat memberanikan diri datang menghadap kepada Sang Prabu. Di hadapan Prabu Arya Seta, ia memohon izin untuk ikut dalam sayembara itu.
“Ampun..,Baginda..!!! Izinkan hamba mengikuti sayembara ini,untuk meringankan beban Sang Putri,” pinta Jaka Budug.
Prabu Arya Seta tertegun tidak menjawab. Ia terdiam sejenak sambil memperhatikan Jaka Budug yang buruk rupa,serta tubuhnya yang di penuhi bintik-bintik putih kemerahan. Hatinya galau,andai pemuda itu berhasil,apakah putri Rara Kemuning bersedia menjadi istrinya.
“Kamu siapa..,hai anak muda..???
Dengan apa kamu bisa mengalahkan naga sakti itu?” tanya Sang Prabu.
“Hamba Jaka Budug, Baginda. Hamba akan mengalahkan naga itu dengan keris pusaka hamba ini,” jawab Jaka Budug seraya menunjukkan keris pusakanya kepada Sang Prabu.
Pada mulanya,Prabu Arya Seta ragu-ragu dengan kemampuan Jaka Budug. Namun,setelah Jaka Budug menunjukkan keris pusakanya dan tekad yang kuat,dan Sang Prabu Arya Seta adalah Raja yang di kenal adil dan bijaksana,tak mungkin ia membeda-bedakan keadaan rakyatnya,akhirnya sang Prabu menyetujuinya dan berkatalah ia :
“Baiklah..,Jaka Budug..!!! Karena engkau rakyatku dan tekadmu yang kuat,maka keinginanmu kuterima. Semoga kamu berhasil!”
Sembah Jaka Budug : "Ampun,Baginda..!!! Hamba mohon kepada Tuanku Sang Raja,sebelum melaksanakantugas, apakah diperkenankan melihat keadaan Sang Putri?"
"Silahkan." Jawab Sang Baginda.
Setelah melihat keadaan Putri Kemuning, Jaka Budug mohon diri untuk melanjutkan tugas mengambil daun Sirna Ganda. Jaka Budug pun berangkat menuju Gua di Gunung Arga Dumadi(4) dengan tekad membara. Ia harus mengalahkan naga itu dan membawa pulang daun sirna ganda. Setelah berjalan cukup jauh, sampailah ia di kaki gunung Arga Dumadi. Dari kejauhan, ia melihat semburan-semburan api yang keluar dari mulut naga sakti penghuni gua. Ia sudah tidak sabar ingin membinasakan naga itu dengan keris pusakanya.

***
Jaka Budug melangkah perlahan mendekati naga itu dengan sangat hati-hati. Begitu ia mendekat, tiba-tiba naga itu menyerang dengan semburan api. Jaka Budug pun segera melompat mundur untuk menghindari serangan itu. Naga itu terus bertubi-tubi menyerang sehingga membuat Jaka Budug kewalahan. Ketika dalam posisi terpojok dan hampir kalah,Jaka Budug berpikir,jika pertarungan berlangsung terus seperti ini lama-kelamaan ia pasti kalah,kemudian ia mundur menjauh sambil berpikir bagaimana cara mengalahkan naga yang sangat sakti ini.

Tiba-tiba,jaka budug berlari meninggalkan pertarungan menuju ke arah bukit dan mengalinya,hingga menembus gua,setelah tembus ke dalam gua dimana naga itu tinggal,yang terlihat oleh jaka budug adalah tubuh dari naga sakti penjaga daun sirna ganda. Ketika naga itu lengah, Jaka Budug segera menghujamkan kerisnya ke perut naga itu. Darah segar pun memancar dari tubuh naga itu,keadaan ini tidak di sia-siakan oleh jaka budug,dan semakin bersemangat ingin membinasakan naga itu. Ketika naga sakti mengerang kesakitan,dengan gesitnya,jaka budug kembali menusukkan keris ke leher naga itu hingga darah memancar dengan derasnya. Tak khayal naga sakti itu pun tewas seketika di tangan jaka budug.
Setelah memetik beberapa lembar daun sirna ganda di dalam gua, Jaka Budug segera pulang ke istana dengan perasaan gembira. Setibanya di istana, Prabu Arya Seta tercengang hampir tidak percaya ,ketika melihat keberhasilan Jaka Budug. Setelah Jaka Budug menceritakan semua peristiwa yang dialaminya di kaki Gunung Arga Dumadi,ketika melawan naga sakti di dalam gua, barulah Sang Prabu percaya dan terkagum-kagum akan kesaktian dan kecerdikan Jaka Budug.
Jaka Budug kemudian mempersembahkan daun sirna ganda yang diperolehnya kepada Sang Prabu. Sungguh ajaib,Putri Kemuning kembali sehat setelah memakan daun sirna ganda itu. Kini,tubuh Sang Putri kembali berbau harum bagaikan bunga kemuning. Prabu Arya Seta pun menetapkan Jaka Budug sebagai pemenang sayembara tersebut. Sesuai dengan janjinya,Sang Prabu segera menikahkan Jaka Budug dengan putrinya,yaitu Putri Ayu Rara Kemuning. Sebelum pesta pernikahan itu di gelar,Prabu Arya Seta memerintahkan pada Patih Kebo Rejeng untuk mempersiapkan segalanya. Mengingat kondisi Jaka Budug yang kulitnya masih penuh luka kudis,maka Prabu Arya Seta memrintah Patih Kebo Rejeng untuk membersihkan tubuh Jaka Budug.

“Kakang Patih,untuk perayaan pesta pernikahan Putriku dan Jaka Budug,tolong persiapkan segalanya,dan sebelum pernikahan itu di laksanakan,tolong tubuh Jaka Budug di bilasi (bersihkan)(5)

Patih Kebo Rejeng langsung melaksanakan apa yang di perintahkan Prabu Arya Seta,namun ada sebuah kesalah-pahaman akibatkan pendengaran patih Kebo Rejeng yang sudah mulai berkurang karena faktor usia,sehingga ketika di perintah untuk membersihkan (mbilasi) Jaka Budug yang di dengarnya justru agar Tubuh Jaka Budug di telasi (dihabisi) (6). Patih Kebo Rejeng-pun tanpa ragu melaksanakan perintah baginda dengan membunuh Jaka Budug,Patih Kebo Rejeng sadar akan kesaktian Jaka Budug sehingga tidak mungkin bila ia melawanya,maka di carilah berbagai cara untuk membunuh Jaka Budug,ketika Jaka Budug terlena maka keris Patih Kebo Rejeng di hujamkanya ke tubuh Jaka Budug dari belakang. Alhasil,Jaka Budug terkejut melihat apa yang di lakukan Patih Kebo Rejeng,dan tak lama kemudian terkapar bersimbah darah,sebelum tiba ajalnya Jaka Budug sempat berkata bahwa

“Meskipun Aku mati,namun sesuai janji Prabu Arya Seta akan pernikahanku dengan Rara Kemuning,dan karena pernikan itu belum terlakasana,maka Aku hanya mau di kuburkan setelah bersanding dengan Putri Ayu Rara Kemuning.”

Setelah kematian Jaka Budug,serentak isi isatana menjadi gempar,sebelum kabar kematian Jaka Budug tersebar ke seluruh rakyat ringin anom,dengan tergesa-gesa tubuh Jaka Budug segera di makamkan. Keajaiban terjadi,ketika menggali kubur sesuai dengan ukuran tubuh Jaka Budug,namun saat di masukan ke liang lahat tak pernah muat,bahkan sampai di panjangkan beberapa kali tetap saja tidak muat,begitu terus hingga jasad Jaka Budug tidak bisa di makamkan di tempat tersebut(7).

***
Nasi telah menjadi bubur,seluruh istana menjadi bingung dan bersedih,satu-satunya jalan agar jasad Jaka Budug bisa di kuburkan,maka harus di nikahkan terlebih dahulu,dan Putri Ayu Rara Kemuningpun tidak mungkin bila harus menikah dengan Jaka Budug yang sudah menjadi jasad,maka ia berlari meninggalkan istana sambil menangis sejadinya di sbuah gunung (8). Patih Kebo Rejeng yang di perintah untuk membawa pulang Rara Kemuning,memburunya hingga di sebuah gunung,karena terlalu cepatnya Rara Kemuning berlari hingga membuat Patih Kebo Rejeng terpisah darinya dan kehilangan jejak(9).

Selama mengikuti Rara Kemuning Patih Kebo Rejeng hingga kehabisan bekal dan akhirnya kehausan di tengah perjalanan,karena sudah tidak tahan lahi akan rasa hausnya Patih Kebo Rejeng berusaha mengais-ngais tanah untuk mencari air,dan keajaiban terjadi,tanah itu tiba-tiba mengeluarkan mata air (10),kemudian tanpa ragu ia pun langsung meminum air yang baru saja keluar dari dalam tanah itu.

Sementara Rara Kemuning yang tahu sedang di ikuti terus berlari sampai payung yang di bawanya tertinggal di sebuah gunung (11). Karena di buru terus dalam beberapa hari,Putri Ayu Rara Kemuning kelelahan hingga jatuh sakit dan akhirnya meninggal dalam pelarianya.

Patih Kebo Rejeng membawa pulang jasad Rara Kemuning,setelah tiba di istana maka tubuhnya di makamkan bersanding dengan jasad Jaka Budug. Kini jasad Jaka Budugpun dapat dengan mudah di makamkan setelah bersanding dengan Putri Ayu Rara Kemuning di sebuah gunung. Selang berapa lama,setelah jasad Jaka Budug dan Putri Ayu Rara Kemuning di makamkan di gunung liliran (12), Prabu Arya Seta meninggal dunia.

Karena kerajaan Ringin Anom tidak memiliki putra mahkota yang meneruskan dan memegang pemerintahan maka lambat-laun kerajaan itu runtuh dan menghilang tanpa bekas.

____________________________________________________________
____________________________________________________________

Keterangan :

(1). Prabu Arya Seta,Kerajaan Ringin Anom : Prabu Arya Seta,oleh penduduk setempat lebih di kenal dengan nama Ratu Poan,begitu juga dengan kerajaan dimana ia memerintah juga di kenal dengan nama keraton Poan,di sebut demikian karena Keraton Poan berada di daerah Poan (tapatnya dusun Poan,kelurahan Tulakan,kecamatan Sine)


(2). Gunung Dan Bukit : Tempat kerajaan ringin anom berada di daerah lereng gunung lawu dan perbukitan gunung-gunung kecil,seperti gunung warak,gunung bedah dan yang lainya.


(3). Daun Sirna Ganda : Daun Sirna Ganda yang di maksud adalah sebuah daun yang menyerupai daun pisang dan oleh masyrakat sekitar di sebut dengan istilah Daun Gedang (Pisang) Pupus Cinde.


(4). Gua di Gunung Arga Dumadi : Gua ini adalah sebuah gua yang sekarang oleh masyarakat sekitar di gunakan sebagai media irigasi/sebagai saluran air,dan di daerah setempat di kenal dengan nama dung urung-urung.


(5). bilasi (bersihkan) : Membersihkan ulang dalam proses terakhir ketika mencuci. Dan yang di maksud Baginda Raja adalah membersihkan tubuh Jaka Budug yang berlumuran darah naga dan agar penyakit budugnya tampak lebih bersih.


(6). Telasi (Habisi) : Habisi yang di maksud adalah menghabisi nyawa Jaka Budug karena kesalah-pahaman akibat pendengaran Patih Kebo Rejeng sudah mulai berkurang.


(7). Tempat tersebut : Bekas galian yang tidak bisa di gunakan untuk memakamkan jasad Jaka Budug itu panjangnya sekitar 12 meter dan terletak di sebelah barat lapangan bola dusun Gamping. Tempat itu masih terawat hingga sekarang.


(8). Menangis sejadinya di sbuah gunung : Tempat ini merupakan sebuah bukit kecil yang sekarang di kenal dengan nama gunung tangis.


(9). Terpisahdarinya dan kehilangan jejak : Tempat ini sekarang di sebut dengan nama gunung pegat.


(10). Mata air : Mata air itu masih bisa di jumpai dan masih berfungsi hingga sekarang. Oleh masyarakat sekitar di kenal dengan nama Sumber Ngrejeng dan di gunakan untuk kebutuhan mandi dan mencuci setiap hari.


(11). Gunung :Gunung tempat tertinggalnya payung Rara Kemuning itu sekarang bernama Gunung Payung.


(12). Gunung liliran : Gunung dimana jasad Jaka Budug dan Rara Kemuning di makamkan,hingga sekarang tempat itu masih sering di kunjungi banyak orang pada hari-hari tertentu,untuk melakukan ritual dengan maksud dan tujuan berbeda.

Di ambil dari berbagai sumber di internet dan cerita yang di yakini kebenaranya oleh masyarakat.

Selasa, 28 Februari 2012

Wayang Suket

Wayang suket merupakan bentuk tiruan dari berbagai figur wayang kulit yang terbuat dari rumput (bahasa Jawa: suket). Wayang suket biasanya dibuat sebagai alat permainan atau penyampaian cerita perwayangan pada anak-anak di desa-desa Jawa.

Untuk membuatnya, beberapa helai daun rerumputan dijalin lalu dirangkai (dengan melipat) membentuk figur serupa wayang kulit. Karena bahannya, wayang suket biasanya tidak bertahan lama.
Seniman asal Tegal, Slamet Gundono, dikenal sebagai tokoh yang berusaha mengangkat wayang suket pada tingkat pertunjukan panggung.



Wayang suket menjadi saksi sejarah seni rakyat di negeri ini. Penampilannya yang mengusung budaya agraris, tegar iringi jaman yang kian beringsut dari akar tradisinya.
Ceria suara anak-anak kecil menyeruak nusantara. Senada dengan itu, suara pesinden yang melantunkan gending campursari dengan iringan gamelan. Semua mengalun seirama, dan mata para penonton pun menatap tajam ke arah panggung.

Untuk sebuah tampilan pertunjukan wayang suket, yang kini beranjak dari seni rupa beralih ke seni pertunjukan, terdiri atas 10 pengrawit, satu sinden, gamelan slendro lengkap dengan lakon Wahyu Senopati. Semua mengawal makna di balik artistik kesenian wayang bergaya Jawa Timuran itu.
Menurut asalnya wayang suket berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Jawa Timur sendiri wayang suket tumbuh dan berkembang di daerah mataraman, seperti Bojonegoro, Tulungagung, Kediri, dan Blitar.

Lakon Wahyu Senapati berkisah seputar peristiwa Gatutkaca yang diwisuda menjadi senopati di Ngamarto. Tapi Antarejo sebagai saudara tuanya tidak terima, karena merasa juga punya hak sebagai putra Ngamarto dan memiliki kesaktian yang sama. Ternyata, Sengkuni berada di baliknya karena menginginkan keluarga Pandawa terpecah.
Ketika menghasut itu, tubuh Antarejo disusupi Nini Permoni alias Dewi Durga, disamping dukungan pihak Kurawa. Gatutkaca pun berperang dengan Antareja, namun akhirnya dipisah oleh Kresno. Kresno akhirnya tahu, bahwa ini bukan kemauan Antarejo sendiri.

Menurutnya, yang sanggup mengatasi hal ini hanya Semar. Kemudian Semar dipanggil, dan Nini Permoni dipaksa keluar oleh Semar. Nini dinasehati, jangan menggangu momongan (asuhan) Semar. Tapi Nini berkilah, memang sudah tugasnya menggoda manusia. Salah sendiri kalau ada yang tidak kuat. Beruntung Pandawa memiliki Semar sebagai bentengnya. Akhir cerita Gatutkaca sudah dipilih oleh rakyat, jadi kalau Antarejo ingin berbakti pada negara, masih ada jalan lain, tidak harus menjadi Senopati.


Di atas panggung nampak seorang lelaki sedang mempersiapkan benda berupa wayang terbuat dari suket (rumput). Dia adalah M. Thalib Prasodjo, 77 tahun, salah seorang seniman pencipta wayang suket beserta kreasinya. Dirinya sedang melakukan sebuah pertunjukan wayang suket, yang biasa digelar di sanggarnya.
Kendati pertunjukan wayang suket selama ini sudah diklaim oleh Slamet Gundono, wayang karya Thalib sangat berbeda. Dia tidak sekadar memanfaatkan bahan-bahan rumput untuk sosok yang menyerupai wayang. Namun betul-betul membuat wayang dari bahan rerumputan. Dengan melihat sosoknya saja, para penggemar wayang pasti tahu nama tokoh yang dimaksudkannya.
Selain itu, pertunjukan wayangnya, juga bukan asal pertunjukan biasa. Thalib dengan sengaja meminta sang dalang untuk memainkan karya wayangnya secara klasik. Artinya, betul-betul diperlakukan sebagaimana wayang kulit biasanya, bukan wayang-wayangan. Lakonnya pun dipilih lakon serius. Inilah yang membedakan dengan lakon wayang milik Slamet Gundono.
Menurut pria yang akrab disapa Eyang Thalib itu, kebiasan dirinya menggelar pertunjukan wayang suket di sanggar dan beberapa tempat lainnya, memang ditujukan bagi anak-anak kecil dan remaja. “Wayang ini menggambarkan budaya agraris yang dibawa anak-anak desa masa lampau yang tidak pernah kehabisan akal, meski di tengah himpitan materi mereka terus berkreasi,” ujar pria asal Bojonegoro ini.


Berbahan Rumput
Wayang suket begitulah orang menyebut kesenian tradisional yang ada sejak masa lampau ini. Kata suket sengaja diberikan karena wayang ini terbuat dari rerumputan.

Jadi, beragam wayang di Jawa Timur memang kian berkembang seiring bergulirnya jaman. Ada wayang tengul yang terbuat dari kayu patung, ada wayang kulit, ada wayang kerteh yang menyerupai topeng manusia, ada wayang timplong, ada wayang potehi, ada wayang purwo, dan adapula wayang suket.
Kesemua pewayangan itu terbuat dari bahan dasar yang berbeda-beda. Sedangkan bahan utama dalam menghasilkan sebuah mahakarya wayang suket adalah berbahan rumput. Seperti rumput jerami, rumput jarum, atau juga rumput teki.

Biasanya para pengrajin wayang suket sengaja berburu bahan rumput hingga ke pelosok-pelosok pedesaan yang ada di Jawa Timur. Salah satunya Eyang Thalib. “Dalam membuat wayang daerah mataraman Jawa Timur ini saya selalu mencari rumput di daerah asal saya di Bojonegoro, Karena di sana masih banyak dijumpai pedesaan,” kata pemilik sanggar Akar Rumput Sidoarjo itu.

Mengenai alasan penggunaan bahan dasar rumput demi menghasilkan sebuah wayang suket. Eyang Thalib mengatakan, latar belakang di balik pertunjukan dan penciptaan wayang suket adalah upaya pelestarian budaya agraris atau pertanian.
Setelah bahan terkumpul, tinggal kreatifitas untuk menggambarkan tokoh pewayangan dalam proses penciptaan sebuah wayang suket. Ada yang berkarakter Butho Cakil, Ramayana, Gatutkaca, Semar, Mahabarata, Abimanyu, dan masih banyak tokoh-tokoh pewayangan lainnya.


Sunyi Anak Desa
Dalam pertunjukannya, wayang suket mengusung cerita wayang purwa. Cerita wayang jenis ini dibatasi banyak pakem. Misalnya, untuk cerita, mau tak mau harus berangkat dari epos Ramayana atau Mahabarata. Kadang, menampilkan lakon-lakon terpisah macam Wahyu Senopati.

Ramayana merupakan putra tunggal Prabu Dasarata, raja negara Ayodya. Ia adalah titisan Dewa Wisnu yang bertugas menciptakan kesejahteraan dunia. Rama menikah dengan Dewi Sinta, titisan Bathari Sri Widowati, putri Prabu Janaka raja negara Mantili.
Rama berkedudukan sebagai putra mahkota Ayodya. Tapi ia gagal naik tahta karena Prabu Dasarata terpaksa memenuhi tuntutan Dewi Kekayi yang menghendaki Barata sebagai raja Ayodya. Rama bahkan harus meningggalkan Ayodya, menjalani pengasingan selama 13 tahun.

Berbagai dharma satria telah dilaksanakan oleh Ramayana. Ia telah mengalahkan dan menyadarkan Ramaparasu yang salah menjalankan dharmanya. Rama juga membunuh Resi Subali, putra Resi Gotamadari dari pertapaan Grastina atau Daksinapata karena bersikap angkara murka. Terakhir, Rama berhasil, membunuh Prabu Dasamuka, raja negara Alengka, yang bukan saja menculik Dewi Sinta, tetapi juga telah berbuat angkara murka dan menimbulkan berbagai kesengsaraan umat Ancapada.
Setelah berakhirnya perang Alengka dan 13 tahun hidup dalam pengasingan, Rama kembali ke negara

Ayodya. Ia naik tahta negara Ayodya, menggantikan Prabu Barata yang mengundurkan diri.
Itulah lakon Ramayana, secuil gambaran tentang penampilan dari pertunjukan wayang suket. Selebihnya wayang suket dalam setiap pertunjukan identik melakonkan cerita dari anak-anak pedesaan.
Karena itu setiap awal pagelarannya suara gamelan diiringi nyanyian-nyanyian anak kecil khas pedesaan. Bahkan terkadang mulai awal hingga bubaran, wayang suket menggambarkan sebuah semangat anak desa, yang terus berkarya di tengah segala keterbatasan.
Namun, wayang suket terkadang tidak menutup diri untuk melakonkan cerita-cerita lainnya. Suket berdiri untuk apapun, yang penting tetap mengusung kelestarian budaya agraris budaya nusantara.
Naskah : m.ridlo’i |foto : wt atmojo



Sumber :

  • http://www.eastjavatraveler.com
  • http://id.wikipedia.org

Ki Ledjar Subroto Pencipta Wayang Kancil

YOGYAKARTA – Akhir-akhir ini situasi batin Ki Ledjar Subroto begitu galau. Meski saat berkumpul dengan para seniman di Yogyakarta tingkah lakunya tetap menunjukkan kekonyolan lewat banyolan-banyolannya, intensitasnya sangat berkurang.


Raut wajah pencipta wayang Kancil ini tak jarang tampak serius. “Ini persoalan tanggung jawab moral, harga diri. Apa kata teman-teman seniman terhadap saya ketika mereka tahu dari pemberitaan jika Wayang Kancil itu diklaim bukan ciptaan saya? Padahal, jelas ciptaan saya,” ujar Ki Ledjar (70). Kegalauan Ki Ledjar ini muncul beberapa hari setelah dirinya dan Kartika Affandi mendapat Lifetime Achievement Award dari panitia Biennale Jogja X-2009.

Kala itu, cucunya, Ananto Wicaksono, membawa katalog wayang Indonesia yang berjudul The Development of Wayang Indonesia as a Humanistic Cultural Heritage. Cucunya yang tengah kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogya itu menjelaskan, dalam katalog tersebut termuat Wayang Kancil. Hanya saja, pembuatnya bukanlah Ki Ledjar Subroto. “Lha ini bagaimana? Kalau begini ini kan saya bisa dibilang penipu? Padahal, Wayang Kancil itu benar-benar ciptaan saya,” ungkap Ki Ledjar dengan gusar.

Dia menjelaskan, pada katalog yang digunakan untuk keperluan pameran Wayang Indonesia tanggal 19-30 April 2004 itu, Wayang Kancil dikatakan sebagai wayang ciptaan Bo-Liem, seorang China, di tahun 1925. Wayang itu dibuat oleh Lie Too Hien. “Anehnya, yang dipasang itu adalah Wayang Kancil buatan saya dengan menghapus catatan kaki yang merupakan inisial saya,” tuturnya.

Tak hanya itu yang memojokkan Ki Ledjar dalam katalog tersebut. Wayang VOC yang juga merupakan ciptaannya, diganti dengan nama Wayang Duporo. Lagi-lagi inisial namanya yang terdapat di sambungan kaki atau palemahan dihilangkan. Sementara itu, tertulis pembuatnya adalah Raden Mas Danuatmadja tahun 1830-1858.

Selain Wayang Kancil, juga muncul Wayang VOC yang juga dibuat Ki Ledjar pada tahun 1980-an. Sebutan Wayang VOC diganti dengan Wayang Duporo dan tiga nama wayang yang muncul adalah Sultan Agung, Patih Danureja dan Pangeran Diponegoro. Di sambungan kaki atau palemahan-nya yang tertulis inisial Ki Ledjar sengaja dipotong, dan pembuatnya adalah Raden Mas Danuatmadja tahun 1830-1858.

Betapa gusarnya Ki Ledjar ini mengingat tokoh-tokoh yang ditampilkan dalam Wayang Duporo (Sultan Agung, Patih Danureja dan Pangeran Diponegoro) dijadikan satu atau hidup dalam satu zaman. Padahal, mereka hidup dalam zaman yang berbeda dan tak akan bisa bertemu dalam satu layar.

Pun, gambaran tentang Pangeran Diponegoro salah. “Mana ada Pangeran Diponegoro berjambang? Apa kata keluarga Pangeran Diponegoro?” ujar Ki Ledjar. Ia juga tak habis pikir ketika melihat katalog yang dibuat Senawangi (Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia), pada halaman 29. Di halaman itu dimuat Wayang Wahyu dengan tokoh-tokoh seperti Judas, Petrus dan Matheus dengan mencantumkan penciptanya adalah Temotheus Mardji Subrata pada tahun 1960. Lagi-lagi, wayangnya diakukan milik Temotheus.

Atas dasar itulah Ki Ledjar akan mencoba menemui Senawangi untuk meluruskan. “Saya akan memikirkan langkah-langkah yang harus saya lakukan untuk meluruskan kesalahan ini. Bila perlu, mungkin saya akan menempuh jalur hukum,” tuturnya seraya menambahkan dirinya telah mempersiapkan arsip-arsip berupa sketsa buatannya untuk membuktikan kebenaran.

Untuk meringankan beban batinnya itu, Ki Ledjar membuat sebuah perhelatan di Bentara Budaya Yogyakarta pada akhir Maret lalu. Ia merasa perlu membuat pernyataan terbuka terkait dengan Wayang Kancil. “Saya perlu menjelaskan pada publik soal ini agar semuanya tahu duduk perkaranya,” lanjutnya. Nama Ki Ledjar memang boleh jadi tak begitu menonjol di dunia kesenian dalam negeri.
OLEH: YUYUK SUGARMAN

Definisi Pengertian Wayang

Wayang merupakan bentuk konsep berkesenian  yang kaya akan cerita falsafah hidup sehingga masih bertahan di kalangan masyarakat jawa hinggga kini.
Disaat pindahnya Keraton Kasunanan dari Kartasura ke Desa Solo (sekarang Surakarta) membawa perkembangan juga dalam seni pewayangan.
Seni pewayangan yang awalnya merupakan seni pakeliran dengan tokoh utamanya Ki Dalang yang berceritera, adalah suatu bentuk seni gabungan antara unsur seni tatah sungging (seni rupa) dengan menampilkan tokoh wayangnya yang diiringi dengan gending/irama gamelan, diwarnai dialog (antawacana), menyajikan lakon dan pitutur/petunjuk hidup manusia dalam falsafah.

Seni pewayangan tersebut digelar dalam bentuk yang dinamakan Wayang Kulit Purwa, dilatar-belakangi layar/kelir dengan pokok cerita yang sumbernya dari kitab Mahabharata dan Ramayana, berasal dari India. Namun ada juga pagelaran wayang kulit purwa dengan lakon cerita yang di petik dari ajaran Budha, seperti cerita yang berkaitan dengan upacara ruwatan (pensucian diri manusia). Pagelaran wayang kulit purwa biasanya memakan waktu semalam suntuk.

Orang jawa mempunyai jenis kesenian tradisional yang bisa hidup dan berkembang hingga kini dan mampu menyentuh hati sanubari dan menggetarkan jiwa, yaitu seni pewayangan. Selain sebagai alat komunikasi yang ampuh serta sarana memahami kehidupan, wayang bagi orang jawa merupakan simbolisme pandangan-pandangan hidup orang jawa mengenai hal-hal kehidupan yang tertuang dalam dilaog dialur cerita yang ditampilkan.

Dalam wayang seolah-olah orang jawa tidak hanya berhadapan dengan teori-teori umum tentang manusia, melainkan model-model hidup dan kelakuan manusia digambarkan secara konkrit. Pada hakekatnya seni pewayangan mengandung konsepsi yang dapat dipakai sebagai pedoman sikap dan perbuatan dari kelompok sosial tetentu.

Konsepsi-konsepsi tersebut tersusun menjadi nilai nilai budaya yang tersirat dan tergambar dalam alur cerita-ceritanya, baik dalam sikap pandangan terhadap hakekat hidup, asal dan tujuan hidup, hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan lingkungannya serta hubungan manusia  dengan manusia lain.

Pertunjukkan wayang terutama wayang kulit sering dikaitkan dengan upacara adat: perkawinan, selamatan kelahiran bayi, pindahan rumah, sunatan, dll, dan biasanya disajikan dalam cerita-cerita yang memaknai hajatan dimaksud, misalnya dalam hajatan perkawinan cerita yang diambil "Parto Krama" (perkawinan Arjuna), hajatan kelahiran ditampilkan cerita Abimanyu lahir, pembersihan desa mengambil cerita "Murwa Kala/Ruwatan" 

Senin, 27 Februari 2012

Dalang Jliteng Suparman

Dalang Ki Jlitheng Suparman bisa dibilang dalang nyentrik dan unik. Sejak tahun 2000,Jlitheng mengusung apa yang disebutnya Wayang Kampung Sebelah (WKS) untuk menyampaikan berbagai kritikan sosial. Jlitheng sendiri memang memiliki darah dalang dari kakeknya yang tinggal Wonogiri.
Saat kelas IV SD,Jlitheng kecil yang tinggal di Kampung Gremet,Manahan,Solo pindah ke Ngadirojo,serumah dengan kakeknya,Ki Guno Sudarjo. Melihat aktivitas kakek dan pamannya yang juga seorang dalang dan sering diajak pentas,ia mulai belajar dan tertarik menjadi dalang.

Sistem belajar yang ia dalami bukan formal dengan mendapat arahan setiap waktu. Jlitheng belajar sendiri dari pengamatan,berlatih sendiri dengan sesekali mendapat arahan dari kakek atau sistem nyantrik. Saat menggembala ternak pun ia sempatkan untuk mendalang dengan disaksikan teman-temannya di ladang memakai media dedaunan sebagai wayangnya. Sejak saat itu,kemampuannya mulai terlihat dan mendapat perhatian dari kakek dan pamannya. Awal jadi dalang yaitu saat ikut pentas kakek dan paman. Dalam pentas itu ia jadi dalang untuk pembukaan,istilahnya mucuki (jawa),memperagakan satu fragmen sekitar setengah jam hingga satu jam.

Pengalaman manis tersebut membuat dirinya makin bersemangat menjadi dalang. Meski masih kecil,ia mendapat kepercayaan menjadi pembuka pementasan wayang. Tepuk tangan penonton,pujian yang datang,membuatnya bangga dan bersemangat.
Sejak Kelas II SMP,Jlitheng remaja kembali ke kampung kelahirannya di Solo. Meski pindah kota,pamannya yang dalang sekaligus buruh bangunan di Solo tersebut sering mengajaknya ke Wonogiri untuk pementasan. Karena belajar pertama di Wonogiri,banyak yang mengira bahwa Jliteng adalah orang Wonogiri,padahal ia asli lahir di Solo. Hingga kuliah,Jlitheng lebih banyak mendapat tawaran pentas di Kota Gaplek.

Pada 1960-an hingga 1970-an, dalang bukan profesi utama. Dalang umumnya memiliki penghasilan utama dari pertanian atau buruh. Seperti kakeknya yang seorang petani dan pamannya buruh. Sehingga saat itu belum terdengar kabar ada dalang yang ngetop dan kaya raya. Pada waktu itu pembayarannya,memakai sistem kompensasional,yaitu dibayar selain dengan uang,juga dengan bahan makanan,sajian saat pentas atau peralatan rumah tangga.

Waktu kecil ia tidak berpikir soal profesi dalang dari aspek ekonomi,bayarannya berapa. Tapi aspek kesenangan dan kepuasan. Maka ndalang tetap berlanjut hingga sekarang.
Perjalanan pendidikan pedalangan makin matang setelah ia mendapatkan pendidikan di SMKI Solo atau yang kini disebut SMKN 8 Jurusan Pedalangan. Setelah lulus,ia masuk Fakultas Sastra Jurusan Sastra Jawa UNS. Beberapa prestasi awal kariernya yaitu saat kelas 1 SMP meraih juara II lomba dalang se-Wonogiri. Saat kuliah,ia masuk 10 besar dalang unggulan dalam Festival 50 Dalang di Solo.

Sumber Lain : SOLOPOS

Wayang Kampung Sebelah

Wayang Kampung sebelah adalah sebuah karya seni pertunjukan yang di kembangkan oleh Dalang Ki Jlitheng Suparman. Sejak tahun 2000,Ki Jlitheng mengusung apa yang disebutnya Wayang Kampung Sebelah (WKS) untuk menyampaikan berbagai kritikan sosial. Wayang yang terbuat dari kulit bergambar manusia ini berbeda dengan wayang purwa yang tokoh-tokohnya berasal dari kisah
Ramayana dan Mahabarata,tokoh-tokoh di dalam Wayang Kampung Sebelah ( WKS) ini seperti halnya masyarakat kampung yang plural,terdiri dari penarik becak,bakul jamu,preman,pelacur,pak RT,pak lurah,hingga pejabat negara. Nama-nama Karakter di WKS di antaranya Kampret,Karyo,Lurah Somad,Eyang Sidik Wacono,Hansip Sodron,Silvy dan tokoh penghibur lain seperti Roma Ra Mari-Mari,Inul Darah Tinggi,Cak Dul dan lainya.

Fungsi dan Kegunaan Wayang Kampung sebelah dalah sebagai media hiburan dan di gunakan sebagai media perlawanan terhadap perilaku seni yang menghamba pada kepentingan politik praktis. Beberapa lakon yang sering dipentaskan adalah Menjual Mimpi dan Atas Mengganas,Bawah Beringas atau Who Wants to be a Lurah. Menurut Ki Jliteng (Sang Dhalang) “WKS selalu menyerukan anti kekerasan,seperti halnya lakon Atas Mengganas,Bawah Beringas,yang mengisahkan bahwa kekerasan bukanlah sebuah solusi”. Memandang adanya kasus kekerasan di masyarakat,tak serta-merta mutlak kesalahan pelaku. Perlu di perhatikan pula penyebab dari tindak kekerasan itu sendiri,seperti sikap pembiaran penyelenggara negara terhadap pelaku kekerasan.

Kekerasan dan arogansi yang menyebar di mana-mana,menurut Jlitheng,karena ada peluang,sedangkan yang memberi peluang adalah penyelenggara negara. “Negara,dalam hal ini penyelenggara tidak tegas,tidak lagi berlandas Pancasila,tidak hadir untuk melindungi warga dan kebebasan berpendapat,sedangkan obat mujarabnya ya mereka kembali ke Pancasila.”

Hal itu tergambarkan dalam salah satu adegan karakter di Wayang Kampung Sebelah,Karyo, mengeluh tentang kemiskinan yang ia alami karena negara sudah tidak benar,salah dan kacau. Kemudian keponakannya yang bernama Kampret,meluruskan pendapat itu. Menurut Kampret,Indonesia tidak pernah salah,yang salah adalah pemegang Indonesia. Dari presiden hingga lurah,sebagai penyelenggara negara. “Yang salah orang yang tidak mampu mengawal Pancasila. Kalau pemerintah memperhatikan Pancasila,wong melarat di perhatikan. Tapi karena tidak memperhatikan Pancasila,ya kita tidak diperhatikan.”

Penyadaran tentang kesalahan rekonstruksi Pancasila yang saat ini berlangsung juga di selipkan dalam pertunjukan Wayang Kampung Sebelah. Menurut Jlitheng,negara karut-marut karena sejak Orde Baru hingga reformasi,rekonstruksi Pancasila yang di bangun sudah keliru. “Dasar negara itu bukan kaidah moral individual tapi negara,kaidah negara bagi kebijakan etik dalam memproduksi undang-undang,” katanya. Negara,dalam hal ini pemerintah,harus menjalankan nilai-nilai Pancasila,bukanya rakyat yang menjalankanya. “Maka keliru,mengapa dulu ada P4,kini yang ada empat pilar bangsa tapi yang di sosialisasi ke masyarakat,mestinya pejabat.”

Yang menarik dari pertunjukan wayang kampung sebelah adalah kepandaian Dhalang Ki Jliteng Suparman mengolah kata dalam tiap lakon yang di mainkan hingga mampu menciptakan sebuah atmosfir baru di lingkungan pertunjukan. Tiap tokoh mampu berinteraksi dengan penonton adalah kelebihan tersendiri bagi WKS sehingga membuat pertunjukan tidak terlihat berkesan monoton.
Ketika tokoh-tokoh penghibur di tampilkan,penonton pasti di buat terkagum-kagum,adanya kolaborasi perkusi dengan salah satu sebuah sanggar seni solo,mampu memikat masyarakat dengsn setuhan gaya seni modern dan plesetan-plesetan dalam tiap lagu mengundang tawa.
Hebatnya lagi,misalnya penampilan Cak Dul saat menyanyikan lagu magadir dengan goyang pinggulnya yang bikin siapaun pasti berdecak kagum waktu melihat bentuk wayang. Keunikan bentuk tokoh merupakan nilai plus untuk wayang kampung sebelah.

Perkembangan Wayang Kampung Sebelah,dengan program pentas yang digelar sejak tahun 2009,WKS menghibur dan memberi pendidikan politik dan budaya ke pelosok kampung di Solo dan kabupaten di sekitarnya. Meski belum banyak di kenal masyarakat luas,namun dengan adanya program serangan pentas lambat-laun WKS memiliki tempat di hati sebagian rakyat,terutama bagi pecinta seni. Terbukti ketika WKS tampil di salah satu stasiun televisi,banyak penonton yang menyaksikan dan melontarkan pendapatnya masing-masing.

Wayang Kampung Sebelah,memiliki karakter unik untuk menyampaikan sebuah gagasan baru dengan caranya sendiri,dan bisa di katakan sebagai sebuah evolusi dalam sejarah perkembangan seni pertunjukan.
Sebagi manusia biasa yang baru belajar menulis,saya (Bocah Mbelis) hanya bisa berdoa : “Semoga karya-karya besar seperti ini tetap mampu bertahan dan berkembang di antara tekanan gejolak politik dan perubahan jaman.”

Sumber Lain : SOLOPOS

Minggu, 26 Februari 2012

Dhalang Poer

Namanya Dalang Poer.  Entahlah.., saya tidak tahu siapa nama lengkapnya. .???
Apakah itu Poerwanto, Poernomo, Poerwadi, atau Poer yang lainya juga kurang jelas.  Gelar Dhalang  didepan namanyapun saya juga tidak bisa menjelaskan apakah memang dia seorang dhalang, atau profesi lain yang seirama dengan dalang,atau sekedar  “paraban” karena kepintarannya mengolah gendhing dan musik serta mbabar lelakon dalam cakepan-cakepan gending jawa sayapun juga tidak tahu.

Entah kenapa saya seringkali tertarik dengan karya seniman yang satu ini.  Padahal, dengan pengetahuan music standard saja kita bisa tahu bahwa tidak ada yang istimewa dalam karya musiknya. (Ma’af Kang Dhalang Poer : ini tidak bermaksud mencela loh).
Mungkin kekuatan Kang Poer adalah pada kemampuannya mengartikulasi sebuah lakon dalam syair lagu dengan cara yang ringan dan sederhana itulah yang membuat Beliau terlihat istimewa (dalam padangan saya pribadi).  Bahkan lebih mendekati “guyon parikena”.  Oleh karenanya saya berusaha untuk bisa mengenal lebih dekat dengan sosok eksentrik ini.
Tak gampang tentunya mengenal sosok yang satu ini apalgi memasukkan nama saya dalam next list temannya.  Hal ini bukan karena beliau yang tertutup tetapi lebih karena minimnya refrensi saya tentang beliau ditunjang lemahnya pengetahuan saya tentang music dan ilmu-ilmu social. 

Hingga akhirnya saya tahu bahwa beliau memiliki account di facebook.  Persetan dia menjawab sendiri atau diwakili asistennya,saya add saja untuk masuk dalam list fiend saya.  Dan akhirnya dengan bangga saya katakana pada anda,bahwa seniman nyentrik ini adalah teman saya.Pertemuan saya dengan Dhalang Poer pertama kali di lantai dua Dishub pada waktu BPC-Bentang Pendhem Club (Komunitas Blogger Ngawi)  mengadakan seminar. Yang kedua di LSI-Langgar Sawo Ijo (Tempat/Rumahnya Mas atonk),Yang ketiga di Bahana-FM waktu Dhalang Poer melakukan pagelaran wayang techno dalam rangka refleksi kepahlawanan.

Meski beberapa kali sempat bertemu,saya maklum dan sadar kalau bocah mbelis hanyalah manusia biasa dan tetunya andai bertemu Dhalang Poer lagipun dia pasti lupa lagi dan lupa lagi.
Begitulah cerita saya kali ini tentang Dhalang Poer yang tidak pernah saya tau sebenarnya Beliau ini siapa.
Salam..!!!

Note : 
  • Gambar 1 - Foto Profil Dhalang Poer Di Face Book
  • Gambar 2 - Dhalang Poer bersama Pak Abid
  • Ilustrasi Musik : Langit Mendung Kutha Ngawi Oleh Dhalang Poer



Sabtu, 25 Februari 2012

Kontroversi Wayang Techno

Wayang techno adalah sebuah seni pertunjukan wayang kulit kontemporer yang berasal dari daerah ngawi. Seni pertunjukan wayang kulit kontempoer ini di ciptakan oleh seorang seniman dan sastrawan ngawi yang karya-karyanya sudah sangat terkenal bahkan banyak yang di jiplak oleh seniman lain terutama di bidang lagu ataupun langgam campursari gending-gending jawa.
Pagelaran wayang techno pertama kali di pertunjukan ke masyarakat oleh Dhalang Poer
dan yang berperan sebagai dhalang dalam pertunjukan wayang teckhno itu adalah Ki Dhalang Poer sendiri.

Dalam pertunjukanya,wayang teckhno tidak jauh berbeda dengan pertunjukan wayang purwa,baik dalam lakon (judul),media wayang yang di gunakan ataupun irama musik yang mengiringi sepanjang pertunjukan.
Yang membuat wayang techno berbeda adalah alat musik pengiring yang pada umumnya ada di pertunjukan wayang purwa (alat musik tradisional) tidak bisa di jumpai lagi dalam pertunjukan wayang teckhno,sebab alat musik yang di gunakan sangatlah simple,yaitu dua buah alat musik elektronik modern (elecktone/organ),seperangkat drum dan seperangkat gendang jawa.

Yang menarik untuk di simak dari pertunjukan wayang techno,yaitu adanya kolaborasi seni tradisional klasik dan modern yang di kemas apik dalam sebuah karya seni pertunjukan kontemporer tanpa meninggalkan khasanah budaya dan tradisi ketimuran.
Keluar dari pakem. Begitulah pendapat sebagian orang..!!!
Sebelum melangkah lebih jauh,mari  kita lihat sedikit tentang pakem itu sendiri..???
Pakem dalam bahasa jawa di artikan sebagai pedoman,sehingga dalam tiap pertunjukan wayang purwa seorang dhalang harus memiliki pedoman-pedoman yang di anut dalam tiap pagelaranya,baik di dalam alur cerita/jejer,dialog ataupun tempo irama pengiring dalam pertunjukan wayang.

Saya (pribadi) sebagai penulis yang baru belajar,di sini cuma sekedar iseng bicara sedikit tentang wayang techno dan pakem wayang,meski saya (pribadi) tak mengerti apa arti dan makna sebenarnya,bahkan yang seringkali muncul pertanyaan tentang pakem ketika masih dalam penulisan artikel ini.
Sebenarnya apa makna dari pakem..???
Sebenarnya di dunia ini ada berapa Pakem yang di yakini..???
Sebenarnya siapa pencipta pakem yang di anut oleh banyak orang..???

Maaf..,saya tidak ingin membawa pembaca dalam atmosfir kegalauan ketika meyakini dan menentukan pilihan akan pakem untuk di anut,sebab saya (pribadi) sadar bahwa saya bukan seorang seniman,sastrawan ataupun penulis.
Bocah mbelis hanyalah manusia lumrah yang memiliki banyak kekurangan dan ingin mencari informasi tanpa secarik kertas karena saat ini buku terbilang mahal untuk di beli dalam ukuran kantong bocah mbelis.

Kembali ke wayang teckhno,yang perlu kita garis bawahi tentang wayang teckhno dalam sudut pandang bocah mbelis,bahwa : “Wayang techno merupakan sebuah perkembangan baru dalam sejarah wayang.”
Wayang purwa yang di kembangkan dalam bentuk karya seni modern ini tentunya/mungkin akan mengundang kontroversi di antara para dhalang dan pecinta wayang purwa,namun kita tidak bisa berpaling dari kenyataan bahwa segala sesuatu tanpa terkecuali baik itu tradis ataupun sebuah kebudayaan sekalipun pasti akan mengalami perkembangan dan perubahan mengikuti masanya seiring dengan perubahan dan perkembangan jaman.
Salam..!!!

Note :
  •  Ilustrasi gambar : http://info.mediamadiun.com
  • Ilustrasi Musik : Meh Rahino

Jumat, 03 Februari 2012

Pengertian Pakem Wayang

Pengertian Pakem Wayang
Dalam dunia pedalangan wayang purwa, yang disebut "pakem" ialah cerita "asli" yang kemudian dipandang sebagai "babon" atau "induk" semua lakon atau cerita. Dengan kata lain "pakem" lalu berperanan sebagai semacam tempat penyimpanan lakon (repertoar),sekaligus berfungsi sebagai semacam waduk atau petandoan (reservoar) dari mana lakon-lakon terbit mengalir.


Sebagian oran berpendapat bahwa dunia pedalangan wayang Jawa bersumber pada (atau bahkan boleh dikata) usaha penceritaan ulang atau pembayangan kembali tentang kisah bertumimbalnya hidup,yaitu proses perulangan sekaligus perkembanganya,baik hidup "jagad gedhe",atau dunia semesta,maupun "jagad cilik",atau dunia manusia.

Dalam pandangan pewayangan Jawa,sekaligus Jawa pewayangan,tentang tumimbalnya dua "jagad" itu melalui perjalanan yang sama: lahir – tua – mati. "Lahir" ialah penjadian atau peremajaan "dumadi" ("titah" atau "makhluk"),yang sesudah melalui perjalanan menjadi "tua", akan diakhiri dengan "mati" sebagai jalan pelepasan dari perjalanan ketuaan itu. Begitu manusia atau jagad cilik,begitu jugalah semesta raya atau jagad gedhe. Menurut ajaran mitologi Hindhu "jagad gedhe" ini membawa serta "jagad cilik di dalamnya dan ada dalam kekuasaan satu dewa yang dalam peranannya beraspek tiga: mencipta, memelihara dan memusna.

Tiga aspek kuasanya itu mewujud dalam pribadi tiga dewa – trimurti: Brahma,Wisnu dan Siwa. Brahma sebagai Dewa Pencipta,Wisnu sebagai Dewa Pemelihara,dan Siwa sebagai dewa Pemusnah. Selanjutnya "jagad gedhe" dengan "jagad cilik" terbawa serta,mengalami kisah tumimbal hidup sepuluh kali. Dalam pewayangan masing-masing babakan kisah itu disebut "babad". Wisnu sebagai sang pemelihara jagad, berbeda dengan Brahma sang pencipta dan Siwa sang penghancur, perlu bertumimbal hidup – lahir tua dan mati – bersama para "titah" atau "dumadi" atau "makhluk". Oleh karena itu, dalam dunia pewayangan, setiap babakan kisah atau "babad" akan dipimpin oleh titisan atau "awatara" Wisnu yang berganti-ganti.

Menurut mitologi Hindu-Jawa, ada sepuluh "babad" atau babakan kisah penitisan Wisnu di dunia, yaitu diawali dengan Wisnu menitis sebagai "matsya" atau ikan besar, dan ditutup kelak menitis sebagai danawa Kalki pada awal "kaliyuga" atau "jaman kalabendu", jaman serba sengsara. Tetapi dari sepuluh babakan kisah itu, hanya tiga di antaranya yang dikisahkan dalam rangkaian lakon, untuk digunakan sebagai "wayang", bayangan, "gegambaran" atau suri tauladan, dan selanjutnya diperagakan dengan "boneka" atau "anak wayang" sebagai wahana.
Tiga babakan kisah itu ialah semasa penitisan Wisnu yang keenam, yaitu ketika Wisnu menitis sebagai brahmana yang bersenjata kampak atau Parasurama; penitisan Wisnu yang ketujuh, yaitu Wisnu menitis sebagai Rama raja Ayudhya; dan penitisan Wisnu kedelapan, yaitu Wisnu menitis sebagai Kresna, raja Dwarawati.

Dalam dunia pedalangan wayang Jawa, yang tersebut pertama terhimpun dalam pakem lakon atau babad Lokapala, ketika Wisnu menjelma dalam raga Prabu Harjunasasrabahu; yang tersebut kedua dalam pakem lakon Ramayana, ketika Wisnu menjelma dalam raga Raja Ramawijaya; yang tersebut ketiga dalam pakem lakon Mahabharata, ketika Wisnu menjelma dalam raga Prabu Kresna. Ketiga-tiga "sumber" lakon wayang itulah yang dinamai "pakem".

Dari pakem rangkaian lakon yang panjang ini (Bratayudha saja, misalnya, yaitu bagian akhir dari seluruh rangkaian lakon Mahabharata, memerlukan waktu pergelaran selama tujuh hari tujuh malam) bisa dipecah-pecah menjadi sekian banyak fragmen, yaitu cuplikan atau petikan lakon. Misalnya, dari Babad Lokapala, diambil fragmen "Sumantri Ngenger", yaitu ketika pemuda Sumantri berangkat meninggalkan desanya menuju ke kota untuk menghamba pada Raja Harjunasasrabahu. Atau fragmen "Rama Tambak" dari Ramayana misalnya, yaitu bagian lakon ketika balatentara monyet, di bawah pimpinan seekor monyet putih, Anoman, sebagai panglima, mereka membendung selat antara anak benua Jambudwipa dengan pulau Alengka.

Dengan demikian kita ketahui, dari satu "pakem" bisa lahir fragmen lakon yang tak terhitung banyaknya. Selain dari itu, juga atas dasar "pakem" tersebut setiap dalang mempunyai kebebasan untuk menciptakan lakon gubahan sendiri. Lakon-lakon baru gubahan dalang ini disebut lakon "carangan". Kata "carangan" berasal dari kata "carang", ialah cabang atau ranting dari satu batang bambu — "batang bambu" itulah "pakem", yang bisa dipenggal-penggal dalam seribu-satu penggalan; selain juga menumbuhkan "carang-carang" yang tak terbilang banyaknya.

(Sumber : http://arus.kerjabudaya.org)

Kamis, 02 Februari 2012

Aneka Macam Lakon Dalam Pakem Wayang Kulit

Aneka Macam Lakon Wayang Kulit,Aneka Macam Lakon Dalam Pakem Wayang, Aneka Macam Lakon Dalam Pakem Wayang Purwa.

Pakem Ringgit Purwa Warni-warni:
Lakon-lakon: Peksi Dewata, Gambiranom, Semar Mantu, Bangbang Sitijaya, Wangsatama Maling, Thongthongborong, Srikandhi Mandung, Danasalira, Lesmana Buru Bojone Bangbang, Caluntang, Carapang Sasampuning Prang Baratayuda, Parikesit, Yudayana, Prabu Wahana, Mayangkara, Tutugipun Lampahan Bandung, Carangan Ingkang Kantun Jayaseloba, Doradresanala Larase Semarasupi. Bandhaloba,
Ambungkus, Lahire Pandhu, Lahiripun Dasamuka, Dasamuka Tapa Turu, Lahire Indrajit, Lokapala, Sasrabahu, Bambang Sumantri, Sugriwa Subali, Singangembarawati, Anggit Dalem, Tutugipun Lampahan Wilugangga, Tunjung Pethak, Gambar Sejati, Bangbang Dewakasimpar, Ingkang Serkarta Jalintangan Suksma Anyalawadi, Samba Rambi, Antasena Rabi, Wilmuka Rabi, Partajumena, Wisatha Rabi, Sumitra Rabi, Sancaka Rabi, Antareja Rabi, Pancakumara Rabi, Sayembara Dewi Mahendra, Sayembara Dewi Gandawati, Sayembara Tal Pethak, Dhusthajumena Rabi, Pancadriya Rabi, Rukma Ical, Ugrasena Tapa, Leksmana Mandrakumara Rabi, Ada-ada Bimasuci, Pandhawa Kaobongan, Sembadra Dilarung and Secaboma (59 wayang lakon).

Pakem Ringgit Wacucal:
Lakon-lakon: Kresna Kembang, Sayembara Setyaki, Erangbaya,Kresna Gugah, Prabu Kalithi, Wilugangga, Waosan Panitibaya Lampahipun Para Dewa, Asmaradahana, Karagajawa dan Sudhamala (11 wayang lakon).

Pakem Ringgit Purwa Warni-warni:
Lakon-lakon: Sembadra Edan, Sembadra Larung, Arjuna Besus, Sukma Ngembaraning Sembadra, Peksi Gadarata, Wrekudara Dados Gajah, Cekel Endralaya, Manonbawa, Surga Bandhang, Bangbang Kembar, Bangbang Danuasmara, Palgunadi, Bimasuci, Loncongan, Wrekudara Dipun Lamar, Yuyutsuh, Samba Rajah, Sunggen Wilmuka, Lobaningrat, Anggamaya, Brajadenta Balik, Tapel Sewu, Dewakusuma, Sunggen Gathutkaca, Sugata, Tuguwasesa, Lambangkara, Semar Minta Bagus, Retna Sengaja, Prabu Pathakol, Jayamurcita, Karna Wiguna, Bangbang Supena, Pandhawa Gupak, Gugahan Kresna, Srikandhi Manguru Manah, Kresna Malang Dewa, Bangbang Sinom Prajangga Murca Lalana dan Pandha Widada (42 wayang lakon).

Pakem Ringgit Purwa:
Lakon-lakon: Angruna-Angruni, Mikukuhan, Begawan Respati, Watugunung, Wisnupati, Prabu Namintaya, Nagatatmala, Sri Sadana, Parikenan, Bambang Sakutrem, Bambang Sakri, Bagawan Palasara, Kilatbuwana, Narasoma, Basudewa Rabi, Gandamana Sakit, Rabinipun Harya Prabu Kaliyan Ugrasena, Bima Bungkus, Rabinipun Ramawidura, Lisah Tala, Obong-obongan Pasanggrahan Balesegala, Bambang Kumbayana, Jagal Bilawa, Babad Wanamarta, Kangsa Pragat, Semar Jantur, Jaladara Rabi, Alap-alapan
Surtikanthi, Clakutana, Suyudana Rabi, Jayadrata Rabi, Pandhawa Dulit, Gandamana, Kresna Sekar, Alap-alapan Secaboma, Kuntul Wilanten, Partakrama, Gathutkaca Lair, Setija, Bangun Taman Maerakaca dan Wader Bang (43 wayang lakon).

Pakem Ringgit Purwa Warni-warni:
Lakon-lakon: Sembadra Edan, Sembadra Larung, Arjuna Besus, Sukma Ngembaraning Sembadra, Peksi Gadarata, Wrekudara Dados Gajah, Cekel Endralaya, Manonbawa, Surga Bandhang, Bangbang Kembar, Bangbang Danuasmara, Palgunadi, Bimasuci, Loncongan, Wrekudara Dipun Lamar, Yuyutsuh, Samba Rajah, Sunggen Wilmuka, Lobaningrat, Anggamaya, Brajadenta Balik, Tapel Sewu, Dewakusuma, Sunggen Gathutkaca, Sugata, Tuguwasesa, Lambangkara, Semar Minta Bagus, Retna Sengaja, Prabu Pathakol, Jayamurcita, Karna Wiguna, Bangbang Supena, Pandhawa Gupak, Gugahan Kresna, Srikandhi Manguru Manah, Kresna Malang Dewa, Bangbang Sinom Prajangga Murca Lalana dan Pandha Widada (42 wayang lakon).

Pakem Ringgit Purwa Warni-warni:
Lakon-lakon: Peksi Dewata, Gambiranom, Semar Mantu, Bangbang Sitijaya, Wangsatama Maling, Thongthongborong, Srikandhi Mandung, Danasalira, Lesmana Buru Bojone Bangbang, Caluntang, Carapang Sasampuning Prang Baratayuda, Parikesit, Yudayana, Prabu Wahana, Mayangkara, Tutugipun Lampahan Bandung, Carangan Ingkang Kantun Jayaseloba, Doradresanala Larase Semarasupi. Bandhaloba, Ambungkus, Lahire Pandhu, Lahiripun Dasamuka, Dasamuka Tapa Turu, Lahire Indrajit, Lokapala, Sasrabahu, Bambang Sumantri, Sugriwa Subali, Singangembarawati, Anggit Dalem, Tutugipun Lampahan Wilugangga, Tunjung Pethak, Gambar Sejati, Bangbang Dewakasimpar, Ingkang Serkarta Jalintangan Suksma Anyalawadi, Samba Rambi, Antasena Rabi, Wilmuka Rabi, Partajumena, Wisatha Rabi, Sumitra Rabi, Sancaka Rabi, Antareja Rabi, Pancakumara Rabi, Sayembara Dewi Mahendra, Sayembara Dewi Gandawati, Sayembara Tal Pethak, Dhusthajumena Rabi, Pancadriya Rabi, Rukma Ical, Ugrasena Tapa, Leksmana Mandrakumara Rabi, Ada-ada Bimasuci, Pandhawa Kaobongan, Sembadra Dilarung and Secaboma (59 wayang lakon).

Pakem Ringgit Wacucal:
Lakon-lakon: Kresna Kembang, Sayembara Setyaki, Erangbaya,Kresna Gugah, Prabu Kalithi, Wilugangga, Waosan Panitibaya Lampahipun Para Dewa, Asmaradahana, Karagajawa dan Sudhamala (11 wayang lakon).

Pakem Wayang Purwa I:
Ki Prawirasudirja Surakarta.
Lakon-lakon: Angruna Angruni, Bambang Srigati, Bathara Sambodana Rabi, Hendrasena, Ramaparasu, Setyaki Rabi, Bagawan Sumong, Doradresana Makingkin, Tuhuwisesa, Sridenta, Bratadewa, Jayawisesa, Janaka Kembar, Jayasuparta, Endhang Madyasari, Sekar Widabrata, Samba Rabi, Partajumena Rabi, Calunthang dan Carapang.

Rabu, 01 Februari 2012

Aneka Macam Gagarak Wayang

Aneka Macam Gagarak Wayang
Seperti pada lukisan, dikenal ada lukisan gaya naturalis, gaya super-naturalis, gaya abstrak, gaya modern dan sebagainya. Seperti itu pula permainan alat-alat gamelan yang lazim disebut ‘karawitan’. Bahkan kita pada masa sekarang, juga mengenal sejumlah seniman karawitan dan/atau wayang yang menonjol dalam suatu gagrak tertentu.


Pagelaran gagrak Surakarta
Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Surakarta (Solo), umumnya sangat mengeksploitas permainan alat-alat gamelan yang eksotis, rumit, dan anggun.

Pagelaran gagrak Yogyakarta
Di kalangan masyarakat awam, gagrak Yogyakarta lebih dikenal sebagai gagrak Mataraman. Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Yogyakarta (Mataraman), umumnya sangat mengekspolitas permainan alat-alat gamelan yang bersifat ‘asli Mataram’, penuh kerakyatan, dan penuh kebebasan berkespresi.

Pagelaran gagrak Banyumasan
Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Banyumasan, lebih dikenal karena sangat dekat dengan gagrak Pesisiran. Umumnya menampilkan pagelaran yang bersifat gembira, penuh kelucuan, kerakyatan, banyak menerapkan ‘senggakan’, dan penuh sorak-sorai kegembiraan.

Pagelaran gagrak Semarangan
Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Semarangan, banyak mengeksploitasi gendhing-gendhing berbasis nada pelog. Gagrak Semarangan bisa dikatakan menerima dominasi yang kuat dari gagrak Surakarta. Meskipun demikian, permainan karawitannya yang banyak mengeksploitasi nada pelog, membuatnya sangat berbeda dan berkesan sangat gagah.

Pagelaran gagrak Pesisiran
Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Pesisiran, merupakan bentuk pagelaran yang paling banyak mengeksploitasi permainan gendhing-gendhing yang berbasis nada ‘slendro barang miring’ (bernada minor). Ini merupakan salah satu kekhasan yang umumnya tidak terdapat pada gagrak lainnya. Karenanya, permainan wayang, karawitan, dan vokalnya; cenderung menampilkan warna dan suasana yang sendu, romantis, dan juga sedih.

Pagelaran gagrak Jawa Timuran
Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Jawa Timuran, mempunyai gaya yang sangat khas dan berbeda dengan gagrak-gagrak lain yang berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Barat. Kesan kuat, merdeka, enerjik, dan garang; sangatlah terlihat tidak hanya pada permainan alat-alat gamelannya, tetapi juga pada bentuk-rupa wayangnya.

Pagelaran gagrak Bali
Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Bali, bisa dikatakan benar-benar bebda dengan yang ada di Pulau Jawa. Banyak orang yang tidak tahu, bahwa gamelan Bali yang dipakai sebagai kelengkapan karawitan wayang gagrak Bali, adalah gamelan berbasis tangga-nada slendro, dan memakai ricikan gamelan berupa gender. Karenanya, pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Bali menjadi sangat eksotis dan sangat anggun. Ini akan merupakan pagelaran yang amat sangat berbeda dengan pagelaran tari Bali misalnya (yang sudah sangat terkenal).

Pagelaran gagrak Sunda
Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Sunda, berkembang sangat pesat sejak sekitar tahun 1970-an. Permainan karawitan gagrak Sunda, mulai menerima banyak perubahan sejak masa itu sampai sekarang. Gaya permainan wayang yang sangat mengeksploitasi tokoh-tokoh wayang tertentu, merupakan salah satu kekhasan pagelaran wayang gagrak Sunda masa sekarang.

Pagelaran gagrak Luar Jawa
Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Luar Jawa, seringkali sangat dipengaruhi kondisi geografis, bahasa, dan adat kebiasaan setempat. Karenanya, pada masa sekarang kita bisa melihat gagrak Luar Jawa ini berkembang di beberapa wilayah yang berbeda, dan menghasilkan bentuk pagelaran karawitan dan/atau wayang yang berbeda-beda pula. Misalnya, pagelaran wayang gaya Jambi, Palembang, Banjar-Masin, Lombok, atau lainnya.

Pagelaran gagrak Cirebonan
Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Cirebonan, bisa dikatakan merupakan gabungan beberapa gagrak yang berbeda. Umumnya, merupakan gabungan gagrak Sunda (yang sangat dominan), gagrak Banyumasan (Jawa), dan beberapa di antaranya juga dengan gagrak Betawi. Pengaruh agama Islam dan budaya Cina, terasa sangat lekat dengan berbagai pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Cirebonan.

Pagelaran gagrak Betawi
Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Betawi, secara umum sangat dipengaruhi oleh gagrak Sunda dan budaya Cina.
 
© Copyright 2012 Oca Sulistya
Theme by Oca Sulistya